![]() |
| Pengajian dalam rangka Tahun Baru Islam dan Santunan Yatama di Paren, Mayong, 25 Juni 2026. |
Oleh M. Abdullah Badri
BANYAK orang yang takut ketika turun ayat yang menjelaskan ancaman neraka sa'ir (yang apinya menyala) bagi orang-orang yang berbuat dhalim memakan harta milik anak yatim berikut ini:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا
Terjemah:
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya". (QS. An-Nisa':10)
Rasulullah Saw sendiri juga diriwayatkan telah bersabda bahwa orang yang memakan harta anak yatim, di Hari Kiamat kelak, ia akan bangkit dari kubur yang dipenuhi asap. Begitu pula mulut, hidung, kedua telinga dan kedua matanya, akan dipenuhi asap. Tanda inilah yang bakal dikenali orang-orang sebagai bentuk siksa manusia yang telah memakan harta anak yatim secara dhalim.
Karena takut akan ancaman tersebut, banyak orang pun akhirnya memilih meninggalkan merawat anak yatim. Yang awalnya mau menanggung hidup mereka, berhenti. Tak ada yang melindungi mereka lagi. Bahkan, banyak aghniya' memilih selamat dengan tidak lagi mengurus dan berkumpul secara komunikatif dengan anak yatim yang awalnya mereka tanggung.
Untuk menghentikan kekhawatiran mereka, turunlah ayat:
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰىۗ قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌۗ وَاِنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِۗ
Terjemah:
"Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, "Memperbaiki keadaan (ishlah) mereka adalah baik". Jika kamu mempergauli mereka, mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan". (QS. Al-Baqarah: 220).
Ayat itu memberi arahan bahwa merawat anak yatim, menanggung kebutuhan hidup dan pendidikan mereka bukan hanya sedekah biasa, tapi ada ishlah (memperbaiki) masa depan. Maka, ketika kamu takut melakukan perbuatan dhalim, batasilah dirimu bahwa untuk bisa menolong anak yatim, cukuplah berniat ishlah. Jangan memanfaatkan kesempatan terutama kepada anak yatim yang memiliki banyak harta warisan orangtuanya.
Kata Allah Swt, jika kamu mempergauli anak yatim, memberikan harapan masa depan, maka, mereka adalah ikhwanukum (saudaramu) dalam agama. Bukti bahwa kamu adalah saudara anak yatim, bantulah mereka dengan kemampuanmu. Jangan takut bila niatmu hanya ishlah. Jangan urusi harta yatim (kecuali walinya saja). Urusilah kebutuhan mereka.
Orang yang mengurusi kebutuhan yatim inilah yang disebut dalam istilah syariat sebagai kafilul yatim (penanggung kebutuhan anak yatim). Kata Rasulullah Saw, kafilul yatim dekat dengan Beliau Saw:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Terjemah:
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini," lalu Nabi Saw memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan merenggangkan keduanya sedikit.
Selain berbuat ishlah, menjadi kafil yatim memiliki keutaman khusus bisa melembutkan hati, mengubah yang keras jadi lembut. Kata Rasulullah Saw:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
Terjemah:
"Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim".
Karena itulah, pada momen 10 Muharram, biasanya ada tradisi ngelus-ngelus sirahe cah yatim oleh para donatur santunan yatama. Bodhone cah yatim memang 10 Suro. Tapi, sebaiknya bukan hanya menjadi donatur sesaat saja. Kalau diberi kemampuan rejeki, jadilah kafil yatim dengan:
- Menjadi penanggung kebutuhan pendidikan mereka hingga lulus, atau
- Menjadi orangtua angkat mereka.
Itulah yang menurut saya akan dekat dengan Rasulullah Saw, dalam dawuhnya "fil jannah hakadza". Meskipun baik, menjadi donatur dadakan 10 Suro masih saya kategorikan sedekah saja. Bukan berbuat "ishlah" (memperbaiki kehidupan mereka). Ishlah adalah menjadi kafil yatim. [badriologi.com]
Keterangan:
Artikel ini saya sarikan dari Kitab Tafsir At-Thibi, Futuhul Ghaib karya Imam Husain bin Abdullah At-Thibi di Jilid 2 (hlm. 362) dan Jilid 4 (hlm. 454), dan saya jadikan materi utama ngaji dalam agenda Santunan Yatama di Masjid Baitul Muttaqin, Paren, Mayong, Jepara, malam Jumat 25 Juni 2026.





