Sabtu, 10 Februari 2018

Ukhuwwah Banjiriyah Robiyah di Semarang

Banjir rob Semarang, Februari 2018. (Foto: Tribunnews.com)
Oleh M Abdullah Badri

SEMARANG itu kota paradoks. Di tengah perjalanan ke Jepara pada Sabtu (03/02/2018) lalu, saya bungah di jalanan antara Kalibanteng hingga Genuk.

Bagimana tidak, di tengah banjir rob menganga, membuat derita banyak mahkluk Allah bernama motor, truk, mobil, bus, orang Semarang masih bisa melakukan apa yang saya sebut sebagai "ukhuwwah banjiriyah".

Puluhan motor dan mobil yang mogok akibat kerasukan (ini bahasa yang saya pilih) oleh air banjir rob, ada banyak pemuda bertato di sana yang membantu mbak-mbak cantik dan mas-mas lusuh (lagi-lagi, ini bahasa pilihan saya), menghidupkan kembali kendaraan mogoknya.

Saya tidak tahu apakah mereka meminta bayaran atas jasa restart motor mogok tersebut, tapi yang saya lihat adalah kekuatan ukhuwwah di atas banjir.

Di jalan pantura, saya melihat seorang pemuda menenteng ikan sambil membawa pancing setinggi satu mater, berjalan dengan sumringah, mendekati temannya di sebelah sana.

Ternyata, saya melihat dia berhasil mendapatkan ikan segede sandal di jalan penuh banjir rob. Anggapan saya, dia berhasil memancing ikan yang tepar di bawah truk yang kena rob air setinggi lutut orang dewasa. Dia gembira.

Banjir, masih bisa memancing ria. Banjir, masih mau bantu orang lain. Banjir, masih ada yang ingin sedekah starter motor yang lain.

Alhamdulillah, saya bebas dari mogok kala itu. Resepnya satu: gas terus sambil pancal rem.

Kalu masih kena mogok, menepi saja ke warung, ngopi, lalu ambil kursi, duduk, nikmati banjir yang sedang beribadah menjalankan tugasnya: mengingatkan manusia kalau air itu arusnya harus dijaga. [badriologi.com]
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar