Atraksi Nasir Muhyi di Tengah Jama'ah Manaqibnya -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Atraksi Nasir Muhyi di Tengah Jama'ah Manaqibnya

Badriologi
Kamis, 22 Oktober 2020
Jual Kitab Kuning Pethuk

Dolar dari download buku
Bukti undangan acara Nasir Muhyi saat di Jepara. Foto: badriologi.com.

Oleh M. Abdullah Badri

VIRAL esai berjudul "Jejak Manaqib Nasir Hingga ke Jepara" yang saya tulis Rabu, 14 Oktober 2020, muncul komentar dari pihak-pihak yang pernah diajak nimbrung ngaji. Anehnya, tiada satupun yang mengaku memiliki pengalaman positif dengan majelis dzikir dan manaqib selama dia di Jepara dalam tiga tahun terakhir. Silakan lihat di komentar esai tersebut di Facebook saya.  

Gus yang selama ini saya kenal sebagai pengelola ponpes dimana Nasir sekarang berdiam, seolah pasrah. "Wis kadung". Begitu tulisnya di WA, ke saya. Dikabarkan, dia sekarang sudah berani "membuka praktik" dengan mahar sebagai pelengkap. Tokoh yang membawa Nasir ke mBulu, Jepara Kota, juga kontak ke WA saya dan langsung saya minta "jangan meneruskan". Sayangnya, dia menganggap saya orang buta hanya karena bertanya kebenaran investasi Samurai.
 
Bila keduanya mengajak berdiskusi, tentu saja saya siap. Sayangnya tidak. (Kuatir terpapar fakta, paling. Hahaha). Andai saya diajak bertemu Nasir pun, bukanlah solusi. Dia itu orangnya pinter marketing. Bisa-bisa, kalau bertemu dia, saya langsung dimantra sampai kaku tubuh seperti nampak saat dia atraksi di kontrakan Sekuro, Mlonggo. Hahaha. 


Nasir memang suka atraksi untuk meyakinkan calon jama'ah di Forum Komunikasi Muslim Indonesia-nya. Saya susun beberapa atraksinya di bawah ini:
 
1. Menebar duit kepada yatim dan janda saat majelis berlangsung. Yatim hanya 20 ribu dan janda dapat 50 ribu. Ini terjadi juga di mBulu, Jepara Kota, pada 3 Oktober 2020. Saya juga dikirim videonya oleh yang berkaitan langsung. Video itu dijadikan dalil olehnya bahwa Nasir layak dikembangkan di Jepara. Dia tidak melanggar syariat, dia NU dan NKRI. Eng ing eng...

2. Di kesempatan lain, di kota lain, pada tahun 2013 dan 2014, Nasir juga melakukan atraksi pamer duit di tengah jama'ah. Kebutuhan dana panitia acara diminta laporannya oleh Nasir di tengah jamaah. Rp. 2,5 juta. Saat hendak menyumbang salah satu keluarga jama'ah yang wafat, ia tak segan menghitung duit di tengah jama'ah, masih di atas panggung, dan diumumkan, sambil menyebut Al-Jailani Bank. Tentang apa itu investasi Jailani Bank, tanya tetangga saya pernah nyantri ke dia dan ikut hadir di acara itu (tapi sekarang ogah berurusan dengan Nasir). 

3. Atraksi kanuragan juga tidak segan digelar Nasir dengan pakaian jubah dan sorban roker laiknya ustadz Reza Basalamah Al-Wahabi itu. Kadang dia atraksi unjuk kekebalan, unjuk gendam, atau atraksi lainnya, yang hasilnya agar jama'ah meyakini dia adalah seorang yang keramatnya MasyaAllah Subhanallah wal Hamdulillah

4. Mengaku sebagai kiai NU tulen atau keturunan kiai NU seperti pengakuan penggerak MTR (Masyarakat Tanpa Riba) dari Mulyoharjo, Jepara itu. Di tengah Nasir merapal teks yang dia susun sendiri, di mBulu kemarin, dia juga membuat yel-yel NU ala seminar motivasi. Ini teksnya:

Hidup NU...(plok..plok..plok)
Jaya Slalu...(plok..plok..plok)
Hidup..hidup..hidup...(plok..plok..plok)

Kalau benar Nasir kader NU, dia tidak akan berani membuat yel-yel ngawur ala pembicara motivasi. NU itu ada mars dan lagunya sendiri. Semua itu diajarkan dalam sistem kaderisasi mulai ranting hingga PB. Artinya, saya bisa simpulkan, Nasir bukan kader NU. Hanya ngaku-ngaku saja. Biar jama'ah nyaman. Dia tahu, yang suka manaqib hanya orang-orang NU. 

Pernahkah dia bercerita tentang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani? Anda akan tahu kalau datang malam ini ke mBulu, di acara majelisnya. Ya. Malam ini (kalau jadi). Saya sarankan Anda datang, terutama anak yatim dan janda. Siapa tahu dia akan menebar berkah duitnya. Sudah. Itu saja. Jangan masuk ke wilayah lain dalam misinya, misalnya ditawari menantu dari muridnya, atau ditawari investasi yang menarik uang Anda. Jangan. Ambillah sikap hati-hati. 

Kalau Anda berani, datangi majelisnya malam ini, sarankan dia agar tetap ngaji pakai kitab kuning (jika bisa) di pesantren itu, agar ngajinya tidak show atraksi dan orasi saja. Wajar meminta begitu karena dia mengaku bisa menguasai 8 bahasa ke orang lain. Karena dia mengaku syaikh, ya harus paham kitab kuning lah. Jangan hanya lagu India saja yang dikuasai. Hehe.  


La taghtar. Ojo wedi. Jangan gentar. Datangi dan niatkan ikut ngaji. Ramaikan. Orang-orang saya juga banyak yang datang ke sana nantinya. InsyaAllah. Perhatikan plat nomor mobil jama'ahnya. Apakah semuanya K-C atau justru banyak ber plat kota-kota lain. Banyak yang berbahasa Sunda dan Ngapak, atau tidak? Perhatikan, biar melek. 

Mengapa saya sarankan datang tanpa istikharah? Biar masyarakat Jepara tidak gugup bila ada sosok lain selain Nasir, yang pintar bermarketing ria di Jepara, atas nama agama (saya ada data beberapa titik di Jepara). Pondok (alm) Kiai Muhsin saja berani dia beri tambahan Darul Musthofa. Saya husnudzan, mungkin dia tabarukan dengan nama Ponpes Habib Omar bin Hafidz, Yaman. Entah dia mengaku alumni atau tidak? Wallahu a'lam


Pintar kan dia? Keluarga ponpes mBulu saja kalah start. Dan, sebentar lagi, keluarga Ponpes juga ada yang akan dinikahkan dengan santri-nya sampai keluarga ada yang bingung harus berbuat apa. Nasir-nya saja tidak jelas, apalagi santrinya. Keluarga lain kalah start. Ya Allah. Berani amat dia! 

Nasir memang sosok yang nggugupake wong Jeporo. Temenan. Sumpah wani ngganteng! [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini pernah dimuat di Facebook penulis pada 17 Oktober 2020

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren