![]() |
| Mengapa Sedekah Bumi Bersamaan? |
Oleh M. Abdullah Badri
DI JEPARA, sedekah bumi atau haul peringatan kematian leluhur umumnya diadakan secara bersamaan antara Bulan Syawwal-Muharram. Walaupun tidak ada kesepakatan tertulis, tapi desa-desa di Jepara bergantian menyelenggarakan kabumi atau sedekah bumi di bulan-bulan tersebut. Setahu saya, tidak ada yang menyelenggarakan sedekah bumi di Bulan Ramadhan, Sya'ban, Rejeb, Shafar, Mulud, Madil Awal, atau yang lainnya. Setidaknya di Jepara. Entah kalau di desamu!
Dan uniknya, dalam sedekah bumi, tradisi kumpul-kumpul, resik-resik, makan-makan, bagi-bagi, hiburan, selamatan, hingga tilik kubur dan pengajian jadi bagian dari cara menyemarakkan kegiatan. Bulannya berdekatan, acaranya pun mirip-mirip. Mengapa?
Jawabannya, karena di zaman dulu, bulan-bulan sedekah bumi adalah bulan hurum (mulia) bagi masyarakat agraris seperti Jawa. Di bulan ini, musim panen terjadi. Maka, untuk mengungkapkan rasa syukurnya, orang Jawa menyelenggarakan tasyakuran, seolah mereka ingin mengucapkan kepada bumi, "jazakumullah bumi, engkau telah memberi kami kelimpahan rejeki dan pangan. Karena engkau telah memberi kami kesejahteraan, kini, giliran kami bersedekah atas namamu".
Jadilah nama kegiatannya sebagai sedekah (ke) bumi. Pada momen sedekah bumi ini, masyarakat agraris di zaman dulu tidak sedang sibuk menanam benih di sawah, menyiram dan merawat tanaman mereka. Mereka sedang panen. Maka, untuk ditarik iuran bersama dan berkumpul bersama, sangat mudah dilakukan.
Acaranya pun identik dengan luapan terimakasih, seolah bergelimang. Makanya, ada tradisi mengingat leluhur (haul danyang) hingga gotong royong resik-resik (di beberapa desa). Ini sesuai dengan firman Allah Swt agar menunjukkan rasa syukur dengan mengingat jasa leluhur:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Terjemah:
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu". (QS. Luqman: 14).
Yang saya kritik adalah bila anggaran dangdutan dan orkesan lebih banyak dan tidak ada giat haul tahlilan dan selamatan untuk keselamatan seluruh desa. Bahkan, ada desa yang anggaran pertunjukan wayangnya ratusan juta, tapi tak ada anggaran syukur kepada leluhur. Iki sing kebangeten tenan!
Sejak 2016, saya mencatat makam-makam wali seluruh desa di Jepara. Hampir semua desa ada nama leluhur walinya. Hanya beberapa desa saja yang belum. Sekelas desa Bondo -yang banyak non muslimnya saja, ada nama walinya.
Setidaknya, ada lebih 600an nama waliyullah di seluruh desa di Jepara yang berhasil saya catat. Dan 50 diantaranya, sempat saya tulis jejak dan kisahnya dalam sebuah buku setebal 500an halaman. Hanya saja, saya belum menerbitkannya karena sumber saya "direct pusat". [badriologi.com]
M. Abdullah Badri, Ketua PC MDS Rijalul Ansor Kabupaten Jepara





