Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi

M. Abdullah Badri
Jumat, 15 Mei 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren

kategori kiai disebut sakti di masa belanda
Gambar pelengkap "Melawan Kiai Sakti".

 

Oleh M. Abdullah Badri


DIA dikenal sebagai Buya Nasir. Aslinya Jabar. Beberapa tahun lalu, dia datang ke Jepara, menghuni bangunan ponpes yang lama tak terpakai karena pengasuhnya wafat. Di situ, dia membuat majelis manaqiban, yang teks manaqib nya saja syadz (menyimpang). Jika masyarakat paham bagaimana seharusnya manaqib disusun, mereka tidak perlu percaya. Sayang, akeh wong bodho.


Akhirnya, dalam waktu singkat, majelisnya dipenuhi pengikut. Bukan karena ilmunya, tapi karena trik sulapnya. Sejak di Semarang (sebelum diusir), dia sudah atraksi dibedil gak mempan, mengubah angin jadi lembaran duit, mengubah batu jadi akik, dan lain sebagainya. 


Baca: Tauhid Dangkal Nasir Muhyi dan Bodohnya Istilah Ideologisme


Di Bulu, Jepara, tempat dia beraksi, Nasir mendapatkan patron kiai klenik goblok. Dari sinilah dia mudah mendapatkan pengikut. Awalnya, jamaah diminta menabung, yang ketika Ramadhan, bisa ditarik untuk lebaran, dan dapat hadiah. Banyak dana masuk ke sistem ini. 


Lama-lama, Nasir memerintahkan jamaahnya ngutang ke BMT lalu duitnya diserahkan ke dia untuk diputar dalam binis panci dan sebagainya, dan dapat bagi hasil. Tapi zonk. Akhirnya, karena jamaah tidak punya uang untuk mengangsur, mereka stres ditagih. Orang-orang BMT yang merasa dirugikan oleh Nasir inilah yang datang ke saya meminta supaya saya menghentikan aksi Nasir. Biar pada ngangsur. 


Saya lawan lewat medsos. Telik sandi anak-anak Ansor saya terjunkan. Ternyata, dia juga meminta banyak uang ke jamaah seniornya untuk biaya beli Samurai yang ketika dijual, dapat bagi hasil. Ancen gendeng cah iki. Jamaah nya tambah goblok. Mau saja dijanjikan bagi hasil barang tidak jelas. 


Setelah saya lawan, jamaahnya satu mobil geruduk rumah saya. Akhirnya, saya dilaporkan ke Polda Jateng dengan tuduhan UU ITE. Ketua PC Ansor Jepara misuhi saya, bukannya membantu. Orang FPI yang saya mintai tolong, tak mampu mencegah pelaporan lewat pengacara. Saya lapor ke Kiai Muwafiq, Jogja. Ternyata, orang Polda juga santri beliau. Beres lah. Saya tidak jadi di BAP. Kiai Muwafiq ini tipe kiai catur, kiai sembur, kiai tutur dan kiai tandur. Sangar.   


Baca: Jejak Manaqib Nasir Muhyi dan Hingga ke Jepara


Nasir kalah. Padahal dia sudah bayar 40 juta ke pengacara. Ajur kuwe. Dia akhirnya minggat dari Jepara, terusir, dan menikahi adik istrinya, yang secara syariat haram. Dia dilaporkan jamaahnya sendiri karena dituduh membohongi. Hingga sekarang, statusnya adalah DPO. Tapi, polisi blas tidak menindak. Dia selalu mencari tempat baru. Dan selalu berhasil. 


Saya membongkar semua rahasia trik sulap sakti si Nasir ini, yang saya tulis dalam buku setebal 200an halaman berjudul "Katanya Kiai Kok Begini", meniru judul buku yang diatasnamakan dia dari penulis yang teman saya, berjudul "Katanya Bid'ah Padahal Sunnah". Saya belum cetak buku "Katanya Kiai" ini. Jika ada yang siap pre-order minimal 20 orang, saya siap cetak dengan harga wajar (mitsil). Isine ngrasani Nasir. Makanya tidak saya cetak bebas. 


Kini, mantan jamaah Nasir kalau bertemu saya, mereka melipir, menjauh, tak mau ngomong, dan malu walau dia aktif di Jatman setempat. Tak kandani gak ngandel, yo rasakno rugi puluhan juta. Baca: Cara Warga Bulu Menolak Buya Nasir.


Setahu saya, tidak ada kiai pamer kesaktian yang ngalim secara syariat. Sebab, umurnya habis untuk mendalami kesaktian dan memeliharanya, bukan habis untuk muthola'ah dan muroja'ah. Saya menyaksikan, teman-teman saya yang kebal tubuh, dia bakal kebal ilmu (goblok) dan kebal rejeki (kere). Lihatlah sekelilingmu. Mungkin sama. Sakti tapi goblok lan kere, gawe opo? Pantasnya bukan jadi kiai syariat, tapi jawara kemaruk. 


Dan biasanya, kiai pamer sakti seperti Nasir itu cenderung manipulatif. Jangan percaya bila ada kiai yang klaim sepihak bahwa dia:


  1. Anti sajam, anti strum, 
  2. Bisa gandakan uang, bisa ambil berlian dari alam gaib,
  3. Bisa menghilang, terbang, berjalan di atas air,
  4. Punya istri Roro Kidul (kon umbah-umbah ning mburi omah), dll. 


Ujung-ujungnya nanti akan meminta uang. Sebab, dia itu manusia yang butuh makan dan punya keinginan dihormati. Andai yang sakti adalah wedus, aman lah manusia. Tak punya keinginan, dan umurnya pendek. Tidak merusak alam.


Orang yang dikenal sakti, yang saya kenal, ujungnya dia dipenjara. Termasuk yang dulu saya pernah tahu selain Nasir adalah Kiai Syawal, Kebumen. Syawal ini malah mengaku sederajat dengan Ndoro Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Ngungguli yang diklaimkan ke Faqih Muqoddam. Edyan toh


Dia bisa nyetir mobil dengan mata tertutup dari Kebumen ke Semarang, yang katanya untuk melatih kepekaan. Dia juga tidak suka makan bawang dan makanan lain yang makruh, meniru Kanjeng Rasul. Menggiurkan untuk diikuti. Wirid andalannya adalah Sholawat Nariyah 4.444x dibaca sehari. 


Baca: Atraksi Nasir Muhyi di Tengah Jama'ah Manaqibnya


Saya juga punya kenalan, orang Kudus. Dia sakti. Pandai ngobati. Saya sering titip orang dimbimbing karena saya tidak memiliki keahlian tabib. Puluhan orang saya titipkan dan jadi jamaah setianya, yang ketika datang ke rumahnya selalu harus bawa roko dua bungkus (ini wajib). Ternyata, kecuali saya, mereka semua dipalak per bulan, per tahun dan seenaknya. Ada yang diminta motornya, mobilnya, bahkan akan ada yang diminta anak bayinya. Kurangajar tenan cah iki. 


Dia bikin jamaah bangkrut sampai ada yang edan ora kathokan turut dalan stres berat akibat rumah dan bisnisnya terjual habis diminta atas nama sedekah. Dia perintahkan agar dipanggil kiai. Minta diakui. Padahal, kiai itu gelar yang diberikan gratis dan terhormat oleh masyarakat. 


Majelisnya biasa membaca Burdah Al-Bushiri dan Manaqib. Kamuflase. Tapi yo pancen goblok agomo. Kalau ada yang tanya agama, dilempar ke saya. Dia gak gelem shalat, tidak mau puasa, tapi mau umroh setelah malak pengikut gobloknya. Saiki dekne ajur, majelis Burdah nya di Jepara, stop total karena sudah pada tidak percaya. Semua orang yang pernah saya titipkan selama 5 tahun belakangan kepadanya, saya ambil kembali dan mereka lebih percaya saya. 


Berikut 6 judul esai saya mengkritik 4 tipe kiai kurangajar: 

  1. Jika Kiai Pengasuh Santri Hilang Rasa Malu
  2. Empat Jenis Kiai yang Harus Dihindari
  3. Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi
  4. Jangan Beriman Kepada Kiai Klenik Halu
  5. Godaan Kiai Cluthak dan Jelalatan
  6. Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong


Kalau ada kiai dikenal sakti tapi tidak pernah mengaku sakti atau tidak pamer kesaktian, dan syariat serta akidahnya benar, ini masih layak diikuti secara wajar. Tapi, kalau mengaku berteman dengan Ratu Kidul, Ratu Lor, Ratu Wetan, wis tah lah, nggedabrus. Ojo dipercoyo. 


Tunggu saja waktu tumbang kiai pamer kesaktian. Remuk-remuk! Dan jangan sekali-kali menitipkan anak ke kiai pamer sakti yang mendirikan pesantren. Cupet otek lan atine anakmu! [badriologi.com]


M. Abdullah Badri, Ketua PC MDS Rijalul Ansor GP. Ansor Kebupaten Jepara. 

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha