Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong

M. Abdullah Badri
Jumat, 15 Mei 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
kiai ndawir dan habib ndawir bisa kaya dengan modal dobol
Ilustrasi kiai ndawir cepat kaya.


Oleh M. Abdullah Badri


KIAI ndawir adalah kiai yang suka keliling atau mengelilingkan proposal. Kiai jenis ini ada di banyak tempat, tanpa peduli ormas. Cirinya: 


  1. Tidak memiliki pekerjaan, bisnis, atau usaha, 
  2. Bergaya hidup kecukupan, bahkan mirip orang kaya, mobilnya halus-halus,
  3. Pesantrennya memiliki kegiatan rutin di luar giat kurikulum, 
  4. Sebagian mereka, bangunan pesantren selalu dibangun terus-menerus walaupun sudah cukup. 


Mengapa perlu dihindari? Sebab, kiai ndawir paling pintar memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk mendapatkan cuan atas nama pesantren. Dia tidak khidmah secara ikhlash kepada santrinya. Kalau santrinya berkurang, cuannya juga kurang. 


Setahu saya, kiai jenis ini rai gedhek, ra nduwe isin, mudah mengutarakan kesedihan nasibnya, mental pengemis, dan maunya untung sendiri. Suatu kali, dia melibatkan warga pesantren menjadi panitia maulidan, rejeban atau akhirus sanah. Dibuatlah proposal kegiatan. Panitia diminta menyebarkannya kepada seluruh penduduk desa tanpa terkecuali. 


Setelah kegiatan selesai, tidak ada LPJ. Warga menggerutu. Dan, setelah itu, sang kiai membangun teras rumah, beli motor baru, sebab ada dana lebih. Semuanya atas nama pembangunan pesantren. Kasus ini mirip-mirip habib ndawir yang bikin proposal maulid, dimana Ttd proposalnya hanya namanya sendiri, tidak ada nama sekretaris maupun bendahara. Jepara itu paling laris begini. Sebab, wong Jeporo itu nyah-nyoh, sehingga nyaman jadi rujukan kiai asal Demak maupun habib-habib asal Solo dan Jatim sejak krismon. 


Ada kiai yang lebih pintar ndawirnya. Dia buat seminar di pesantren. Bikin proposal, dan diberikan kepada aghniya' kabir, terutama dari Jakarta, sebab, dia mengundang pembicara dari sana. Proposalnya ratusan mungkin, yang cair juga separo barangkali, tapi, saldonya untuk dinikmati sendiri. Santrinya hanya dijadikan peserta seminar dan khodim tamu-tamu bonafit. Ini tidak terjadi di Jepara tapi yah. 


Yang katrok itu kiai yang menjadikan murid TPQ di masjid sebagai bahan pengajuan kegiatan pesantren ke anggota dewan. Biar ketok pesantren, dia menyekat masjid menjadi kamar-kamar, untuk kepentingan sidak penyedia anggaran. Hasilnya, santri TPQ hanya jadi alat. Dia dapat puluhan juta untuk keperluan dia sendiri. Ini cara paling katrok dan membahayakan secara hukum. 


Ada juga kiai ndawir tapi tidak kelihatan ndawir. Dia selalu buat rencana pembangunan pesantren dan membuat proposal melalui jaringan khusus politikus pusat. Tiap tahun cair. Sebab, dia patron. Saking berjasanya, kiai nya itu loh sampai cium tangan menyediakan kursi duduk kepada politikus. Orang awam hanya tahu, kiai itu sangat tawadlu' ke siapapun. Padahal, itu bagian dari konsekuensi dibantu dana.


Berikut 6 judul esai saya mengkritik 4 tipe kiai kurangajar: 

  1. Jika Kiai Pengasuh Santri Hilang Rasa Malu
  2. Empat Jenis Kiai yang Harus Dihindari
  3. Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi
  4. Jangan Beriman Kepada Kiai Klenik Halu
  5. Godaan Kiai Cluthak dan Jelalatan
  6. Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong


Jenis kiai ini sangat banyak. Terutama kiai yang dulu ponpesnya hampir ambruk dan sekarang mentereng indah tanpa kelihatan bisnis dan usahanya. Biasanya, dia punya makelar khusus untuk nyonggek. Baiknya, kiai jenis ini acapkali tidak menikmati sendiri hasil proposalnya, tapi memang jadi bangunan ponpes. Orang pusat suka membantu dia, sebab laporan pelaksanaan proposalnya bagus, dana yang habis lebih banyak daripada yang tertulis di LPJ. Ini kategori kiai ndawir yang lumayan memberkahi santri. 


Ada kiai yang kalau turun proposal pencairan, dewan asatidznya malah menolak. Mengapa? Sebab, ketika proposal masuk, sebelum cair, sang kiai minta potongan 50-70 persen untuk keperluan dirinya. Lalu, dewan asatidz nya lah yang diminta mencari tombok atas dana yang sudah masuk terpotong ke kantong pribadinya itu. Kiai ini tipe kiai makelar tingkat nggilani. 


Kiai inilah yang suka menjualkan tanah atas nama pesantren atau ormasnya, minta untung ratusan ribu per meter untuk pribadi, lalu, setelah dapat, dia meminjamkan uang tersebut dengan jaminan mobil harga ratusan, lalu setiap bulan dia masih minta R puluhan juta ke pengutang sebelum hutangnya lunas. Dia kiai rente juga. Tapi akeh sing cium tangan loh. Dianggep keramat juga. Tidak saya sebut nama lah. Tapi ngene iki ono. Dia dikenal memiliki bisnis, tapi mobile mberuh


Saya suka ponpes terkenal di Jepara. Kata pengasuhnya, dia itu sering menawarkan tanah warisan ortunya untuk ditawarkan wakaf kepada para alumni. Uang masuk secara pribadi, jadi kaya sebab jual tanah, tapi dia tetap jadi kiai karena tanah yang dibeli para alumni diwakafkan kembali kepadanya. Iki tipe kiai pinter sugih dan tetap terhormat. 


Kalau kiai yang goblok cara ndawirnya, mentalnya tetap ngemis. Jika ditanya usahanya apa, dia pintar menjawab: dari Gusti Allah. Padahal, dia sugih sebab ngemis. Bagi saya, ndawir tidak untuk kebutuhan mendesak dan tidak untuk hajat orang banyak adalah fasiq. Wis ora keno dipercoyo. Akeh ngapusi mesti. 


Ndawirnya kiai di Jepara, bagi saya, lebih berbahaya dan lebih merugikan daripada ndawirnya habib. Kalau habaib, ndawirnya paling polsek (pol seket) atau poltus (pol satus). Dia muter ke acara maulid, dan di setiap acara, dia minta sangu (amplop). Sehari bisa rawuh 8 lokasi. Lumayan buat beli beras, rokok, bayar listrik dan sangu anak. 


Sekarang, karena dihajar Imaduddin Banten, maulid sepi, majelis habib di Jepara pun sepi. Cicilan mereka banyak yang menunggak atau bahkan gagal bayar. Mesakke tenan! Teko weki yo nek moro gowo madu. [badriologi.com]


Esai kritik kiai, saya akhiri di artikel ke-6 ini. 


M. Abdullah Badri, Ketua PC MDS Rijalul Ansor GP. Ansor Kabupaten Jepara. 

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha