Kiai Said: Judul Buku Ini Harusnya Lebih Tegas, "Jepara Bumi NU"
Cari Judul Esai

Advertisement

Kiai Said: Judul Buku Ini Harusnya Lebih Tegas, "Jepara Bumi NU"

M Abdullah Badri
Kamis, 11 Juli 2019

buku meneguhkan jepara bumi aswaja dan bumi nu
Kiai Said saat menerima kenang-kenangan Buku "Dalil Sejarah TBS" dan "Meneguhkan Jepara Bumi Aswaja" dari penulis. Foto diambil oleh Wahyu Khoiruzzaman, dari LTN NU Kudus, Ahad malam (7 Juli 2019).

Oleh M Abdullah Badri

SEPULANG dari ziarah ke leluhur di komplek Makam Sunan Kudus, Ahad malam (7 Juli 2019), KH. Said Aqiel Siraj jelas melewati gang sempit pertigaan di belakang Menara menuju lokasi parkir terakhir, Manggala, Kudus.

Lima menitan menunggu Kiai Said keluar dari kompleks makam, penulis nyegat di gang sempit tersebut untuk salaman pamit. Gus Baha' yang menemani Kiai Said ziarah ke Makam Mbah Asnawi sepuh juga berpamitan di gang tersebut, pisah sementara waktu agar Kiai Said melanjutkan perjalanan hadiri pelantikan PCNU Kudus.

Baca: Tak Perlu Saring Karena Sudah Sharing

"Salim pamitan pisah di sini, Kiai," kata Gus Baha'.

Saat itulah penulis menyerahkan kenang-kenangan ke Kiai Said, dua buah buku yang terakhir penulis terbitkan pada Januari dan Februari 2019 lalu, masing-masing berjudul "Dalil Sejarah TBS" dan "Meneguhkan Jepara Bumi Aswaja".

"TBS itu apa?" Tanya Kiai Said.

"TBS itu madrasah yang masyayikhnya adalah Mbah Turaichan dan juga Mbah Arwani, Kiai. Mbah Tur masih famili jenengan," jawab Gus Baha'.

"Harusnya judulnya ini lebih tegas, bukan meneguhkan bumi Aswaja, tapi langsung 'Meneguhkan Jepara Bumi NU'," tanggap Kiai Said atas judul buku kedua penulis berjudul "Meneguhkan Jepara Bumi Aswaja" yang bercover putih-hitam.

Kontan semua Banser dan hadirin yang menyaksikan lepaskan tawa sejenak. Dan langsung berpamitan. Penulis nderekke Gus Baha' ke Damaran, melanjutkan acara bersama alumni. Sementara Kiai Said berpisah untuk acara selanjutnya.

Baca: Jepara yang Diperhatikan Khusus Rasulullah SAW Sejak Dulu

Sebelumnya, penulis hanya bersiap ketika Kiai Said meminta agar mengantarkan fotocopy naskah kuno milik pengasuh lama Ponpes Damaran 78 Kudus, ke lantai II Gedung PBNU Kramat, Jakarta, yang antara lain berisi:

  1. Naskah tulisan tangan KH. Hasyim Asy'ari di salah satu kitab milik pengasuh Damaran yang juga murid pendiri NU tersebut. 
  2. Kumpulan as'ilah (permasalahan) pada Muktamar awal-awal NU berdiri, tahun 1929, 1930, 1931. 1932, 1946, dan tahun-tahun lainnya. 
  3. Kumpulan Majalah Soeara Nahdlatul Oelama edisi awal-awal NU berdiri, yang jelas sangat tinggi nilai sejarahnya, dan masih tersimpan rapi di rak kitab ndalem Pondok Damaran. 

"Kamu nanti yang antar copian naskah ini ke PBNU yah!" Kata Kiai Said ke penulis.

"Siap, Kiai!".

Kiai Said meminta copy semua naskah di atas (bukan naskah aslinya), atas permintaan dzurriyah. Agar naskah asli masih tetap di Damaran. Penulis masih "hutang sowan" ke PBNU karena itu. Semoga lekas. InsyaAllah. [badriologi.com]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah