Usai Ceramah Gus Muwafiq di Istana, Banyak Duta Besar Menangis
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Usai Ceramah Gus Muwafiq di Istana, Banyak Duta Besar Menangis

M Abdullah Badri
Selasa, 04 Juni 2019
Loading...

kisah dibalik ceramah gus muwafiq di istana negara bogor
Gus Muwafiq saat ceramah Maulid Nabi di Istana Bogor, Rabu (21/11/2018). Foto: Republika.com 
Oleh M Abdullah Badri

TIDAK banyak yang mengetahui kisah dibalik ceramah Gus Muwafiq di Istana Negara Bogor pada Rabu (21/11/2018) silam. Cerita dalam esai ini saya dapatkan beberapa kali saat ngobrol santai dengan beliau, di tempat ngaji maupun di rumah beliau, Jombor.

Untuk mengundang Gus Muwafiq, istana presiden perlu dua tahun agar waktu ceramah di desa-desa dan di daerah bisa disingkronkan dengan jadwal kegiatan istana yang memang tidak bisa ditawar. Kiai NU satu ini memang aneh.

Sebelum masuk ke istana pun, Gus Muwafiq enggan diatur oleh protokoler istana, yang biasanya harus berpenampilan rapi, pakai celana, lengkap dengan dasi sebagaimana tamu undangan lain. Karena tidak bisa menggunakan pakaian resmi kenegaraan, Gus Muwafiq sampai bilang ke penjaga gerbang, yang intinya begini:

"Yang ngundang saya itu presiden, kalau presiden tidak mau saya berpenampilan seperti ini, saya boleh diganti. Kalau santri saya di belakang ini ya silakan diwajibkan berpakaian resmi istana, karena dia hanya menemani saya," kata Gus Muwafiq.

Baca: Gus Muwafiq Kagum ada Dokter Kenthir Undang Ceramah Pengajian

Kontan saja yang mendapatkan omongan Gus Muwafiq begitu ketakutan. Akhirnya, yang menjadi korban ketertiban pihak istana adalah Cak Fathur, santri yang selalu nderekke beliau terbang kemanapun pergi ngaji.

Satu hal yang diamini oleh Gus Muwafiq tentang rencana kehadiran beliau ceramah di istana negara. Yakni, membuat makalah. Makalah itulah yang tiga hari pasca di istana, saya diberi copian nya langsung. Katanya, beliau menulis makalah tersebut sambil tiduran dan hanya butuh waktu dua jam menulis di depan laptop.

Inti makalah tersebut disampaikan Gus Muwafiq saat ceramah, meskipun tidak dengan membacanya karena dianggap menganggu konsentrasi ceramahnya.

Saat ceramah, Gus Muwafiq lumayan terganggu dengan buah salak. Ceritanya begini. Biasanya, seorang penceramah akan naik mimbar setelah Presiden berbicara. Beliau mengetahui protokoler ini karena pernah menjadi santri Gus Dur bahkan saat menjabat sebagai Presiden RI.

Merasa masih ada waktu sebelum naik berceramah, Gus Muwafiq akhirnya mengonsumsi hidangan yang disediakan, yakni buah salak. Ternyata, sebelum salak habis, nama beliau diundang oleh master ceremony. Tepaksa langsung baik ke mimbar tanpa membilas tangan dan minum air putih. Gara-gara salak inilah ceramahnya terganggu suara serak beberapa kali.

Presiden Jokowi sengaja tidak mengambil waktu sambutan beliau karena presiden menginginkan full waktunya dipakai Gus Muwafiq untuk berceramah. Gara-gara inilah, jadwal ceramah yang harusnya berdurasi 30 menit menjadi 45 menit (akhirnya berdurasi 46 menit). 15 menit terakhir harusnya jatah pidato Presiden Jokowi.


Saking tuman dengan ceramah Gus Muwafiq yang menarik dan menentramkan, saat ada acara di Pekalongan dua hari berikutnya, beliau diminta kembali Presiden Jokowi untuk berceramah. Tapi karena posisi waktu itu ada di pedalaman Madura untuk ngaji juga, permintaan itu tidak berhasil dipenuhi Gus Muwafiq.

Bila Presiden Jokowi sangat tertarik dengan ceramah Gus Muwafiq, bagaimana dengan para tamu dan duta besar negara sahabat yang diundang ke istana negara? Mereka bukan hanya tertarik, tapi menangis haru karena cara menyampaikan nilai-nilai dakwah Gus Muwafiq dianggap berbeda dan penuh dengan nilai persatuan.

"Andai ada banyak ulama seperti antum ya syaikh, negeri kami tidak akan porak-poranda seperti sekarang," kata beberapa duta besar yang menyalami Gus Muwafiq dan memeluknya dengan tetesan air mata haru.

Baca: Sowan Gus Muwafiq, Bule dari Basten Bingung Karena Ini

Tangis mereka adalah suara hati atas beban bangsa mereka yang hancur karena adudomba dari para penceramah yang menggunakan agama sebagai politisasi. Tangis mereka adalah jeritan konflik bangsanya, yang bagi duta besar tersebut adalah perkara nyata, dan bukan diada-adakan.

Banyak tamu dengan celana ngatung dan jenggot panjang yang mengucapkan selamat kepada Gus Muwafiq usai ceramah. Ada diantara mereka yang mengucapkan thayyib, barakallah, dan kalimat lainnya. Tiba-tiba saja hilang segala sekat ideologi politik agama mereka saat bertemu langsung dengan Gus Muwafiq. Dan merasa bangga berbangsa Indonesia.

Gus Muwafiq sengaja berpakaian tidak sesuai dengan protokoler istana karena beliau ingin menunjukkan: inilah tampilan hakiki kiai NU. Meskipun sederhana, tapi ruh dan jiwanya menyatukan bangsa. Ya, begitulah kiai NU yang sebenar-benarnya ada. [badriologi.com]
Loading...