Bebaskan Ngabul dari Orkes Tunilan! -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Bebaskan Ngabul dari Orkes Tunilan!

M. Abdullah Badri
Minggu, 31 Mei 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
orkes tunilan ialah orkes berbayar di tempat
Banner Bebaskan Ngabul dari Orkes Tunilan.


Oleh M. Abdullah Badri 


ADALAH Ngabul, desaku. Letaknya di tengah pinggiran kota. Jika kamu ke pusat kota Jepara, kamu pasti melewati Gapura "Jepara Bumi Kartini" dan Patung Tiga Putri, bila dari Kudus. Itulah desaku, yang sekarang jadi incaran EO (Event Organizer) ndableg mengadakan orkesan berbayar (tunilan). 


Ngabul punya lapangan publik. Lapangan inilah yang selalu jadi kontroversi karena petinggi dan warga lingkungan membolehkan adanya pertunjukan orkes tunilan atas nama perut. Syuronan, hari Tasyriq, seperti Sabtu kemarin (30 Mei 2026), tetap main. Masuk wajib membayar, nilainya bisa ratusan. 


Dikomplain oleh tokoh agama dan tokoh adat, pernah berhenti tapi main lagi. Begitulah petinggi Ngabul, Sholekan. Iya iyo iya iyo ning ngarep, tapi muspro. Saya ada bukti rekaman antara dia dan ketua adat dan Ketua NU. Dia berdalih, orkesan tetap jalan sebab sudah disepakati warga Erte lingkungan. Jika main siang hari, EO (selalu disebut EO Desa), Erte dapat kas 750, dan jika malam, dapat 1500. 


Demi kas, maksiat dibayar. Jika ada pihak yang tidak setuju, dalilnya warga. Jika kamu menolak, kamu dianggap menghalangi cuan warga. Mateni wong kampung. Apakah bila tidak ada orkesan, perut warga lapar? Jare sopo, mbok yo mikir. Bayaran tukang parkir 100 sewengi wae kok dianggep mateni. Maksiat kok sampe nabrak hari yang dilarang puasa. Hari haram (terhormat). Pas kapan lalu, malah malam Syuronan. Sing edan warga tah petinggine ngene iki?


Tidak ada peristiwa adat, budaya atau hajatan desa, lapangan Ngabul mudah disewa EO untuk orkesan. Katanya, warga sekitar membolehkan sebulan sekali orkes siang, dan 2-3 kali orkes malam dalam setahun, seperti tadi malam. Malam Minggu. Bila berjalan terus sesuai kesepakatan "yang diatasnamakan" warga, maka, Ngabul bisa jadi pusat terselenggaranya maksiat orkes besar 15 kali setahun.  


Menurut bakul di samping pasar Ngabul, lokasi orkes tadi malam sebetulnya sudah disewakan petinggi ke Bos ABC sampai lengser menjabat. Artinya, petinggi terjebak melarang apapun acara tunilan bila menggunakan tempat yang sudah disewa panjang. Tapi menurut tokoh agama yang saya temui tadi malam, tiap orkesan petinggi dapat jatah 10 juta. 


Kalau sudah begini, mau teriak apapun warganya, orak bakal digubris. Akan dibenturkan dengan warganya yang lain pasti. Ini soal cuan kok. Nek urusan duit, sifat asli manusia kelihatan. Apalagi bila benar bahwa lokasi tadi malam sudah "dijual" ke pihak ketiga. Petinggi sudah terjebak, mau tidak mau, harus menuruti, apapun caranya. 


Karang Taruna hanya dijadikan alat tukang parkir dan barangkali dapat cuan dari tarif per kendaraan. Wong Ngabul itu suka orkes gratisan? Trus, tadi malam siapa yang datang? Jawabannya: dari tempat lain, bukan orang Ngabul. Wong Ngabul mung kacung tempat maksiat orkesnya saja. Yang paling cuan ya EO, yang dianggap EO desa. Lambemu EO desa!


Bagiku, siapapun yang jadi petinggi nanti -semoga bukan Sholekan lagi- harus tegas melarang orkesan kecuali untuk keperluan hajatan warga, hajatan desa atau atas nama adat dan budaya. Itupun harus ada kafarat telah melakukan maksiat. Jangan kapitalisasi ruang publik untuk kepentingan pribadi yang mudah dibenturkan dengan warganya sendiri bila menolak. 


Bebaskan Ngabul dari Orkes Tunilan! [badriologi.com]


M. Abdullah Badri, lahir di Ngabul.

 

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha