Cerita Gus Muwafiq Setop Kesaktian Para Pendekar “Pasukan Berani Mati” Gus Dur

Bercanda dengan Gus Muwafiq di Mayong Jepara, Kamis (06/09/2018) dini hari usai ngaji.
Oleh M Abdullah Badri

JELANG Gus Dur diturunkan dengan fitnah murahan tak terbukti sampai kini, muncul “pasukan berani mati” yang tersusun atas banyak pendekar pelbagai perguruan silat di Indonesia. Mereka datang ke Jakarta untuk membela Gus Dur sesuai kemampuan mereka: daya destruktif massal.

KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) yang saat itu nderekaken Gus Dur mendapatkan amanat untuk mengendalikan semua pendekar yang hadir agar tidak terjadi rusuh. Jika kisruh terjadi di Jakarta, Gus Dur kuwatir hal itu akan menjalar ke pelbagai daerah, dan kuatirnya lagi, Nahdliyyin akan melakukan gerakan perlawanan horizontal.

Gus Dur memerintahkan Gus Muwafiq dengan amanat itu agar NU nantinya bisa selamat dan tidak jadi bulan-bulanan dalam sejarah kesetiaan bangsa Indonesia. Meskipun Gus Dur sendiri yang nantinya turun tahta.

Meskipun Gus Muwafiq juga pendekar, tugas berat mendekati para pendekar pelbagai daerah dari macam perguruan bukan perkara gampang.  Pasalnya, para pendekar punya jurus dan kesaktian khas masing-masing perguruan yang tidak akan bisa disatukan dalam hitungan hari, apalagi hitungan hari.

Kata Gus Muwafiq, bagaimana mungkin perkara demokrasi parlementer yang saat sedang krisis itu diselesaikan dengan logika umum para pendekar yang memiliki solusi demonstrasi ekstra parlementer. Urusannya kepemimpinan, tapi solusi para pendekar saat itu belum ada yang taktis kecuali menggunakan ilmu dan kesaktian. Serba repot.

Gus Muwafiq Pendekar


Akhirnya, Gus Muwafiq harus memeras otak mencari cara agar 200-an pendekar yang sudah menyiagakan kedigdayaan dan kesaktiannya dari rumahnya, tidak jadi ngempakke (menggunakan) untuk memulai episode rusuh, walaupun mereka siap dengan nyawa. Kata Gus Muwafiq, mungkin mereka sudah pamitan mati kepada keluarga itu. Kan pasukan berani mati.

Yang dilakukan Gus Muwafiq saat hanya satu: buat mereka lega agar ilmunya terpakai di Jakarta dan pulang dengan damai. Inilah yang membuat Gus Muwafiq banyak pengeluaran. Harga yang tidak bisa dibandingkan untuk menjaga agar negara tetap aman tanpa tragedi kerusuhan massal. Apalagi nanti yang kena adalah NU, salah satu elemen berdirinya NKRI.  

Cara yang dilakukan Gus Muwafiq untuk mencegah chaos adalah mengajak para pendekar njabuti pohon gedhe-gedhe di sekitar gedung dewan terhormat yang tengah sidang. Mereka melakukan itu dengan tangan. Terlampiaskan. Lega.

Pendekar yang memiliki kesaktian minum air tanpa kuota, juga diajak Gus Muwafiq nyedot kolam sekitaran gedung. Dan sangar-nya, tidak ada dari mereka yang mengalami sakit perut meskipun air yang ada di kolam tersebut sudah kering kerontang. Terlampiaskan. Lega.



Arena laga juga disiapkan untuk pendekar yang memiliki kemahiran menggunakan jurus. Gus Muwafiq sendiri dan timnya yang menghadapi langsung. Waktu nganggur mereka disibukkan untuk berduel di atas arena. Siapa saja yang berani menantang Gus Muwafiq hanya dengan tiga jurus, silakan naik rink. Dan alhamdulillah menang hingga 60-an kali laga. Lelah tapi tidak dibayar dan tak tercatat sebagai prestasi. Hahaha. Semua demi agar ilmu kadigdayan pendekar terlampiaskan, dan lega.

Mereka yang punya kesaktian anti peluru dibelikan Gus Muwafiq mercon sangat banyak dengan ukuran besar. Ben marem. Mereka dikumpulkan, lalu diminta atraksi kesaktian dengan mercon yang tersdia. Mereka memang sakti-sakti. Mercon ditaruh perut, dubur, dan bolongan tubuh lainnya, tidak ada yang luka. Terlampiaskan sudah. Lega.

Yang paling rumit adalah mengatasi gejolak pendekar yang dipimpin oleh Kiai NR dari Wonosobo. Kata Gus Muwafiq, para murid beliau yang datang ke Jakarta diberi bekal pasir satu karung yang jika dilemparkan ke massa, bisa berubah jadi geni (api) berskala parah. Sulit didekati karena pesan guru mengatakan, “jika tidak bisa berubah jadi api, datangi rumahku, siap diberaki”. Jaminan keyakinan inilah yang membuat barisan pendekar itu mantap mengamalkan lempar pasir.

Karena lelah, Gus Muwafiq akhirnya nyirep ratusan pendekar dengan obat tidur yang diracik sendiri. Kopi disiapkan oleh tim, dicampurlah obat tidur tersebut ke seduhan air kopi, ngopi bareng. “Dua hari mereka full tidur nyenyak bareng,” kata Gus Muwafiq, yang juga menyebut hal itu sebagai solusi praktis terakhir.

Cuma ketika kiai Cirebon mengetahui “ulah nakal” Gus Muwafiq kepada para pendekar itu, beliau hanya tersenyum dan mengatakan kepada Gus Muwafiq begini:

“Kamu harus bertanggungjawab. Semua orang yang kau sirep adalah muslim yang taat shalat semua. Kamu harus gantikan qodlo’ shalat 200 orang ini selama mereka tidur”.

Mumet lah Gus Muwafiq. Masa’ harus mengganti hingga 2000 kali shalat untuk 200 orang yang dua hari absen ibadah? Mereka kan dalam kondisi tidur, tidak mukallaf (keno patrapane hukum, -bahasa kitab kuningnya,-) lagi.

“Mereka memang tidur, tapi kan karena kamu yang membuat mereka tidak melek sampai dua hari,” jawab kiai asal Cirebon tersebut kepada Gus Muwafiq. Duh. Sudah lelah, remuk, keluar biaya, masih kena dhuko kiai. Nasib.

Saya tidak bertanya, apakah Gus Muwafiq jadi mengganti qodlo’ shalat mereka. Yang pasti, amanat Gus Dur sudah dituntaskan meskipun ada pendekar yang mengeluh, “perintah saya saja Gus, siapa yang harus saya b****,” katanya, lelah, karena ilmunya belum sempat dibuat lega dan terpakai di Jakarta.  

Saya jadi ingat apa yang sering diucapkan oleh Gus Muwafiq dalam ceramahnya, bahwa meskipun manusia adalah khalifatullah fil ardl (manajer Allah di bumi), dan ahsani taqwim (paling sempurnanya bentuk mahluk Allah), masih tetap kalah dengan satu hal: NGANTUK.

Dan ngantuk hingga tertidur, sebagaimana sudah dibuat-buat oleh Gus Muwafiq kepada ratusan pendekar sakti itu terbukti bisa menyelamatkan bangsa dari potensi rusuh nasional. Mereka yang saat itu menginginkan chaos harus gigit jari.

Dan, saat ini, detik saya menulis cerita ini, harus tetap waspada jika ada yang hendak mengambil hati Nahdliyyin dengan bahasa yang sama: Aswaja, dan lalu, sedikit demi sedikit akan mengiris shaf warga NU jika dirasa sudah waktunya panen irisan besar. Utuhnya NKRI, jauhnya negara ini dari konflik, harus dipertahankan, berapapun biayanya. Gus Dur sudah berkorban banyak. Jangan NGANTUK atas semua ini, kawan! [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar