![]() |
| Menunggu aturan ditegakkan. |
Oleh M. Abdullah Badri
SUDAH datang ke saya Wakil Ketua PAMDI (Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia), Ali Ar-Rafiq alias Aleng, yang ia adalah Pak Lek saya dari jalur ayah. Begitu pula Ketua Persatuan Pemilik Orkes Dangdut Jepara (PPODJ), Mas Robikan, alias Robby Ibrahim, juga sudah ngopi dengan saya ditemani player dari Plajan, Mas Tulus.
Aleng, paman saya. Robby alumni Lirboyo, termasul HIMASAL. Akhirnya, nek rembukan ya nyambung. Gak kayak ojing. Kamu mengira mereka berdua khilaf dengan saya? Tidak. Mereka sepakat bahwa yang saya kritik sebagai kunci, salah satunya adalah banyu gendeng dan tontotan buka aurat yang sudah kebangetan.
Saya tekankan, yang saya kritik adalah orkesan ojing amoral (biasanya di tunilan), pengijin orkesan dan penyelenggara (EO). Saya tidak pernah mengkritik pelaku seni orkes. Apalagi MC orkes, player dan lainnya, kecuali biduan. Woco neh tulisan-tulisanku. Saya pun tidak pernah mengulas hukum musik. Sak karepmu lah nek soal musik.
Kata Kanjeng Nabi Saw, meratanya alat musik akan terjadi di akhir zaman cedak kiamat. Dan tidak semua tanda kiamat selalu negatif. Kanjeng Nabi Saw juga dawuh, meluasnya percetakan (كثر الأقلام) dan berdekatannya pasar (يتقارب الأسواق) akan terjadi pula di akhir zaman.
Apakah semuanya negatif? Belum tentu. Tinggal kita yang ambil bagian. Saya mengambil bagian menulis buku atas tanda kiamat "meluasnya percetakan", yang baru ramai di abad 18. Saya ambil bagian dengan berdagang online atas tanda kiamat "berdekatannya antar pasar". Manfaatkanlah untuk kebaikan.
Begitu pula musik. Digawe sholawatan, ya monggo. Dangdutan, ya karepmu. K-Pop an, ya sangger kono. Nasidahan, gambusan, reggae-nan, ya sak kudumu. Sing penting ojo lali pesenku: tetep ojo cedak banyu gendeng, tetep njogo aurat, ojo gelut, sing tertib.
Semua itu sangat dikeluhkan oleh insan seni, yang tadi malam datang ke rumah untuk ngopi. Ada seniman dangdut yang sangat keberatan dan risih bila busana yang dipakai biduan sangat tidak sopan. Nama-nama artisnya sudah saya kanthongi. Ada beberapa hal yang diusulkan, dan insyaAllah akan saya tindak lanjuti di lapangan.
Bila Mas Robby dan Lek Aleng akan menindaklanjuti kembalinya aturan orkes agar tertib tanpa banyu gendeng dan jauh dari gelut, maka, saya akan menindaklanjuti supaya busana biduan tetap sopan dan musik DJ dilarang di orkesan. Sebab, kata mereka semua, kunci ribut ada di buka aurat dan musik DJ orkesan (yang tanpa lirik). Saya tidak pernah tahu hal ini sebab saya tidak pernah menonton orkes, dan bukan penyuka orkes.
Ojing dan EO lah yang pasti tidak setuju unek-unek mereka, yang sevisi dengan saya, seperti pekerja seni. Tentu saja, ojing banyu gendeng tidak setuju pupu hilang dari orkesan. Itulah yang dicari di acara tunilan. Bila pupu hilang, banyu gendeng akan lerep sendiri.
Ketahuilah, yang saya kritik adalah fenomena. Bukan personal. Makanya, yang selalu saya utarakan adalah peristiwa. Bukan person by person. Berhentinya kapan? Wallahu a'lam. Selama orkesan masih mengganggu citra baik Jepara, barangkali, selama itulah kritik akan terus saya layangkan, dan yang terkena dampaknya akan semakin meluas. Tambah orak direspon, titeni wae, tambah pedes kritiknya, jing! [badriologi.com]





