Madinah Bebas Tho'un dan Dajjal (Hadits Kedua Kitab Arba'in Buldaniyah Abu Thahir As-Silafi) -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Madinah Bebas Tho'un dan Dajjal (Hadits Kedua Kitab Arba'in Buldaniyah Abu Thahir As-Silafi)

M. Abdullah Badri
Selasa, 23 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
madinah bebas dari penyakit thoun dan jejak dajjal
Hadits Kedua Kitab Arba'in Buldaniyah (yang bisa pre-order).


Oleh M. Abdullah Badri


HADITS Kedua dalam Arba'in Buldaniyah karya Al-Hafidz Abu Thahir As-Silafi membincang tentang bebasnya Kota Madinah dari wabah tho'un dan dajjal. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: 


عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِيْنَةِ الْمَلَائِكَةُ لَا يَدْخُلُهَا الدَّجَّالُ وَلَا الطَّاعُوْنُ


Terjemah:

"Para malaikat menjaga pintu masuk Kota Madinah Al-Munawwarah. Dajjal maupun wabah tho'un tidak akan bisa masuk ke sana".


Penjelasan Hadits

Dulu, sebelum Rasulullah Saw hijrah, kota Madinah bernama Yasrib (يَثْرِب). Artinya tercela dan terkutuk (التَّوْبِيْخُ وَالْمَلَامَةُ). Akar katanya dari tsaroba (ثَرَبَ) yang artinya kerusakan. Nama ini diambil dari seorang dari Amaliq yang pernah menetap di tanah tersebut. Namanya Yatsrib bin Umail bin Mahla'il. 


Nabi Saw tidak menyukai nama tersebut. Beliau Saw menyukai nama-nama yang baik, sebagaimana kebiasaan beliau mengganti nama, misalnya Ashiyah (durhaka) dengan jamilah (cantik). Yasrib kemudian diberi nama oleh Rasulullah Saw: 


  1. Madinah Al-Munawarah (kota yang bersinar),
  2. Thabah (baik),
  3. Thaibah/Thayyibah (bersih),
  4. Ad-Dar (kota), atau
  5. Al-Muhabbabah (yang dicintai). 


Jika Nabi Ibrahim as memuliakan Makkah dan mendoakan penduduknya (رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِYa Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya | QS. Al-Baqarah: 126), Rasulullah Saw mendoakan Kota Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim as. 


Ini terjadi setelah Rasulullah Saw hijrah dan berinteraksi langsung dengan penduduk Madinah. Dengan mengganti nama tersebut, Rasulullah Saw ber-harap agar Madinah menjadi kota yang disucikan dari kesyirikan, kekufuran, aman dan bersih. Hanya orang-orang yang diteguhkan imannya dan mencin-tainya dengan sungguh sajalah yang langgeng membersamai Rasulullah Saw saat hijrah ke Madinah. 


Makruh menyebut Yasrib setelah penyematan nama Madinah oleh Rasu-lullah Saw. Sebab, dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw pernah bersabda: 


مَنْ سَمَّى الْمَدِيْنَةَ يَثْرِبَ فَلْيَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ، إِنَّمَا هِيَ طَابَةٌ، هِيَ طَابَةٌ


Terjemah:

"Siapa saja yang menyebut kota itu Yatsrib, hendaknya memohon ampun kepada Allah. Kota itu adalah Thabah. Kota itu adalah Thabah". (HR. Ahmad). 


Meskipun begitu, Allah Swt masih menyebut nama Yatsrib dalam Al-Qur'-an, tapi ayatnya bukan untuk legitimasi, namun hanya menghikayatkan orang munafik (kelompok Aus bin Qoidli) yang ingin kembali (lari) dari barisan perang Ahzab, yang terjadi pada tahun 5 H: 


وَإِذْ قَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا


Terjemah:

"(Ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, "Wahai penduduk Yasrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu. Maka, kembalilah kamu!" Sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Padahal, rumah-rumah itu tidak terbuka. Mereka hanya ingin lari (dari peperangan)". (QS. Al-Ahzab: 13). 


Selain berharap kebaikan, dalam hadits kedua Kitab Arba'in Buldaniyah ini, Nabi Muhammad Saw juga menjamin dua hal untuk Kota Madinah, yakni: aman dari wahab tho'un dan aman dimasuki dajjal di akhir zaman berkah dijaga oleh malaikat yang khusus menjaga Kota Madinah, untuk memuliakan Rasulullah Saw. 


1. Aman dari Wabah Tho'un

Di awal hijrah, Abu Bakar ra dan Bilal bin Rabah ra terserang demam. Sayyidah A'isyah ra mengabarkan hal ini kepada Rasulullah Saw. Lalu, Rasulullah Saw mendoakan keduanya sekaligus mendoakan keberkahan Kota Madinah. Berikut ini doanya: 


اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، وَصَحِّحْهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِهَا وَمُدِّهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ


Terjemah:

"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah, atau bahkan lebih dari itu. Sehatkanlah Madinah untuk kami. Berkahilah kami pada sha' dan mudd kami. Dan pindahkanlah wabah demamnya ke daerah al-Juhfah". (HR. Bukhari-Muslim). 


Dari hadits ini, kita mengetahui bahwa Rasulullah Saw sangat mencintai Kota Madinah. Maka, wajar bila Beliau Saw mendoakan Madinah bebas dari wabah tho'un. Secara mudah, tho'un, sebagaimana ditulis oleh pensyarah Arba'in Buldaniyah, ialah:


بثر وورم مؤلم جدا ويسوّدها ما حوله أو يخضّر أو يحمّر حمرة بنفسجية ويحصل معه خفقان القلب والقيء.


Terjemah:

"Bisul dan bengkak menyakitkan, yang area sekitarnya bisa berubah menjadi hitam, hijau, atau merah keunguan, disertai dengan jantung berdebar dan muntah-muntah".


Dalam istilah kedokteran modern, tho'un lebih spesifik daripada wabah (الوباء). Tho'un pasti wabah, tapi tidak semua wabah adalah tho'un. Tho'un lebih mematikan daripada wabah. 


Tho'un sebagaimana disebut dalam khazanah Islam klasik identik dengan pes (plague), yakni infeksi bakteri yang mudah menular dan menyebabkan demam tinggi mendadak, tubuh menggigil, sehingga mengakibatkan bengkak getah bening (bubo), terutama di bagian di leher, ketiak atau selangkangan. Hal ini bisa mengakibatkan black death (maut hitam) secara massal. Di Eropa abad pertengahan, tho'un pernah memakan korban jutaan orang. 


Dalam hadits lain riwayat Abu Musa Al-Asy'ari ra, Rasulullah Saw pernah menyatakan bahwa tho'un adalah serangan musuh kaum muslimin dari kalangan jin. Karena itulah, orang yang mati sebab tho'un, disebut syahid. 


فَنَاءُ أُمَّتِيْ بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُوْنِ. قَالَ: فَقُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللّٰهِ، هٰذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ، فَمَا الطَّاعُوْنُ؟ قَالَ: طَعْنُ أَعْدَائِكُمْ مِنَ الْجِنِّ، فِيْ كُلٍّ شَهَادَةٌ


Terjemah:

"(Rasulullah Saw berkata): Kehancuran umatku akan terjadi melalui serangan dan wabah penyakit. Perawi berkata, kami kemudian bertanya: Wahai Rasu-lullah, kami tahu apa itu serangan, tapi apakah yang disebut sebagai tho'un? Beliau Saw menjawab: "Itu adalah serangan musuh-musuhmu dari kalangan jin, dan di setiap serangan itu, ada kesyahidan"." (HR. Ahmad).


Nabi Muhammad Saw menjamin Kota Madinah tidak akan pernah mengalami wabah tho'un selamanya, sebab, sudah dijaga oleh para mala'ikat. Sejarah membuktikan, di kala banyak kota mengalami wabah tho'un, Kota Madinah selalu selamat darinya.  


2. Aman dari Jejak Langkah Dajjal

Dajjal artinya menutupi. Dialah sosok pembohong besar yang menutupi kebenaran dengan menampakkan kebatilan. Dalam banyak riwayat, dajjal ini memiliki kemampuan luar biasa yang membuat banyak orang terkagum sehingga menjadi pengikutnya. Antara lain:


  1. Menghidupkan orang mati yang telah dibunuhnya,
  2. Kemakmuran menyertainya,
  3. Menampakkan sengsara neraka sebagai surganya,
  4. Kekayaan bumi mengikutinya,
  5. Menurunkan hujan dari langit,
  6. Membuat bumi bisa menumbuhkan tanaman. 


Dajjal muncul di akhir zaman sebagai tanda kiamat besar, yang kehadirannya, dengan kemampuannya yang luar biasa, menjadi ujian berat manusia. Dajjal digambarkan sebagai sosok yang matanya seperti buang anggur melayang (كأنّ عينه حبة عنب طافية). Bermata satu, pece (Jawa). 


Menurut riyawat yang diyakini oleh ahlussunnah wal jama'ah, setelah Dajjal mampu menghidupkan orang mati yang telah dibunuhnya, ia tidak akan bisa mengulanginya lagi. Sebelum hal ini terjadi, dajjal sudah menjejakkan kakinya ke seluruh bumi. 


Menurut sahabat Anas bin Malik ra, ketika dia menuju ke suatu tempat rawan banjir yang dipenuhi garam yang ada di sebelah Barat Laut Kota Madinah, bumi mengalami gempa (hingga tiga kali). Orang-orang munafik dan kafirin Madinah akhirnya terpental jasadnya, dari kuburan mereka. Madinah bebas dari orang munafiq dan orang kafir. 


Dajjal akhirnya tidak bisa menjejakkan kakinya ke Kota Madinah. Oleh para malaikat, dajjal kemudian dipalingkan mukanya ke daerah Syam (Palestina). Saat inilah, dalam keyakinan ahlussunnah wal jama'ah, Nabi Isa as turun dari langit kedua ke bumi dan membunuh Dajjal di gerbang Lud/Lod (بَابُ لُدّ), Palestina. 


Dari peristiwa inilah, kita memahami bahwa Kota Madinah akan selalu dijaga Allah Swt dari fitnah badan berupa tho'un dan fitnah akhir zaman berupa dajjal. Dua fitnah yang sangat mematikan. [badriologi.com]


Keterangan:

Artikel ini adalah materi Terjemah dan Syarah Arba'in Buldaniyah, yang sudah saya sampaikan dalam rutinan Ngaji Majelis Macan di Demaan, Senin malam, 22 Juni 2026 (tadi malam). Jika Anda ingin pre order, boleh! Hari ini baru saya tulis hadits ke-32. Kurang 8 hadits lagi rampung. 


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha