Tauhid Dangkal Nasir Muhyi dan Bodohnya Istilah Ideologisme -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Tauhid Dangkal Nasir Muhyi dan Bodohnya Istilah Ideologisme

Badriologi
Kamis, 22 Oktober 2020
Jual Kitab Kuning Pethuk

Dolar dari download buku

Oleh M Abdullah Badri

NASIR memang keren. Bila di Semarang dia terkabar berhasil lolos "habiskan" harta mertua, dan bermasalah juga dengan biaya cetak Penerbit Rasa'il, maka, di Jepara, ia menyatakan bahwa kita, orang jaman sekarang, bisa melebihi pangkatnya sahabat Nabi Muhammad Saw. 

Masalahmu dengan orang-orang lama terlalu banyak ya "Syaikh". Jangan ngelindur melebihi sahahat Nabi! Perbaiki dulu sebelum membual dengan pernyataan dangkalmu! 

Pada 17 Oktober 2020, saat dia ceramah di Majelis Al-Jailani yang ada di mBulu (dan pasang logo NU), beberapa pernyataan ngawur Nasir yang berbahu sombong, nggedabrus, bohong dan membual kuadrat, muncul ke permukaan. 

Salah satunya, ia menggunakan istilah ideologisme tanpa menjelaskan makna ideologisme dengan benar. Jama'ahnya hanya tenaang saja, ndomblong, diajak yel-yel, ikut. Diajak lambai tangan, ikut. 

Simak pernyataan Nasir berikut ini:

"....Yang saaangat jahat. Saking jahatnya, anak perempuannya dikubur hidup-hidup. Tapi hidayah Allah datang padanya. Sesuatu hal yang tidak masuk akal. Umar bin Khattab menjadi penglima macan Islam yang masuk surga bighairi hisab. Semua, apabila Allah menghendaki, mungkin saja," ujar Nasir.
  
"Mungkin tidak orang jaman sekarang melebihi pangkatnya sahabat? Mungkin. Karena, semua, jika Allah menghendaki pasti terjadi. Maka, berpikirlah dengan cara berpikir ideologisme. Berpikir cara agama. Ideologisme. Karena berpikir agama tidak sama dengan berpikir positivisme. Tidak sama dengan berpikir imperialisme. Tidak sama berpikir dengan rasionalisme. Karena semua punya pathokan masing-masing," katanya. 

Setelah itu, Nasir tiba-tiba mengajak nyanyi dengan keplok tangan saat yel-yel ala motivator diteriakkan, sebagai pelengkap agar 100an jamaah yang hadir tidak ngantuk: 

Cintai aku karena Allah. 
Sayangi aku karena Allah.
2x. 

Kucinta engkau karena Allah.
Kusayang engkau karena Allah.
2x. 

Hidup kita semua! (Plok..plok..plok)
Pasti sukses! (Plok..plok..plok)
Tetap jaya! Ya...

Poin ceramah di atas adalah: 
  1. Bila Allah menghendaki, semua bisa terjadi. (Termasuk menghendaki dia segera bubar jalan?)
  2. Kita bisa melebihi pangkat sahabat Nabi. (Kenapa tidak sekalian melebihi Nabi? Bukannya Allah Maha Kuasa?)
  3. Berpikir cara agama disebut sebagai ideologisme. (Alamaaa'..)

Saya kuliti satu-satu. Baca sampai selesai, agar tidak gagal paham seperti kiai-kiai karbitan di sana. 

1. Kehendak Allah
Dari ceramahnya di atas, Nasir jelas tidak paham tauhid terkait sifat Qudrat-Iradah Allah. Ia hanya bicara secara umum bahwa bila Allah menghendaki, semuanya mungkin terjadi. Ia benar secara logat. Tapi salah secara pemahaman tauhid. Bila benar demikian, mengapa Allah tidak menciptakan anak baginya? Bukanlah Allah Maha Kuasa atas segalanya? Piye?  

Nasir tidak paham bahwa ta'alluq sifat Qudrat dan Iradahnya Allah Swt. hanya terkait dengan Al-Mumkinat (segala yang mungkin). Inilah cara berpikir ideologis (bukan ideologisme) yang beradab kepada Allah serta sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah dan Maturidiyah).
 
Jadi, sifat Qudrat dan Iradah Allah tidak terkait dengan hal-hal yang sudah dinyatakan pasti nash-nya oleh Nabi Muhammad Saw. dan hal-hal yang dianggap mustahil (Al-Mustahilat). 

Hadits "La nabiyya ba'di" (tidak ada Nabi setelah aku; Muhammad) mustahil dipahami sebagai bentuk kelemahan Allah hanya karena Allah Swt. tidak lagi mengutus Nabi setelah Nabi Muhammad Saw. 

Jikalau Nasir berkata, "bila Allah berkehendak, maka Allah bisa mengutus Nabi setelah Nabi Muhammad, termasuk saya", maka dia ngawur dan perlu ditata otaknya. Ia tidak paham bahwa ta'alluq sifat Qudrat-Iradahnya Allah hanya terkait dengan Al-Mumkinat saja. 

Kita tahu, setelah Nabi Muhammad Saw. mustahil ada Nabi yang diutus oleh Allah lagi. Umat Islam tahu, Allah lam yalid wa lam yulad. Maka, mengaitkan Qudrat dan Iradah Allah dengan dua hal mustahil itu tidak dibenarkan dalam tata berpikir adab tauhid aswaja. 

2. Bisa Melebihi Pangkat Sahabat?
Ngimpi bila Nasir berkata demikian. Alias nggedabrus. Nabi Muhammad Saw. sudah bersabda, "ashabi kan-nujum, biayyihimuq tadaitum, ihtadaitum" (sahabatku laiknya bintang, kepada siapapun mereka kalian ikut, kalian pasti dapat petunjuk). Sahabat itu diikuti. Tidak bisa diungguli. Itu sudah menjadi hak prerogatif Allah. 

Dalam Kitab Hayatus Shahabah (Jilid I, hlm: 52), Ibnu Jarir menafsiri makna "kuntum" (kalian) dalam ayat "Kuntum Khoiro Ummatin Ukhrijat Lin-Nas" (kalian sebaik-sebaiknya golongan yang diutus untuk manusia) adalah khusus kepada para Sahabat Nabi. Bukan untuk orang-orang somsi seperti Nasir. 
 
Nasir juga sangat nggedabrus dan tidak paham Siroh Nabi wa Ashabihi. Namanya sahabat itu adalah orang yang pernah berkumpul dengan Rasulullah Saw. dan beriman kepadanya, walau hanya sebentar dan meskipun dari jauh melihat Nabi. Ini kekhususan sahabat Rasulullah Saw.

Bertemu dengan Nabi tapi tidak beriman seperti Abu Jahal, tidak bisa disebut sahabat, meskipun berstatus paman Nabi. Umar adalah sahabat, dan khalifatul mukminin. Ia jelas statusnya sebagai nujumul ummah, yang harus dijadikan uswah. Sampai kiamat, Nasir tidak akan bisa melebihi Sayyidina Umar ra. Bukan saya ndisiki kerso, tapi wis cetho kok.

Sekali lagi, Nasir dan orang zaman sekarang tidak bisa mengungguli Sayyidina Umar ra. dan sahabat lainnya seperti Nu'aiman, karena sahabat adalah generasi yang telah dipilih Allah untuk menemani perjuangan khatamun Nabi Muhammad Saw. 

Bila Abu Jahal disebut Nasir masih tergolong sahabat, maka Nasir bisa dan boleh berusaha untuk mengunggulinya.  Sangat mungkin bagi Allah menciptakan manusia yang lebih dungu daripada Abu Jahal di masa sekarang, orang jaman sekarang. Mau?

3. Istilah Bodoh Ideologisme
Lihatlah, gaya ceramah Nasir pintar banget seolah paham filsafat sosial. Jama'ahnya jelas ndomblong ora paham, karena filsafat adalah materi rumit yang melangit. 

Ia menyebut cara berpikir agama adalah ideologisme (ya diguyu semut nahan nguyuh. hahaha). Coba cari istilah ideologisme di Google, apa ada? Ora nemu.

Belajar dulu "ya Syaikh" sebelum bicara makna ideologi. Tahukah kamu, ideologi itu artinya kumpulan ide-ide dasar atau gagasan yang memiliki tujuan sosial dan politik untuk mengubah. Rasionalisme disebut ideologi karena ia adalah kumpulan cara berpikir yang lebih mengutamakan empirisme daripada lainnya. 

Nasionalisme juga disebut ideologi, karena ia berisi gagasan tentang menyatunya Imagined Community (komunitas terbayang bernama bangsa), seperti diungkap Ben Anderson. 

Imperialisme dan kapitalisme juga ideologi. Mengapa? Karena keduanya memiliki cara kerja menguasai (impera) dan mengeruk sebanyak-banyaknya sumber daya untuk kepentingan pemodal (kapitalis). Aswaja juga disebut sebagai ideologi karena di dalamnya ada sistem berpikir ahlussunnah yang cerdas, moderat, dan seimbang li i'la'i kalimatillah. 

Intinya, tiap pemahaman yang terstruktur sejak dari pikiran, ia adalah ideologi. Untuk memudahkan orang, tiap ideologi diakhiri dengan kata "isme-isme". Radikal-"isme", berarti ideologi tentang gerakan sosial politik radikal. 

Lalu, ente menyebut ideologisme itu maksudnya apa "ya Syaikh"? Paham dari sebuah pemahaman? Atau ente memang bingung dan tidak paham, lalu nggedabrus karena tidak ada yang melawan? Kuwe iki kuliah ning ndi "ya Syaikh", kok mbingungi?

Saya sarankan, buatlah ideologi Nasirisme. Buatlah struktur berpikir yang baik untuk kepentingan Al-Jailani Bank atau kepentinganmu sendiri. Tapi harus debat dulu dengan Badriologi, nama situs saya. (bukan ideologi ala M. Abdullah Badri). Hahaha. 
 
Dalam hukum Fiqih Islam ada kok cara berpikir ala postivistik. Lumrah. Ente paham tidak "ya Syaikh" tentang kaidah "nahnu nahkumu bidh-dhawahir, wallahu a'lamu bis sara'ir"? Kalau tidak paham, saya jelaskan. Sak ndulit saja yah. Jangan banyak-banyak. Begini:

Cara kerja hukum dalam Fiqih itu berpijak pada haliyah yang nampak. Saya membuat keputusan dengan sebutan Nggedabrus kepada antum karena yang nampak dari gaya bicara dan pakaian antum memang sedemikian somsi. 

Inilah cara kerja positivistik ala Fiqih meski Allah yang jelas Maha Tahu segalanya (a'lamu bis sara'ir). Dan hal ini wajar, serta dibenarkan dalam hukum Islam yang positivistik. 

Nabi Saw. juga melarang membunuh orang munafiq karena ia mengucap La Ilaha IllaAllah di mulut (walau tidak mengakui dan mengimaninya di hati). Allah Maha Tahu akan isi hati munafiq yang ingkar, yang sudah dikabarkan juga kepada Nabi. Mengapa tidak dihukum mati saja dia, padahal munafiq saat itu sangat membahayakan perjuangan umat Islam? 

Jawabnya: 
Karena hukum Islam punya cara berpikir positivistik juga, -meski tidak selalu demikian. Si Munafiq tetap dihukumi muslim meski hatinya tidak beriman. Ibadahnya sah. Nikahnya sah. Karena mulutnya berucap syahadat. Diterima oleh Allah atau tidak, Allah a'lamu bis-sara'ir

Maka, bila "ya Syaikh" menyebut cara berpikir agama beda dengan cara berpikir positivisme, itu ada di bagian yang mana? Fiqih, Tasawwuf atau Tauhid? Kuwe kudune jelas. Ora jelas, ora usah nggedabrus. Ndobol kok nggilani.[badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini dimuat pada 18 Oktober 2020 di Facebook pribadi penulis.

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren