Rahasia Gus Baha' Tidak Mau Salaman dengan Seluruh Santri Damaran Kudus
Cari Judul Esai

Advertisement

Rahasia Gus Baha' Tidak Mau Salaman dengan Seluruh Santri Damaran Kudus

M Abdullah Badri
Kamis, 11 Juli 2019

santri gus baha salaman dengan kiai said aqil
Dalam sesi salaman Halal Bihalal sebelum ziarah ke Makam Mbah Asnawi sepuh Kudus, Gus Baha' tidak ikut di depan barisan tuan rumah menunggu puluhan santri Damaran yang ikut antri bersalaman dengan Kiai Said, Ahad malam (7 Juli 2019). 

Oleh M Abdullah Badri

GUS Baha' (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) adalah sosok kiai muda yang tidak haus popularitas, sebagaimana ustadz-ustadz Youtube, yang hanya ingin terkenal saja mereka harus membuat tim manajemen media profesional.

Pakaian khasnya mirip Gus Muwafiq, berpeci hitam lusuh kemana-mana dan bajunya pun selalu berwarna putih. Hanya sarung Gus Baha' saja yang biasanya berwarna selain putih. Tidak canggung pula naik bus umum pakai sandal jepit. Khas santri. Khas kiai NU pula.

Baca: Mengapa Gus Muwafiq Tidak Suka Berjubah dan Udeng-udeng?

Dalam ngaji rutinnya, yang kebanyakan berupa video-audio di Youtube, Gus Baha' mengaku memiliki keinginan diakhiri umurnya oleh Allah Swt. dalam kondisi yang bahagia, sederhana dan bahkan tidak dikenal oleh orang lain.

Takdir tidak bisa ditolak. Karena kealimannya, Gus Baha' populer tanpa manajemen media. Ratusan rekaman ngajinya diupload ulang oleh para Youtuber. Terang saja Gus Baha' tidak tahu-menahu soal hal itu. Hapenya saja bukan android, yang hanya bisa dibuat SMSan dan telponan saja.

Dulu, Gus Baha' tidak mau ada santri yang datang ke rumahnya di Narukan atas nama sowan. Kalau datang ke Narukan, kok sang santri punya keperluan ngaji, ia tolak tegas agar ikut ngajinya pas ada jadwal ngaji saja, di beberapa tempat yang tersebar di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Saat diminta mengisi acara pengajian umum di Menara Kudus 27 Ramadhan 1440 H lalu misalnya, bila tak ada alasan bagian dari keluarga Damaran Kudus (Nyai Hafshoh), Gus Baha' tidak akan bersedia mengisi pengajian yang dihadiri ribuan hadirin tersebut.

Baca: Rutinan Ngaji Gus Baha' dan Sejarah Pengasuh Pesantren Mazro'atul Ulum Damaran 78 Kudus

Atas nama keluarga dan ikatan satu sanad guru satu sanad ilmu, Gus Baha' baru bersedia menghadiri undangan ngaji publik. Ini pula yang diutarakan Gus Baha' saat bersedia ngaji di Ponpes Bumi Shalawat Sidoarjo, asuhan KH. Ali Masyhuri. Gus Baha' bersedia menjadi penceramah karena Gus Ali Mayshuri adalah sahabat akrab abahnya, KH. Nur Salim (Narukan).

Pada akhir Juni 2019 lalu, Gus Baha' juga menolak undangan pengajian sebuah acara Harlah Madrasah di Jepara, yang panitianya datang-sowan ke Narukan pinjam atas nama keluarga dari Mbah Hafsoh. Ia tolak halus dengan alasan; panitia dianggap memanfaatkan nama keluarganya "untuk memaksa mau datang".

Ketika di panggung pun, Gus Baha' tidak mau tampil seperti penceramah, yang biasanya diawali dengan muqaddimah panjang. Gus Baha' lebih suka menggunakan awalan "Al-Fatihah" seperti ketika ngaji kitab kuning bersama santri di beberapa lokasi rutinan ngaji bersamanya. Sebagaimana pula Gus Baha' lebih suka berpeci hitam dengan alasan, "sudah terbiasa mengikuti larangan peci putih bagi santri Sarang".

Di Sidoarjo, Gus Baha' sempat diminta memakai rida' (surban) putih oleh Gus Ali Masyhuri. Karena tidak terbiasa, ia memakainya sebentar, lalu dicopot. "Tidak terbiasa," katanya. Kealiman Gus Baha' yang diakui oleh Habib Quraish Shihab itu tersembunyi di balik kesederhanaan Gus Baha' yang memang sangat biasa saja, sebagaimana ia selalu menyarankan kepada para santrinya dengan kalimat "biasa-biasa saja" atas semua hal, menghadapi semua hal, alias jangan mudah kepincut (tergiur) dan gumunan (gampang heran dan kagetan).

Selain Habib Quraish Shihab, KH. Maimoen Zubair juga mengakui kealiman Gus Baha' sampai pernah mengatakan:

"Santri ya kayak Baha' iku. Dia muridku yang paling alim dan tidak akan ada yang lebih alim darinya, baik sebelum maupun sesudahnya".

Demikian riwayat yang masyhur di kalangan Santri Sarang, Rembang.

Pengakuan atas kapasitas keilmuan Gus Baha' ini mengingatkan penulis kepada sosok murid Mbah Arwani Amin Kudus bernama KH. Muhammad Thosin allah yarham  (Surodadi, Kedung, Jepara), yang sangat disegani bahkan oleh mertuanya sendiri karena beliau hafal puluhan kitab di luar kepala hingga qira'at sab'ah.

Baca: Kiai Shobari Bugel Jepara: Galak Ngaji Tapi Dicintai

KH. Said Aqiel Siraj sendiri juga mengakui kealiman Gus Baha'. Saat hadir dalam Silaturrahim Halal Bihalal Napaktilas Kiai Said ke Pesantren Leluhur: Damaran 78 Kudus pada Ahad malam, 7 Juli 2019 lalu, sebelum diberi mic oleh Gus Baha' agar menyampaikan ular-ular (pesan) kepada para santri, Kiai Said berkata kepada Gus Baha' begini:

"Ntar kalau saya salah langsung dikoreksi lo yah".

Saat Halal Bihalal di Damaran itulah penulis melihat Gus Baha' langsung menuju ndalem inti ponpes. Sementara Kiai Said terlihat masih bersedia dan tengah menyalami seluruh santri yang halal-bihalal. Gus Baha' seolah terkesan lari ketika para santri sibuk antri salaman dengan Kiai Said.

Penasaran penulis atas laku ganjil Gus Baha' sebagai tuan rumah itu lumayan terpikir hingga terbawa pula dalam mimpi. Begini cerita penulis kepada sahabat-sahabat pengasuh harian Ponpes Damaran 78 Kudus di grup WA:

Tadi siang (Senin, 8 Juli 2019), saya juga mimpi bertemu Gus Baha' di Damaran 78. 

"Kok jenengan pas ada kiai Said tidak ikut salaman Halal Bihalal, Gus? Malah langsung ke ndalem, nunggu Kiai Said rampung salaman?" Kata saya dalam mimpi. Ini memang jadi pertanyaan batin saya di dunia nyata. 

Gus Baha' menjawab: 
"Aku wedi atiku goyah kang". 

Trus ngendikan pakai kaidah Bahas Arab. Saya lupa kalimatnya. Sekitar kalimat كى لا تدان (supaya tidak di"din"-kan atau didekatkan dengan مدائم الأخلاق). Artinya, supaya hatiku tidak ada merasa bangga diri disalamin para santri. 

Pertanyaan saya habis mimpi: 
"Apa Gus Baha' memang sering tidak mau disalami bergantian dengan para santri?" 

Bener ngoten (begitu) kang-kang kiai?

Ini jawaban yang penulis dapatkan:

"Bahkan tadi malam sebelum kundur (pulang). Sampai-sampai saya celuluk, Gus..salim. Maksudku adalah untuk anakku dan anak kang Ali Imron. Beliau yang sudah akan bergegas, langsung balik kanan dengan bilang: aneh-aneh, saya saja jarang salaman". (Respon Kang Kiai Fadhil)

Baca: Usai Ceramah Gus Muwafiq di Istana, Banyak Duta Besar Menangis

Karakter sederhana Gus Baha' memang sedemikian biasa, apa adanya, demi menjaga hati agar tetap utuh merasa jadi makhluk Allah Swt. dan tidak tersimpan ke-aku-an yang tumbuh karena nafsu syaithoniyyah. Justru dari situlah letak kealiman Gus Baha' sesungguhnya, menurut penulis.

Ketika Gus Baha' pulang ke Narukan usai pamitan dengan Kiai Said, penulis sempat salaman juga. Dan bersedia disalamin, tapi masih saja bilang begini:

"Kuwe iki, sing gawe goro-goro," kata Gus Baha', lalu meluncur pulang.

Ampun Gus! Hahaha. [badriologi.com]