Qofiyah Syair Arab Itu "Kunci" dan "Suci" -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Qofiyah Syair Arab Itu "Kunci" dan "Suci"

M. Abdullah Badri
Jumat, 15 Mei 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
qofiyah dalam ilmu arudl itu kunci dan suci
Syair Arab -selain Rojaz- wajib berqafiyah.


Oleh M. Abdullah Badri


BERKALI-KALI saya diminta mengoreksi puluhan syair namun saya tolak karena satu hal: sejak dari qofiyahnya (huruf akhir syairnya), berbeda-beda. Padahal, masih dalam satu qoshidah (minimal 9 bait). Begitu saya membaca qofiyahnya sudah berbeda, males moco wis


Hai, menulis syair Arab itu harus memperhatikan qofiyahnya jika kamu menyusun serius dalam satu wazan satu bahar berwibawa seperti Thowil, Basith, Wafir, Kamil, Hazj dan lain-lainnya. Jangan berganti-ganti qofiyah tiap 5 bait, padahal masih dalam satu rangkai qoshidah. 


Dalam tradisi syair Arab, beda rowi (huruf akhir) adalah aib yang ghoiru ma'fu (tak diampuni). Jagalah rowi qofiyah sampai akhir qoshidah. Tengoklah Burdah Al-Bushiri, sejak awal bait hingga akhir bait, qofiyahnya selalu mimiyah (berakhiran huruf mim) yang dikasroh (baca: mi). Secantik apapun bentuk kalam syair yang kamu pilih akan tetap qobih (jelek) bila rowi qofiyahnya berubah. 


Jika kamu menggunakan Bahar Rojaz (mustaf'ilun 6x), maka, setiap baitnya dianggap sebagai tashri' (independen/tak terikat). Sehingga, jika di bait pertama berakhiran mim, lalu, di bait kedua berakhiran huruf dal, dan bait ketiga berakhiran huruf kaf, itu tidak masalah. Sebab, antara arudl (akhir taf'ilat baris pertama syair) dan dhorob-nya (akhir taf'ilat baris kedua syair) sudah sama. Contohnya Alfiyah Ibnu Malik. Tiap bait, huruf akhir arudl dan dhorob-nya selalu sama. Cek saja. 


Oleh karena itulah, Bahar Rojaz mampu disusun hingga ribuan bait sebab ia bukan termasuk bahar dalam Arudl yang dianggap berwibawa, melambai-lambai dan emosif. Nek Kuwe dolanan utowo guyon nyastra syair, gunakan lah Bahar Rojaz. Kalau kamu pakai bahar lain, kamu akan terikat wazan yang harus dijaga hingga qofiyahnya tidak boleh berubah. Jika tidak, kamu dianggap syadz (menyimpang).


Saya suka menyusun nadhom pakai Bahar Rojaz sebab kelonggaran intrinsiknya, yang bisa berubah-ubah akhiran hurufnya dalam setiap bait, dan ini sah secara Arudl. Di Rojaz, saya lebih leluasa mencari murodif atau mudhod-nya, sinonim dan antonimnya, yang sangat kaya dalam Bahasa Arab. Selain itu, saya menguasai jenis nadanya yang berbeda. Guyon pun gampang kalau pakai Bahar Rojaz. 


Yang menjaga qofiyah saja sering salah ambil wazan (maksur), apalagi yang tidak menjaganya. Wis tah, syair kok tidak berqofiyah, se-indah apapun artikulasinya, makno cacat kalau diucap. Sebab, syair Arab klasik itu juga mengukur ucapan loh yah. Syair bukan hanya ditulis, tapi juga diucapkan. Kalau bait pertama diucapkan bibir berbunyi "mi", lalu di bait kedua ganti berucap "mu" di akhir baitnya, kuping bakal nantang-nantang, "iki syair cap opo". 


Makanya, qofiyah dalam syair Arab itu "kunci" dan "suci". Beda harokat saja dianggap aib, apalagi beda huruf. Aibnya ghoiru ma'fu (ora dingapuro). Kalau ingin lebih lanjut memperdalamnya, baca buku saya berjudul: "Nuhudlul Kafi" (200an halaman). Teori penuhnya ada di sana. 


Kembali saya tegaskan, saya tidak akan pernah meneruskan membaca nadhom atau syair yang disusun dengan bahar berwibawa tapi qofiyahnya beda walaupun tersusun sampai puluhan bait melambai melebai. Males! Marai tuman! Wis dikandani bolak-balik iseh ora merhatikno. []


M. Abdullah Badri, penulis Buku Arudl "Nuhudlul Kafi"


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha