![]() |
| Terimakasih ojinger ahli mencaci maki! |
Oleh M. Abdullah Badri
TERINSPIRASI dari gerakan saya amar makruf nahi mungkar, Kiai Maimun Zubair alias Abu Naufal Al-Banari menulis sebuah kitab berbahasa Arab dengan judul "Ad-Duror wal Ghuror" (Mutiara dan Kilauan). Tebalnya 44 halaman. Belum dicetak karena baru rampung ditulis, tapi saya sudah membacanya secara full. Bahkan ikut mengoreksi typo redaksinya.
Oleh Abu Naufal, kitab ini disebutnya sebagai "hadiah khusus" untuk saya. Tentu saja saya senang dan sangat terharu. Ternyata ada yang mengapresiasi perjuangan saya menolak kemaksiatan di Jepara dalam bentuk kitab yang mudah saya pahami.
Dalam kitab tersebut dikatakan, satu orang mushlih (مصلح), reformator, lebih utama daripada seribu orang sholih (صالح). Sebab, orang sholih hanya baik untuk dirinya sendiri, sedangkan seorang mushlih, berbuat baik kepada orang lain. Mushlih adalah penegak amar makruf nahi mungkar. Bila tipe mushlih ini ada dalam suatu wilayah, Allah Swt menjamin tidak akan merusak wilayah itu. Bacalah:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
Terjemah:
"Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim sedangkan penduduknya berbuat kebaikan" (QS. Hud: 117).
Dalam ayat itu, Allah Swt menggunakan redaksi مُصْلِحُوْنَ (yang berbuat kebaikan, cq: amar makruf nahi mungkar). Bukan صالحون (orang-orang sholih). Tentu saja, mushlih akan banyak ditantang, dihina, direndahkan dan bahkan dipenjara dan dibunuh. Karena itulah, gandengan seorang muslih adalah sabar, sebagaimana firman Allah Swt:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ
Terjemah:
"Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu". (QS. Luqman: 17).
Penegak kebenaran (mushlih) akan selalu dihambat. Pasalnya, apa yang mereka katakan dan apa mereka peringatkan bertentangan dengan kesenangan, hobi buruk dan budaya yang tidak sesuai syariat Allah Swt dan Rasul-Nya. Bahkan, tidak jarang perlawanan yang terjadi dengan menyakiti, yang sangat bisa disokong oleh sultan (penguasa).
Walaupun tidak sampai disak-iti, ketika saya mengkritik orkes dan banyu gendeng, cangkem elek bertebaran di banyak tempat. Hanya dengan sabar lah saya menghadapi, dan diam. Kadang membalas sekenanya. Ini adalah jalan kenabian dan kerasulan. Karena itu, yang terberat bagi saya adalah menjaga niat. Bukan menghadapi ojing suka men-dem banyu gendeng.
Justru caci makI mereka adalah hasanah (kebaikan) yang akan saya terima tanpa rekasa. Begitulah respon para ulama' salaf dulu ketika ber-amar makruf nahi mungkar dan mendapatkan balasan tidak baik dari targetnya.
Ketika Nabi Yahya bin Zakaria as meminta supaya berbicara baik tentangnya, Allah Swt berkata:
يا يحيى لم أجعل هذا لي فكيف أجعله لك
"Wahai Yahya, Aku tidak membuat hal itu untuk Diri-Ku sendiri, jadi bagaimana mungkin Aku membuatnya untukmu?"
Allah Swt Sang Pencipta saja tidak pernah terlepas dari cangkem elek makhluknya, apalagi kita. Narasi inilah yang tidak pernah membuat saya turun semangat. Gusti wae dipaido, opamaning diriku. Justru ketika dipaido, ganjaranku tambah numpuk. Terimakasih ya para ojing dan hasuderku!
Banyak sekali ulasan lain yang menarik. Termasuk tetap wajibnya amar makruf nahi mungkar bila banyak orang awam mulai terbiasa maksiat, dan sang alim tidak gugur tugasnya mengingatkan bila risikonya hanya dipaido.
InsyaAllah, sesuai request Kiai Abu Naufal, saya akan membuatkan beberapa bait syair Arab untuk ditaruh di cover kitab barunya itu, "Ad-Duror wal Ghuror".
Sekali lagi, terima kasih ojinger yang ahli maido. Paido mu adalah kebaikan buatku, tanpa aku pernah melakukannya. Teruske gak papa! [badriologi.com]





