![]() |
| Kiai klenik adalah tipe kiai sesat. |
Oleh M. Abdullah Badri
KIAI itu minimal mau buka dampar, mulang ngaji kitab kuning. Jika tidak, lekas ragukan kapasitasnya sebagai pewaris ilmu Nabi Muhammad Saw. Yang mulang saja masih bisa tergoda dan keblondrok-keblinger sesat, apalagi yang hanya manaqiban, istighotsahan, maulidan dan rajin ziarah ke makam-makam waliyullah.
Minimal mulang. Itulah tabiat Rasulullah Saw. Dalam hadits dho'if, Beliau Saw bersabda:
إنما بعثت معلما
Terjemah:
"Aku diutus sebagai pengajar".
Tidak wajib memiliki pesantren. Yang penting mulang walaupun pesertanya sedikit. Entah mulang warga, jama'ah, atau mulang di masjid, mushalla atau madrasah diniyah. Ini tabiat minimal wajib seseorang disebut kiai. Tanpa buka dampar, jika punya jamaah, majelis akan dipenuhi tema deladrah separan-paran membahas klenik, demit, jimat, keramat, yang tidak ada manfaatnya ke jamaah kecuali kepada dirinya sendiri, ingin dianggap wali.
Bila ada kiai (walau dia hapal Qur'an), kok bertemu siapapun dia senang membahas:
- Reinkarnasi (penitisan kembali/kelahiran kembali),
- Kisah-kisah wali yang berlebihan (ghuluw),
- Bertemu guru petapa berumur 500an tahun,
- Keramat wali tanpa bukti yang bisa dinyatakan (atau tidak singkron dengan sejarah pakem),
- Bisa perintah malaikat Jibril,
- Punya Ismul A'dhom cepat terkabul doa,
- Punya keris sakti warisan Mataram dan bisa berdialog dengannya,
- Tahu kunci harta karun Soekarno,
- Kuburan pesantrennya suci, tidak akan disiksa yang dikubur di sana,
- Sering disowani Nabi Khidzir,
- Punya anak buah ribuan jin, dll.
Jangan beriman. Langsung gunakan akal syariatmu untuk isykal.
Saya pernah kenal dengan almarhum kiai di Jepara yang kalau bicara, dia itu mengaku pernah hidup sebagai Imam Ghazali di zamannya. Tapi, karena takdir Allah, sekarang dia jadi kiai biasa. Dia meyakini betul bahwa manusia akan dilahirkan kembali. Rujukannya kitab tafsir Bahasa Pegon, yang tidak perlu saya sebut judul dan pengarangnya. Saya punya.
Kiai apal Qur'an pun ada yang percaya penuh memiliki guru berpangkat wali Abdal yang usianya 400 tahun. Dia pernah bertemu. Dan si wali mengaku berumur panjang karena disiapkan untuk menghadapi akhir zaman, bertemu Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Iki loh pakanan opo reeek rek!
Apal Qur'an kok percoyo reinkarnasi dan orang berumur ratusan tahun, saya tepuk jidat. Ini persis kisah dobol para habib di Yaman yang pada tahun 1800-an, pernah bertemu orang yang pernah hidup di zaman Sayyidina Ali ra dan memiliki keturunan sekampung hingga ribuan orang. Ditulis di kitab pisan. Ya Allah. Opo sih gunane?
Kumpul dengan orang-orang klenik cenderung melawan akal, halusinasi, hiperbola dan menentang syariat Rasulullah Saw. Membodohkan, menghabiskan harta, tenaga dan waktu. Tak ada manfaatnya. Hidup dipenuhi pembahasan mencari harta karun Soekarno, yang ujungnya sering dobol mukiyo.
Saya pernah mengkritik kiai di Jepara, yang mengajarkan kepada para muridnya kalau melek wengi setiap hari itu wajib dan memberkahi. Banyak santrinya yang akhirnya memaksa bayinya tidak tidur mulai Maghrib sampai Subuh. Santri pondoknya juga diajak tandur, membajak sawah, lari-lari, di tengah malam, bukan siang hari.
Akhirnya, banyak santrinya kena penyakit kuning. Saya tahu karena saya pernah dilabrak empat santrinya, yang semua matanya sembab sekibat rutin melek wengi, tidak sesuai syariat Rasulullah Saw, yang manusiawi. Saya diprotes suruh minta maaf. Ora mbatin. "Jarene wali, dikritik sitik wae kok gak trimo. Wali cap opo?" Bantah saya. Dia inilah yang menyebut makam sahabat Nabi Sa'ad bin Abi Waqqash ada di komplek kuburan pesantrennya. Siapa saja yang dimakamkan di kuburan itu, tidak disiksa karena ada jasad sahabat Nabi Saw. Klenik tenan!
Berikut 6 judul esai saya mengkritik 4 tipe kiai kurangajar:
- Jika Kiai Pengasuh Santri Hilang Rasa Malu
- Empat Jenis Kiai yang Harus Dihindari
- Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi
- Jangan Beriman Kepada Kiai Klenik Halu
- Godaan Kiai Cluthak dan Jelalatan
- Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong
Tahun 2014an (kalau tidak salah), saya juga pernah bertemu rombongan yang mengaku sebagai pemilik wewenang mengeluarkan harta Soekarno dengan Familiy Heritage (FH) berjuluk Lemapora Subabane Poalsedaisin (Lembaga Mahkamah Potensi Rakyat Suku Bahasa Bangsa Negara Potensi Alam Semesta dan Segala Isinya Indonesia) pimpinan Bernard Nobel, yang katanya masih hidup. Hahaha. Ajur jum.
Nama komunitasnya saja mumet dipahami, apalagi cara berpikirnya. Saya mendengarkan presentasi halu mereka yang berlebihan. Ternyata, di akhir presentasi, mereka minta sokongan dana. Wkwkwkw. Jare pemilik wewenang harta Soekarno, lha kok ngemis. Yang ibu-ibu malah ngaku sebagai anak Soekarno dari istri asal Demak. Sangar toh. Tapi ngemis.
Hidupnya orang perklenikan itu dipenuhi tahayul, khurofat, dan tentu saja: bid'ah dholalah kuadrat. Yang disasar orang-orang tak paham sejarah, bodoh, tertekan secara ekonomi, tapi ingin memiliki langit dan bumi se-isinya. Mirip-mirip Lord Rangga lah. Orang-orang yang suka ziarah (Sarkub) tapi tidak ta'lim (ngaji), isi obrolan mereka ya mirip-mirip komunitas halu dan Lord Rangga itu.
Karena itulah, saat ngisi ngaji di GP. Ansor se Jepara, saya selalu mengingatkan agar rutinan diisi ngaji kitab kuning dengan qori' dari Rijalul Ansor atau kiai Syuriah NU. Jangan hanya Yasinan, Tahlilan, Maulidan, Diba'an, Nariyahan, Ratiban, atau lainnya. Jika tidak ada bahasan Tafsir, Hadits, Fiqih, Tauhid, Amaliyah atau materi Kebangsaan, obrolan cah nom-nom seperti di Ansor sering deladrah ke hal-hal klenik dan ngrasani kancane (bisa musuhan).
Biasanya, orang yang suka bahas klenik angel diajak diskusi. Sebab, dia merasa benar dengan keyakinan dan penglihatan mata tidak tampaknya. Rumongso weruh barang gaib di kuburan, seolah sudah sampai titik maqom makrifat sesungguhnya. Iki talbis iblis (godaan iblis) yang mewariskan sikap sok benar sendiri.
Cirinya lagi, dia bakal angel nompo syariat bahwa umat Nabi Muhammad yang wajar itu usianya tidak lebih 100 tahun. Bahwa wali disebut wali itu bukan karena karomahnya, tapi karena istiqomahnya. Dia ogah menerima ajaran ini. Merasa benar kok.
Sudah dulu yah, agak panjang. Lain kali bila sempat saya lanjutkan sesi kiai klenik sesat ini. Tapi, serial selanjutnya, tetap berlanjut! Simak DISINI: [badriologi.com]
M. Abdullah Badri, penulis Kitab Syarah Mandhumah Syafil Hall.





