Oleh M. Abdullah Badri
NGILANGI kebodohan, kata guru saya di Madrasah TBS Kudus, adalah mustahil. Bisanya hanya mengurangi kebodohan. Sama halnya menghilangkan maksiat, itu mustahil, yang bisa saya lakukan hanya menguranginya.
Saya tidak muluk-muluk menghilangkan seluruh orkes dan maksiyut di Jepara. Angel, iya. Sebab, antara penguasa, pengusaha, aparat, saling mendukung dan tersandera secara politik. Walaupun mereka punya cara mengurangi maksiat, kalau ada cuan, ora bakal iso.
Apakah saya diam mendengar ada kiai menghamili santrinya? Sebagai santri, saya tidak bisa diam demi menjaga nama kiai. Makanya, saya mengkritik fenomena ini, dan menjangkau jutaan view, yang tidak dibaca oleh ojing kagetan.
Apakah saya kudu diam melihat orkes di Hari Tasyriq yang dipenuhi maksiat? Tidak bisa. Ketika diam, justru saya salah. Sebab, saya punya strategi dan caranya. Yang saya lakukan hanyalah secuil gaya saja dalam melawan kemungkaran dengan tangan, sebisanya. Sebab, petinggiku sudah diingatkan para tokoh dan warganya sendiri, namun dekne mecece.
Nek weruh kemungkaran mung kon donga, iki tak weki dongane. Ben ojing tobat:
اللَّهُمَّ اهْدِ عُصَاةَ الْمُسْلِمِينَ، وَرُدَّهُمْ إِلَى دِينِكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَافْتَحْ قُلُوبَهُمْ لِلتَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ الْمَعَاصِيَ وَالْمُنْكَرَاتِ. اللَّهُمَّ مَنْ ابْتُلِيَ بِشُرْبِ الْمُسْكِرَاتِ فَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَجَوَارِحَهُ، وَارْزُقْهُ تَوْبَةً نَصُوحًا، وَثَبِّتْهُ عَلَى طَاعَتِكَ. اللَّهُمَّ وَمَنْ شَغَلَتْهُ الْمَلَاهِي وَاللَّهْوُ عَنْ ذِكْرِكَ وَطَاعَتِكَ فَأَعِنْهُ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِهِ يَوْمَ يَلْقَاكَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ، وَاجْعَلْنَا جَمِيعًا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
Akhiri dengan sholawat. Woconen bar sholat nek ente tenanan, wahai yang japri saya.
![]() |
| SS 1 yang japri saya di Facebook. |
![]() |
| SS 2 yang japri saya di Facebook. |
![]() |
| SS 3 yang japri saya di Facebook dan jawaban saya. |
Iki dunya, ora cukup mung dunga.
Ingatlah, rusaknya umat-umat Nabi terdahulu sebab tidak ada perintah amar makruf nahi mungkar. Tugas ini ada di umat Nabi Muhammad secara khususiyah. Semoga yang saya lakukan, walaupun secuil, bakal diterima Allah, dan ketika ditanya kelak, "kamu sudah lakukan apa ketika melihat saudaramu berbuat maksiat?" Saya bisa menjawab dengan mudah.
Efeknya terasa atau tidak, kalian ukur sendiri. Saya tidak punya urusan dengan itu. Yang penting saya melakukan apa yang mampu saya lakukan, dengan risiko yang saya sadari. [badriologi.com]







