Aku Menolak Orkes Kamu Tidak Setuju, Baca Ini! -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Aku Menolak Orkes Kamu Tidak Setuju, Baca Ini!

M. Abdullah Badri
Selasa, 02 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
jika kamu tidak menolak orkes dangdut
Jika kamu menolak saya karena saya menolak orkes dangdutan, bacalah banner ini!


Oleh M. Abdullah Badri


PADA akhir tahun 2025, saya sempat akan diajak mencarikan kiai oleh seorang bapak yang keponakannya edan tidak waras sebab telah kecanduan alkohol. Sejak lulus SMA -kalau tidak salah-, dia suka mendatangi orkes. Berapapun biayanya, dia bakal bayar. Maklum, uang selalu ada. Bisnis mebelnya lumayan sukses. 


Ketika menikah, dia kecewa terhadap istrinya yang menggugat cerai. Pelampiasannya pun minum, mabuk sampai klenger. Sebab, lingkungannya memang anak-anak suka gendeng. Ibunya yang berkali-kali memperingatkan bahkan sampai pernah ngepruk dia berkali-kali. Tidak mempan. Bahkan, si keponakan ini mulai berhutang ke teman-temannya, dan tidak dibayar. 


Nah, karena sudah kecanduan, dia sering klenger. Tak ada hari tanpa klenger. Overdosis. Akhirnya, demi menghindari teman-temannya yang suka minum sampai tidak sadar, dia dititipkan ke buleknya yang tinggal di Jawa Timur. Harapannya, dia tidak punya akses lagi terhadap komunitas gendeng. 


Saat di sanalah saya diajak konsultasi mencarikan kiai yang bisa nambani. Sebab, RSJ sudah tidak sanggup mengatasi. Saya sudah memberi arahan. Saya tunggu sebulan, tidak ada kabar. Ternyata, si keponakan itu sudah meninggal 7 hari lalu. Sudah hari ke-tujuh. 


Ketika dijemput, mulutnya keluar unthuk, tanda gendeng. Ternyata, di Jawa Timur dia tidak berhenti. Di bawalah dia ke RS Jepara. Dan dia meninggal secara tragis di sana. Ini kisah edukatif untuk kita semua. 


Begitulah nasib penyuka orkes, yang satu paket dengan botol gendeng. Jika kerasnya saya menolak orkes dangdut di Jepara dianggap tidak dapat bagian, merasa sok suci, benar sendiri, tunggulah nasib keluargamu yang bisa jadi serupa dengan kisah yang saya tulis di atas. 


Botol gendeng sudah diharamkan negara dan agama. Dangdutan juga dibatasi. Kok iseh dilakoni, sak karepmu. Lihatlah, keluarga yang suka orkes dan botol, uripe ruwet-ruwet biasane. Ngombe, zina, mateni, kuwi dosa sing bakal nular. Bahkan, bapakku sendiri pernah melarang anaknya berjodoh dengan calon yang mbahnya pernah melakukan dosa besar seperti disebut. Nular. 


Sing zino, deloken, Mbah-e, Pak-ne, Buk-ne, tahu ngelakoni po gak? Sing ngombe, deloken, duwure pernah nglakoni po gak? Mayoritas iya. Zino kuwi dosa utang loh. Sing nanggung anak. Semono ugo ngombe, dosane utang. Anak putu sing bakal nanggung. 


Makanya saya keras menolak orkesan. Bukan karena saya merasa benar, tapi aku sayang kepadamu. Jika kamu tidak setuju caraku, meneng wae, daripada ente keno awune. Ada kisah dari Kudus, seorang ayah tidak mau jadi imam tahlilan padahal ia kiai dan bisa tahlilan, akhirnya, anaknya jadi orang anti tahlilan, jadi wahabi, gething karo kiai. Yahaba kan!


Begitu pula, nek dirimu tidak setuju aku menolak orkes dangdutan, meneng wae! Bila tidak, ada potensi anakmu, dulurmu, atau orang dekatmu, akan jadi korban dosa lanjutan dangdutan: ngombe, medok, bahkan bisa saja mateni. Semua ini bisa terjadi di lokasi gendeng bernama panggung orkesan loh. Pikiren nggo akal sehat. Aku ora nyupatani, tapi iki pengalaman terjadi. Nyata. 


Jika ingin dangdutan, sendirian saja, di rumah. Karaokenan. Atau, undang grup musik ke rumah, nikmati sendiri, fokus hiburannya, jangan pakai sound horeg, dan jangan dekati botol gendeng. Tapi ngene iki ya tetep angel nek ora mekak nafsu. [badriologi.com]


M. Abdullah Badri, yang sayang kamu!


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha