![]() |
| Percakapan tentang sikap guru ke murid. |
Oleh M. Abdullah Badri
SAYA pernah punya anak murid ngaji yang ketika datang, beberapa tahun sebelumnya, dia mengaku niat ikhlash ngaji ke saya. Sregep tenan. Tiap pekan datang. Bahkan, pas posonan, dia minta ngaji khusus. Tapi, setelah beberapa tahun ngaji, dia kecewa dengan temannya, yang saya bela dalam sebuah konflik tidak penting, recehan. Saya pun ikut dibenci olehnya.
Dia sampai ajak-ajak teman-teman ngaji lainnya agar stop ngaji ke saya. Mereka tidak ada yang menggubris. Saya pun tidak pernah merespon selama berbulan-bulan. Puncaknya, kala dia datang mengembalikan kitab yang saya kembalikan kepadanya, karena kitab itu dia jual ke teman-teman ngaji lewat saya. Ya emoh lah saya. "Iki kitabmu, dol dewe". Dia untung, saya hanya penyedia.
Wis gething, iseh nitip kitab. Ra nduwe isin.
Selain itu, dia mengembalikan sertifikat Rijalul Ansor yang pernah saya berikan padanya karena dia pernah membantu saya dalam program turots. Gara-gara inilah, saya marah kepadanya. Bukan menghina saya, tapi menghina penghargaan GP. Ansor yang pernah saya berikan atas nama ketua Rijalul Ansor Jepara.
Ternyata, dia toksik. Kepada ibunya pernah menghardik, kepada teman Ansor suka ngrasani, diingatkan tidak mau, dan kepada kiai NU ranting dia sak karepe dewe, tidak mau diarahkan. Ngajinya dia di Mantingan pun dihentikan jama'ahnya sendiri, di Ansor dia tidak lagi struktural (ora kanggo), dan kini, konon kabarnya, dia nelek sana-sini, minjam sana-sini, sulit ditagih.
Pernah menjadi guru di sekolah, keluar karena melawan kepala sekolah, dengan customernya pun sulit mendapatkan kepercayaan. Akhirnya, dia didapati sering ndawir ke sana kemari untuk memenuhi kebutuhan dua anak dan satu istrinya. Sudah durhaka ke orangtua, dia juga durhaka ke teman dan juga pelanggan serta kenalan barunya.
Ilmu bagi pemilik jiwa labil tidak akan bisa diamalkan. Apalagi bagi yang membenci muallim. Ora bakal nyanthol blas ngelmune.
Dalam kasus di SS ini, yang marah adalah gurunya. Muridnya diminta supaya mohon maaf. Tapi ketika minta maaf, malah diam. Ini bukan adab muallim. Dia takut tidak dihormati, dan takut kehilangan wibawa.
Kata Imam Nawawi di Kitab At-Tibyan, adab muallim itu tidak mencegah murid berguru kepada guru lainnya. Cukup berkata saja: dulu dia pernah ngaji kepada saya, saya doakan supaya dia mengamalkan ilmunya lebih dari yang saya amalkan.
Muallim sejati tidak pernah berubah, baik ketika muridnya banyak atau menghilang semuanya. Saya ngeklaim paling tahan soal ini. Sebab, wis kulino di-ece kiai-kiai berkepentingan. Hahaha. [badriologi.com]





