Sowan Gus Muwafiq, Bule dari Basten Bingung Karena Ini
Cari Judul Esai

Advertisement

Sowan Gus Muwafiq, Bule dari Basten Bingung Karena Ini

M Abdullah Badri
Selasa, 04 Juni 2019

sowan gus muwafiq untuk mengundang ceramah
Bule-bule yang datang sowan ke rumah Gus Muwafiq di Jombor dibuat heran karena sistem administrasinya tidak ada. Bahkan yang ditemui mereka adalah santri dan tamu beliau yang lalu-lalang pamit dan datang tanpa terdaftar sebagai tamu dalam buku administrasi. (Foto: Detikcom - saat wartawan detik sowan di Bulan Ramadhan 1440 H). 

Oleh M Abdullah Badri

BEBERAPA bulan silam, Gus Muwafiq didatangi tamu dari luar negeri hingga berkali-kali. Tidak ada keperluan yang jelas, untuk apa dan demi apa mereka datang ke rumah beliau di Jombor, Yogyakarta.

Bule itu ada yang berasal dari Swiss, Basten, dan lainnya. Secara bergiliran mereka tiba-tiba saja tertarik dengan popularitas Gus Muwafiq yang pada akhir tahun 2018 lalu memikat banyak jamaah karena ceramahnya yang lucu, konsisten dan penuh dengan konten sejarah.

Aktivitas mereka di Jombor hanya mendokumentasikan kegiatan Gus Muwafiq. Gus Muwafiq naik sepeda bersama putrinya saat hujan pun dishooting. Mereka terheran, sekelas kiai Presiden masih tidak pilah-pilih aktivitas.

Kata Gus Muwafiq, awal sowan mereka ke Jombor dibuat bingung. Pasalnya, yang dicari mereka untuk pertama kali adalah bagian administrasi. Jelas saja mereka kesulitan, karena rumah kiai di Jawa bukan rumah konsultasi, yang per jam bisa ditarif hingga jutaan rupiah. Mereka tidak mengenal tradisi berkah sowan kiai. (Baca: Kebiasaan Mbah Makshum Lasem Sowan ke Para Santri “Ngisor Gedang”)

Saking bingungnya mencari pendaftaran sebagai tamu, bule-bule itu sampai menelisik ke belakang rumah. Bukannya menemukan ruang tapi justru menemukan kandang ayam dengan pojok kamar berisi santri ngorok sedang tidur pulas. Hahaha.

Bagi bule tersebut, kata Gus Muwafiq, orang yang datang ke rumah orang lain untuk keperluan konsultasi misalnya, harus ditarif dengan biaya yang tidak murah. Di negerinya sana, puluhan tamu yang datang adalah bagian dari pundi kapitalisme bagi mereka yang menjual jasa hukum, psikologi, pendidikan, bisnis, dan lainnya.

Bule itu tambah heran mengingat para tamu yang datang pun, selain tidak mendaftarkan dirinya dengan biaya, mereka juga tidak memberikan apapun secara wajib kepada tuan rumah sebagai imbalan.

Baca: Gus Muwafiq Kagum ada Dokter Kenthir Undang Ceramah Pengajian

"Ini jenis bisnis apa kok sembarangan begini?" Gumam bule Basten melihat lalu-lalang tamu tanpa terdaftar sama sekali nama dan alamat mereka satu-persatu.

Itulah yang disebut Gus Muwafiq sebagai sistem sosial tradisi mertamu (menjadi tamu) yang di Nusantara masih berlaku efektif tapi peradaban kapitalisme Barat tidak mengenalnya. Di Barat, kata beliau, semua disistem dengan uang sebagai pengendali.

Misalnya, beliau menyontohkan, bila ada orang berkendara pakai motor di jalan yang hanya khusus boleh dilewati oleh pengedara mobil roda empat, lalu dia kecelakaan hingga mati, entah ditrabrak, atau kecelakaan tunggal, para pengendara mobil lainnya tidak akan menolong dengan alasan dia melanggar aturan berkendara.

Sistem sosial kita tidak sampai membuat manusia Indonesia menjadi individualis seperti itu. Ada orang kecelakaan pasti akan banyak ditolong meskipun dia yang salah dalam berkendara. Paling-paling hanya akan dibully oleh orang lain. 

Sistem sosial seperti itulah yang tidak akan ditemui dalam peradaban Barat. Termasuk soal akhlak dan dan tuan rumah. Barat tidak mengenal sedekah dan bisyarah seperti dalam tradisi santri NU. Maka, bila bule-bule sowan ke Gus Muwafiq dan tidak ditarik biaya, bagi mereka sangat aneh. [badriologi.com