Kiai Shobari Bugel Jepara: Galak Ngaji Tapi Dicintai

kh sulaiman ismail bugel mertua kiai shobari adalah mursyid thariqah khalidiyah naqsyabandy
Kiai Shobari (paling kiri berkacamata) saat foto bersama dewan guru Madrasah Muallimin, Bugel, Kedung, Jepara.
Foto: dokumen keluarga dan madrasah
Oleh M Abdullah Badri

TIDAK banyak yang paham dengan sosok Kiai Shobari Bugel, Kedung, Jepara. Usianya singkat saat meninggal. Tapi, dalam memori para muridnya di Madrasah Mathali’ul Huda, nama Kiai Shobari masih diingat sebagai sosok guru yang galak dan tegas ketika mengajar.

Salah satu muridnya adalah Kiai Nafi’ Surodadi, Kedung, Jepara. Menurutnya, Kiai Shobari aslinya dari Wanusobo (Kedung, Jepara) , sebelum kemudian dididik oleh KH. Sulaiman Isma’il Bugel, dan dinikahkan dengan putrinya, A’isyah, sepulang dari mondok 9 tahun di Sarang. Kiai Shobari adalah putra dari Mbah Kasbun bin Mukardi bin Mat Rais. 

Mbah Kasbun adalah sosok ayah yang sederhana, seorang petani dan nelayan yang sangat mencintai para ulama dan kiai, dengan harapan kelak keturunannya banyak yang menjadi seorang alim dalam ilmu agama.

Saking harapannya yang besar itu, Mbah Kasbun —sebagaimana diceritakan Kiai Nafi’— dikenal warga sangat taat beribadah dan ta’dhîm kepada ulama. Saat berangkat jamaah ke masjid/mushalla misalnya, Mbah Kasbun sering berangkat lebih pagi daripada imamnya, karena ingin duduk di belakang imam persis.

Untuk menunjukkan kecintaannya, Mbah Kasbun juga rajin merapikan sandal imam shalat usai jamaah di mushalla. Alhamdulillah, Allah Swt. mengabulkan harapannya dengan lahirnya Kiai Shobari.

Karena tergolong tidak mampu, Kiai Shobari sejak kecil dididik oleh Mbah KH. Sulaiman bin Isma’il, Bugel, yang selain menjadi mursyid thariqah Khalidiyah Naqsyabandiyah, juga berprofesi sebagai tukang bengkel sepeda.

Mbah Sulaiman merasa prihatin ada anak cerdas tapi tidak mampu sekolah. Di rumah Mbah Sulaiman yang terletak di sebelah Barat masjid thariqah inilah, Kiai Shobari dididik secara intens oleh ayah asuhnya, Mbah Sulaiman.

Di luar itu, Kiai Shobari juga berguru kepada KH. Muhammad Thosin, Surodadi, Kedung, Jepara —murid Qira’ah Sab’ah KH. Arwani Amin Kudus. Ia sering ngonthel dari Bugel ke Surodadi, yang jaraknya sekitar 10 kilometer, hanya untuk talaqqî (ngaji sorogan) Al-Qur’an kepada Kiai Thosin.

Kepada Kiai Thosin inilah, Kiai Shobari sema’an (sima’: mendengarkan) Al-Qur’an setelah menghafalkan Al-Qur’an secara mandiri di rumah selama enam bulan sambil mbopong (menggendong) putri pertamanya, Qomariyah, tiap pagi. Cerita ini dituturkan oleh putra KH. Muhammad Thosin, KH. Nur Huda, yang juga teman Kiai Shobari di jamiyyah qur’anan idarahan bulanan.

Murid Kiai Thosin Surodadi

Sepertinya, Kiai Shobari meniru Kiai Thosin ihwal penguasaan kitab kuning. Pasalnya, Kiai Thosin bukan saja dikenal sebagai hâfidzul qur’an (penghapal Al-Qur’an dengan 7 qirâ’at), tapi juga hapal 15 judul kitab, antara lain Kitab Alfiyah, Jumân, Fathul Mu’în, dan lainnya. (Biografi Kiai Thosin insyaAllah tayang dalam bentuk buku dan artikel pendek)

Kiai Nur Huda menyebut Kiai Shobari sebagai sosok Kiai Bugel, yang disegani pada zamannya, karena ilmu kitabnya yang mumpuni dan banyak hapal teks kitab di luar kepala.

Banyak saksi menyebut, saat bahtsul masâ’il, Kiai Shobari selalu memiliki referensi kitab yang dijadikan sebagai jawaban atas sulitnya as’ilah (pertanyaan). Sempat pula dijadikan rujukan para kiai soal masalah waqî’iyah (aktual terjadi) di Kabupaten Jepara.

Saat mengajar di Mathali’ul Huda Bugel, Kiai Shobari juga mengajar di pesantren asuhan KH. Mawardi Isma’il, Bugel —yang dikenal kiai nyentrik dan keramat. Di luar jam mengajar di sekolah, para murid Mathali’ Bugel banyak yang ikut ngaji sebagai santri kalong kepada Kiai Shobari.

Sepeninggal Kiai Mawardi, Kiai Shobari mengalihkan lokasi belajarnya di rumahnya, di depan rumah Mbah Sulaiman Isma’il Bugel. Saat itu, jumlah santri kalongnya mencapai ratusan orang hingga halaman rumah penuh disesaki para santri mengaji.

Padahal, di madrasah, beberapa murid Kiai Shobari bersaksi, cara mengajarnya sangat tegas dan galak. Namun siapapun yang mau mengikuti ketegasannya, banyak yang disebut-sebut berhasil mendapatkan berkah ilmu. Kalimat “utekmu!” dan “matamu!” konon, menurut Kiai Nur Huda, sering keluar dari Kiai Shobari saat mengajar di kelas tiap pagi.

Galaknya Kiai Shobari tidak membuat para murid dan santrinya menjauh. Sebaliknya, justru para muridnya masih banyak yang mengingat tentang ketegasan dan kecerdasan beliau.

Salah satu kiai yang dijadikan rujukan oleh Kiai Shobari adalah KH. Bisri Musthofa, Rembang. Saat mondok di Sarang (termasuk kepada Mbah Imam dan KH. Maimoen Zubair), Kiai Shobari sering sowan hanya sekedar menanyakan makna kitab yang sulit dipahami.

Saat mengajar pun, bila di tengah muthâla’ah kitab terdapat kata atau kalimat yang sulit dimaknai, beliau sowan kepada Kiai Bisri Musthofa, penulis Tafsir Al-Ibriz. Pengajian-pengajian Kiai Bisri selalu didatangi oleh Kiai Shobari di Jepara, meski harus mengayuh sepeda onthel puluhan kilo.

Sesibuk apapun, kitab kuning tidak pernah lepas dibaca dan dimuthâla’ah. Saat momong anak dan adik-adik iparnya yang masih kecil misalnya, kitab kuning tidak pernah dilepaskan.

Saking sibuk ngajar, ngaji dan muthâla’ah, Kiai Shobari diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap. Tapi saat iparnya yang masih kecil meminta uang jajan, uangnya selalu ada dan hanya diambilkan dari dalam lembaran kitab kuning di kamar yang dibukanya. Entah ilmu apa yang dimiliki, uang selalu tersedia sesuai kebutuhan, katanya. Tidak lebih dan tidak kurang. 

Sayangnya, sebelum memperluas ilmunya kepada masyarakat, Kiai Shobari sudah sowan ilâ rahmatillâh dalam usia muda, 40an tahun. Tiga tahun sebelum wafat, beliau meneruskan kepemimpinan tariqhah dari mertuanya, Mbah KH. Sulaiman Ismai’il, sebelum dilanjutkan oleh Kiai Ali (lalu mengalami fatroh), Kiai Makmun, Kiai Bedan (satu tahun, lalu fatroh) dan KH. Ahmad Mawardi.

Yatim yang ditinggal Kiai Shobari saat wafat ada lima: Qomariyah, Zainuddin, Syamsiyah, Zahrotul dan Udin. Dua anak terakhir menjadi hâfidz/hafidhah Al-Qur’an. Dan alhamdulillâh penulis adalah cucu pertama dari anak pertama Mbah Shobari bin Kasbun bin Mukardi bin Mat Rais, yang mewarisi galaknya saja. Hahaha. [badriologi.com]

Keterangan:
Semua sumber data tertulis dalam naskah ini, dinarasikan penulis dari hasil wawancara dan obrolan santai bersama teman sezaman Kiai Shobari, yakni KH. Nur Huda Thosin (di rumahnya), dan Kiai Nafi’, warga sekitar Surodadi yang menjadi saksi hidup saat menjadi murid. Senin malam, 4 Maret 2019. 

Klik untuk komentar
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah