![]() |
| Jepara Magak: Ngaku Agamis Tapi Royal Orkesan. |
Oleh M. Abdullah Badri
Walaupun saya tidak setuju wacana Gusjigang (Bagus, Ngaji, Dagang) dikaitkan sebagai tinggalan Mbah Sunan Kudus Sayyid Jafar Shadiq kepada warga Kudus, namun, setidaknya, Gusjigang bisa menggambarkan sebagian kecil karakter orang Kudus yang kini justru banyak menjadi buruh pabrik, tidak berdagang.
Tapi, untuk menggambarkan masyarakan Jepara, saya sendiri sulit merumuskan konsepnya. Disebut agamis, nyatane seneng orkesan dan mabuk. Disebut industri kayu, nyatanya banyak yang tidak bertahan. Disebut sebagai kota dengan banyak pengrajin, nyatanya tidak banyak pemahat, pengrajin tenun troso, monel, rotan, kentheng dan lainnya yang bisa diwariskan ke generasi sekarang.
Wong Jeporo itu magak. Ora kono, ora kene. Gelem ngene, gelem ngono. Bayangkan tah, ada satu keluarga yang mondoknya bertahun-tahun, begitu di rumah, yo doyan ngombe sedurunge jama'ahan. Santri tapi mendeman. Kuwi yo ono. Magak tenan.
Maklum, di masa kolonial, Jepara itu diserahkan Mataram ke Belanda. Akhirnya, tidak ada ikatan langsung kepada Mataram Islam, tapi pihak Mataram sering mengirim utusan ke Jepara untuk berdakwah. Setidaknya, di antara utusan Mataram di zaman Belanda yang dapat saya temukan ialah Mbah Agung Alim (Tubanan) dan Mbah Sani Barkah/Senu (Troso).
Akhirnya, karakter masyarakatnya pun hibrid. Gaya hidup eropa mau, tapi meninggalkan budaya dan adat Islam Jawa, enggan. Ke kiai segan, tapi penghormatannya tidak terlalu tinggi. Taat agama kadang-kadang, tapi maksiat tidak sungkan ditampakkan. Begitulah yang tampak di Jepara, meskipun ini tidak mutlak.
Dalam agenda Obrolan Cerdas (Obras) bertema "Suronan Tanpa Mitos" kemarin (Selasa, 16 Juni 2026), di Mushalla Joglo Pecangaan Kulon, milik Gus Adib Mahfudz, fenomena Jepara itu bisa disamakan dengan penganut kepercayaan di Jepara yang diteliti oleh senior kami, Mas Joko TH dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Menurutnya, ada 40an orang di Jepara yang ber KTP sebagai penganut kepercayaan dimana mereka ada yang mengucap kalimat Tauhid, tapi tidak shalat. Sebab, cukup langsung ke Allah tanpa wasilah Nabi Muhammad Saw, mereka bisa wushul sampai ke Tuhan, yang tidak personal.
Keyakinan ini sebetulnya adalah tinggalan para wali yang belum lengkap untuk ukuran sekarang. Dulu, para wali yang berdakwah itu menganggap siapapun yang mengucap La Ilaha IllaAllah sebagai mukmin, meski tanpa shalat dan zakat. Minimalis.
Menurut Imam Ahmad bin Hambal, Islam memang bisa diterima dengan syarat yang fasid (rusak) seperti ini. Inilah yang sepertinya dijadikan pedoman Walisongo menerima keislaman orang Jawa di masa itu. Bahkan, menurut Mas Joko, ini adalah Islam bentuk final di zaman Walisongo. Setelah syahadat, barulah belajar shalat, zakat, puasa dan syariat haji.
Nah, orang-orang yang tidak ngaji setelah syahadat inilah yang disebut sebagai Islam Kejawen. Jawanya lebih kelihatan daripada Islamnya. Kini, sebutan mereka adalah penganut kepercayaan. Bukan penganut Islam. Cara pemakamannya pun mujur ngulon ngetan. Di Jepara, penganutnya lebih banyak daripada penganut Agama Konghucu.
Karakter Wong Jeporo sewelas rolas dengan penganut kepercayaan ini. Syahadat, tapi banyak yang malas bersyariat. Banyak yang rajin shalat, tapi tetap royal saat ada orkesan, mabukan, dan tanpa malu gelut di lokasi hiburan. Julukan apa yang pas untuk karakter magak begini? Sanorat (Syahadat No Syariat)?
Ah, mboh! []





