Jangan Picik Menilai Pengkritik -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Jangan Picik Menilai Pengkritik

M. Abdullah Badri
Kamis, 04 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
jangan menilai miring tukang kritik
Jangan Picik Menilai Pengkritik.


Oleh M. Abdullah Badri


PENGGUNA Facebook kalangan ojing itu aneh. Saya kritik Orkes di Ngabul, tapi cara mereka menolak kok dengan alih isu ke kiai c4bul. Mereka tidak membaca bahwa saya telah menulis kritik tajam terkait fenomena itu dengan judul yang lumayan pedes-pedes. Dan menjaukau jutaan views. Judul yang saya tulis: 


  1. Jika Kiai Pengasuh Santri Hilang Rasa Malu
  2. Empat Jenis Kiai yang Harus Dihindari
  3. Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi
  4. Jangan Beriman Kepada Kiai Klenik Halu
  5. Godaan Kiai Cluthak dan Jelalatan
  6. Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong


Semuanya saya tulis di akun Facebook pribadi saya ini. Dan saya dokumentasikannya di blog pribadi: badriologi.com ini. Kalau mau baca lagi, dan cek komentar-komentarnya, silakan scrol akun saya ini, atau mampir ke blog saya itu. Cetho welo-welo, blas saya tidak mendukung. 


Dan uniknya lagi, akun Facebook yang mengkritik saya itu rata-rata akun Facebook penyuka maksiat atau akun yang tidak jelas aktivitasnya. Saya kadang cek beranda mereka. Harusnya saya tidak perlu meladeni mereka, tapi, karena ini terkait tanggungjawab saya, saya menulis coretan ini. 


Ketauilah, meskipun saya pernah menjadi pengurus NU Jepara, pada Juni-Juli 2023 saya juga menulis kritik kepada PCNU Jepara ketika mulai mendirikan rumah sakit dengan menarik iuran wajib yang memberatkan. Nama RS nya pun diubah. Ini mengecewakan banyak orang. Judulnya, antara lain: 


  1. RSNU Jepara Belum Berdiri, NU Sudah Jadi Petilasan
  2. Sempoyongan Mengurai Skenario RSNU Jepara
  3. Praktik Lazim Wakaf Kolektif Tanah
  4. Cara Cepat Berburu RS Label NU
  5. Bila NU Jadi Balbalan "Ora Sudi Urunan RSNU"
  6. Hukum Wakaf Kolektif (Jama'i) dengan Talangan Kredit Berbunga
  7. Meluruskan Syubhat RS(N)U Jepara dengan Tafakur Uqul


Semuanya bisa Anda baca di blog pribadi saya ini. Selain mengkritik Orkes dan RSNU Jepara, pada akhir tahun 2024, saya juga mengkritik Ba'alwi yang suka ndawir (ngemis minta duit). Diantara judulnya: 


  1. Ndawir Tradisi Orang Fakir
  2. Majelis Fulus yang Justru Tarik Fulus
  3. What, Habib Galon Ngaku Dididik Langsung oleh Nabi Khidzir?
  4. Maulid Fulus Batal di Ngabul dan Pindah ke Troso
  5. Beban Adab Pemilik Bonus Nasab Syarif
  6. Shalawat Fulus yang Ironis (Ingin Mendekat Tapi Untuk Menjauh)
  7. Kadhaliman Mahabbah Karena Salah Tempat
  8. Ndawir Akut Syafiq "Idrus" Gedabrus


Tentu saja tanpa risiko. Ketika mengkritik Orkes, ancaman saya akan dikepruki langsung juga muncul. Begitu pula ketika mengkritik RSNU yang sekarang jadi RSU Aseh, di atas rumah biasa ada bunyi cethar seperti bledek. Yang paling parah adalah ketika saya mengkritik Ba'alwi, saya kena serangan langsung sampai koma di Rumah Sakit dan menjalani perawatan ber-bulan bulan. 


Saya berniat mengumpulkan semua esai saya itu jadi buku, sebagaimana perlawanan saya kepada Wahabi di Ngabul, Wahabi Karimunjawa (Alang-Alang) dan Ustadz UAS antara tahun 2016-2018, yang saya dokumentasikan jadi buku "Meneguhkan Jepara Bumi Aswaja". 


Pada November 2023 - Februari 2024, saya tiga bulan diminta menghadapi cah Khilafatul Muslimin (KM) yang dibondho Polres Jepara agar mereka kembali ke NKRI, juga saya dokumentasikan dalam Buku "Sejarah Wafat dan Tertundanya Pemakaman Rasulullah Saw". 


Sengaja saya jadikan buku, sebab saya tidak Ttd tandatangan kerjasama dengan Polres Jepara kala itu. Ketika menghadapi KM, rumah saya sampai pernah dijaga polisi 24 jam karena ada kabar akan dicegat di jalan dan ingin mengakhiri riwayat saya. Tapi alhamdulillah aman.  


Saya mengklaim, tidak akan ada yang berani mengkritik terbuka, baik online maupun off-line, baik bentuk tulisan, video atau debat langsung seperti kasus KM, bila urusan dapur belum selesai. Dan tidak akan punya misi bila tidak punya batas harokah (gerakan) yang benar. 


Sejak lama saya mewakafkan diri untuk amar makruf nahi mungkar tapi tetap ngaji. Risikonya ya miskin. Dan ini sebetulnya saya warisi dari kakek saya, Abdul Hadi, yang pernah menghadapi PKI dan Orde Baru. Sebab kritik, yang pernah saya mengalami kerugian psikologis, antara lain: 


  1. Meh dibedhil,
  2. Meh dikepruki,
  3. Meh dipenjara,
  4. Dilaporkan ke Reskrimsus Polda Jateng,
  5. Digeruduk satu dua mobil (ini paling sering terjadi),
  6. Digeruduk orang bawa berang,
  7. Dijauhi pro status quo,
  8. Dihalangi akses semua bidang (ini risiko pasti). 


Tapi, masih saja ada orang sok nggaya menyebut saya cari gara-gara, dianggap tidak kebagian jatah dan karenanya saya mengkritik Orkes. Buat apa dapat jatah dari aktivitas harom. Saya berkali-kali dapat uang syubhat tanpa kerja dan berkali pula saya terima lalu saya berikan sebagai sedekah ke orang lain. Mungkin nilainya puluhan juta. Yang penting tidak buat belanja istri saya dan tidak jadi asupan makanan buat anak-anak saya. 


Saya agak mengikuti madzhab Bapak saya, Muhammad Badri, yang enggan memakan nasi berkat bahkan dari kalangan pegawai negara yang mengundangnya jadi imam tahlilan hajatan. Berkatnya diterima, tapi disimpan di kandang ayam sampai bosok, sak amplope. Saya pernah menghitung, jumlah kardus berkatnya mencapai puluhan berkat. 


Bagi Bapak, gaji pagawai itu syubhat. Ektrim memang. Tapi saya meyakini itu sebagai bentuk kehati-hatian. Mending ngelih daripada mengambil harta syubhat, apalagi harom. 


Bagi kalian yang menuduh saya mengkritik orkes di Ngabul sebab tidak mendapatkan jatah, silakan datang dan buktikan ke saya. Saya bukan siluman. Saya punya alamat rumah: Jl. Marsam No. 9 Ngabul Rt 3 Rw 3 Tahunan Jepara 59451. 


Hingga hari ini, yang mengkritik saya beraninya hanya di komentar. Tidak berani menjapri dan tidak ada yang datang langsung ke rumah saya. Kok yo do cemen tenan! [badriologi.com]


M. Abdullah Badri, Ketua PC MDS Rijalul Ansor GP. Ansor Kabupaten Jepara


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha