![]() |
| Ilustrasi pelengkap esai kiai cluthak jelalatan. |
Oleh M. Abdullah Badri
SELAIN kiai sakti dan kiai klenik halu, hindarilah kiai yang dikenal tidak menundukkan mata saat berhadapan dengan lawan jenis. Saya katakan, selain harus memegang syariat dan buka dampar, kiai yang layak diambil faedah ilmunya adalah sosok kiai yang ghoddul bashor (ora jelalatan).
Manuk kuwi amanah. Nek gak dijogo, khianat. Kiai cluthak, bagi saya, pinter ngapusi, sehingga sulit mengemban amanah. Kalaupun dia dititipi anak didik, ada peluang digasak. Dan jika punya jamaah majelis, yang bening potensial bakal disosor. Rumah tangganya dan rumah tangga orang lain bisa rusak sebab: matane ijo nek weruh wong ayu.
Saya punya teman kiai. Santrinya 70. Semuanya perempuan. Dia tidak menerima santri laki-laki karena cah lanang, kata dia: jorok, bandel, suka mbantah. Risikonya, dia pasti tergoda pengen ndemik, bahkan pengen menjadikan anak didiknya sebagai madu. Untuk mengatasinya, setiap hari dia minta jatah ke harimnya.
Hanya itulah hiburan kiai pada umumnya. Saru kalau kiai ikut karaoke, joget, nyawer atau bentuk hiburan lain orang awam. Karena itulah, banyak kiai yang anaknya banyak. Kadang, istrinya juga banyak. Ya itu tadi, untuk mencegah syahwat tidak pada tempatnya. Jangan maido kiai poligami. Selama caranya benar, sukut saja sampeyan. Dia itu sedang berjuang mengemban amanah manuk. Hahaha.
Sayangnya, ada kiai, habib, orang alim, ustadz, yang tidak memiliki cara terbaik menumpahkan kodrat sebagai laki-laki sehingga ia tergoda orang lain. Caranya tidak dengan memberi permen atau uang jajan. Tapi dengan pendahuluan seperti:
- Meminta santriwati ke kantor pondok untuk mijit,
- Menyebut tidak haram jika yang melakukan adalah kiai,
- Jika mau, ada hadiah surga menanti,
- Jika menolak, berarti neraka sebagai ganti,
- Jika hamil, anaknya jadi habib, gus atau ning,
- Jika ingin berkah, tidak boleh menolak,
- Menolak kemauan kiai sama dengan menolak perintah Nabi.
Target pun akhirnya menyerah karena yang meminta adalah orang yang dianggap "suci". Akalnya tak terpakai sebab beban psikologis yang ditekan. Terjadilah apa yang terjadi. Zina. Target tahu bahwa menuruti perintah yang dilarang wajib ditolak, tapi, karena doktrin "daging ulama adalah racun mematikan" yang dipahami secara ghuluw, dia pasrah.
Di Jepara, doktrin ghuluw dan ketundukan bodoh ini memakan banyak korban. Ada habib ahli maulidan yang berhasil menggasak banyak target sebab doktrin kesucian nasab. Ada yang sampai manak. Tapi begitu dilaporkan ke polisi, dia ditundukkan dengan ganti rugi dan ketakutan. Dia lolos karena laporannya segera dicabut korban. Saya pernah diminta memviralkan, tapi canceled.
Jika pelaku adalah dosen atau orang awam, "geger pecinan" tak mungkin terjadi di media. Tapi, karena pelakunya adalah kiai atau habib, isu mudah berhembus tanpa bisa dihentikan dan dipastikan mana yang benar dan mana yang salah. Seperti kasus AJ (Abi Jamroh) di Jepara itu.
Yang gendeng adalah kasus liwath (sodomi) seperti melibatkan Abdullah Mujazi Pasir, Demak. Dia menggasak santri, bukan santriwati. Padahal punya anak dan istri. Ini yang saya sendiri tidak habis pikir. Dia itu pintar, ngalim, tapi kok kendhel nemen olehe ngawur.
Berikut 6 judul esai saya mengkritik 4 tipe kiai kurangajar:
- Jika Kiai Pengasuh Santri Hilang Rasa Malu
- Empat Jenis Kiai yang Harus Dihindari
- Pengalaman Saya Melawan "Kiai Sakti" Nasir Muhyi
- Jangan Beriman Kepada Kiai Klenik Halu
- Godaan Kiai Cluthak dan Jelalatan
- Kiai Ndawir Bisa Cepat Kaya Bermodal Bohong
Amanat berat manuk bisa menimpa siapa saja. Tidak peduli wong pinter, wong sugih, wong kere, wong sakti, kiai, ustadz, habib, semua punya potensi yang sama. Untuk menghindarinya, mripat memang seharusnya dijaga (ghoddul bashor), nikah lagi, atau tirakat puasa.
Memang berat jadi penyandang gelar kiai. Dia jadi rujukan, tapi memiliki tabiat manusia pada umumnya, punya kenyamanan memiliki banyak harta, punya syahwat, ingin dihormati, dan semua itu bisa menjadi sumber kelemahan. Kesalahan yang biasa dilakukan orang bodoh, jika menimpanya, akibatnya bisa berlipat ganda. Mesakke tenan dadi kiai kuwi.
Tapi, kita tidak boleh diam. Korban harus dibela. Tidak boleh diam hanya untuk menjaga marwah kiai saja. Tirulah Rasulullah Saw, yang akan tetap menghukum Sayyidah Fathimah, putrinya, jika melakukan kesalahan. Justru dengan tegaknya keadilan atas korban kedhaliman, hukum bisa tegak. Sayyidina Umar pernah menghukum anaknya hingga mati karena zina sampai korban hamil. Justru karena ini, keadilan Islam masih tegak sampai sekarang.
Tapi, jika ada kiai yang begitu, jangan lah kau titipkan anakmu dibesarkan ilmunya olehnya. Anakmu iso ketularan orak amanah. Pinter ngapusi. Ra ngandel? Jajalen! [badriologi.com]
M. Abdullah Badri, penulis Kitab Riq Daqiq, nadhom Adab Rumah Tangga dan Fiqih Nikah.





