![]() |
| Ilustrasi pelengkap artikel. |
Oleh M. Abdullah Badri
OTORITAS kegamaan sedang dipertaruhkan. Ada pengasuh pesantren yang terlibat asusila ghoiru ma'fu (tak bisa diampuni). Dua tahun belakangan, di pantura, kasus yang viral lumayan. Di Mijen, Demak, Abdullah Mujazi divonis 10 tahun penjara akibat liwath ke puluhan santrinya laki-laki.
Di Tahunan, Jepara, kiai berinisial AJ juga sempat viral dianggap melakukan giat haram kepada santriwati seniornya. Kasus ini belum masuk ke persidangan, tapi cukup ramai. Makanya saya hanya pakai inisial. Modin Bringin, Batealit pun mundur karena terseret kasus serupa. Ini belum kasus habib-habib di Jepara, yang saya tahu, isu mereka tidak muncul sebab negosiasi dan tahdzir.
Terbaru, Ashari, Pati. Dia diseret polisi karena kasus manuk ucul separan-paran kepada puluhan santrinya. Sempat melarikan diri, dan akhirnya tertangkap di Wonogiri. Di Kudus pun saya juga mendengar kasus serupa yang melibatkan guru madrasah, tapi tidak sempat viral. Mungkin ada angpau tutup mulut.
Dari beberapa kasus yang saya sebut, saya pernah bertemu pelakunya. Dan saya nyatakan, di antara mereka itu, ada yang bukan orang bodoh. Bahkan ada yang alim bahtsul masa'il atau ahli nasehat. Saya pernah dites baca Syarah Ihya' (Ithaf Sadat Muttaqin) oleh salah satu pelaku. Ngomonge ke saya ya Bahasa Arab, jal. Artinya, secara nasab ilmu, mereka saya duga ada yang nyambung sanad ke Rasulullah Saw loh. Tapi, mengapa mereka kalah dengan manuknya yang nakal?
Pertama, barangkali karena kultur keagamaan Nusantara itu masih kental dengan kultus. Ashari misalnya, banyak orangtua memondokkan anaknya ke Ndolo Kusumo (pesantrennya) hanya karena dia dianggap waliyullah. Dan standar walinya itu gaib: bisa menebak kapan orang mati, kapan anak lahir, dan semacamnya. Padahal, dukun pun bisa melakukan hal serupa.
Jadi, ukuran alim bergeser kepada keramat ndolohok. Ini yang bahaya. Se alim apapun, jika tidak keramat, wong Jowo seolah lebih berhak tidak percaya. Padahal, keramat itu hasil istiqomah. Lihatlah, jika ada yang istiqomah dari kiai, kok dia keramat, mungkin dia di jalan yang benar. Ini saja masih mungkin loh yah. Sebab, ini perkara gaib.
Kedua, kita masih terjebak simbol agama. Dengan mudahnya orang disebut kiai sebab bisa tahlilan, ngimami mushalla, sering pakai surban, sering tampil di mimbar nasehat, apalagi punya pondok pesantren. Semuanya ini dekat dengan simbol agama dan akhirnya, dipercaya sebagai penggembleng pendidikan agama anak.
Akibat kedua ini menimbulkan sikap fanatik. Muncul ucapan: "tidak mungkin lah kiai seperti itu", "Ah, kamu hanya fitnah belaka", "Jangan buka aib kiai donk". Padahal, mereka ini manusia. Yang bisa salah, dan bisa kalah nafsu.
Ketiga, pesantren dianggap tempat suci dan pengasuhnya orang suci. Jare sopo? Diapain juga, pesantren masih bisa dijual. Artinya, pesantren adalah harta. Saya punya kawan sesama alumni pesantren yang terpaksa menjual pesantrennya karena terlilit hutang. Kasus ini bahkan terjadi di puluhan lokasi di Jawa Tengah. Kabarnya, Gus Wagub punya banyak pesantren yang tersebar karena dialah yang nomboki kala ada pesantren dijual. Haha.
Barangkali, pesantren yang mereka dirikan tidak berdasarkan ikhlash Lillah. Dulu, kiai membangun pesantren karena dititipi anak ngaji dan tidak punya tempat, akhirnya, sang kiai buat kamar-kamar santri, yang kemudian disebut "gothakan" karena bentuknya kotak persegi. Kini, mantan Bupati goblok agama saja bisa buat boarding school dengan duit miliaran lalu mempekerjakan pengajar pintar alumni pesantren saya. Saya pernah temukan ini di Jepara dan Boyolali. Bangunannya lantai tiga, tapi sepi santri.
Selain itu, pesantren kini banyak yang beroperasi seperti PT dan CV. Semakin banyak santrinya, semakin banyak hasilnya. Saya pernah punya teman kiai, dulu, katanya, ketika santri masih kurang 100 orang, dia bisa hasilkan uang 7 juta dari penyediaan makanan perbulan. Kini, setelah 200an orang, ya makin banyak lah tentunya. Oleh sebab itulah, ada kiai yang tidak peduli apakah santrinya berakhlak, pinter, atau bodoh. Yang penting ada bulanan masuk. Piye neh. Ngene iki pancen!
Jika pesantren diasuh bukan oleh warotsatul anbiya' (ilmu, akhlak, amanah dan kasih sayangnya seperti Nabi serta punya khosyah -takut pada Allah), wajar bila pesantren setara dengan pendidikan umum seperti SMA, tidak bermarwah, dan sulit melahirkan generasi penerus Nabi Saw yang diakui.
Ini diperparah dengan tradisi kumpulan gawagis dan nawaning (anak kiai - lanang wedok), yang lebih suka membincang lawan jenis, proyek, dan barang branded daripada diskusi ilmu. Saya sepakat kumpulan gawagis dibubarkan saja. Sok ekslusif, tapi kopong. Rawan cekcok antar pasangan. Mereka ini tidak malu, malah malu-maluin generasi kakek mereka.
Orang berilmu kok maksiat, risikonya lebih berat di akhirat. Sabda Rasulullah Saw:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ
"Manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak diberi manfaat oleh Allah". (HR. Ath-Thabrani).
Allahummas ista'in bil istiqomah! []
M. Abdullah Badri, Ketua PC MDS Rijalul Ansor GP. Ansor Kabupaten Jepara





