![]() |
| Jepara paling rusuh soal orkesan. |
Oleh M. Abdullah Badri
CAH ngaji ke saya ada yang punya istri asal Kendal. Di Kendal, bila ada orkesan, tak ada polisi dan kenthara yang jaga. Sekitaran lingkungan orkes dikilung besi, dan bila hajatan, hanya undangan yang bisa masuk. Kalaupun bukan hajatan, tetap tidak ada aparat. Aman.
Bandingkan dengan Jepara. Was-was, waspada dan perasaan tidak nyaman menyelimuti petugas yang jaga. Bayangkan, baru dua lagu, botol gendeng kosong langsung melayang saut-sautan ngalor ngidul di atas banyak kepala. Orkes berhenti. Ini pernah terjadi di Krapyak, Tahunan, kata dia, cah ngaji ke saya itu.
Setelah kejadian tersebut, dia tidak pernah lagi menonton orkes, hingga sekarang. Kuatir ketlawur. Padahal, dimanapun ada orkesan, dulu dia dipastikan datang, ya seperti ojing-ojing itu lah. Barangkali, ojing-ojing itu punya dua nyawa. Sehingga, bila hilang satu, dia punya badal (ganti). Makane gak kapok teko. Koyo cah ampuh. Tapi gayane tok.
Bahkan, dia berujar punya teman yang sengaja selalu bikin perkara jika ada orkesan. Temannya itu biasa mancing-mancing agar menjadi korban, dan karena itu, dia akan melapor dengan denda, yang katanya, pernah dapat 25 juta sekali momen. Luwih untung daripada EO orkes. Awake sih pancen keker. Ahli gelut soale.
Akibatnya, ada ojing yang harus keluarkan banyak cuan demi bisa bebas dari laporannya. Pihak penyelenggara tidak akan bertanggungjawab, apalagi petinggi, yang mengijini orkes tetap jalan. Sing nanggung tetap keluargane ojing, dewekan.
Modal hadir di orkes bagi yang tidak beruntung, bisa puluhan juta jika berhadapan dengan orang yang sengaja mencari masalah. Di orkesan, cari masalah itu sangat gampang. Adu mata, adu cangkem, adu senggol, bisa masalah. Sebab, akale wis orak waras karena banyu gendeng.
Karena itulah, ketika para sahabat Rasulullah Saw mendem lalu shalat, ucapannya bisa murtad. Kala khomr belum diharamkan mutlak, ada sahabat Nabi Saw yang membaca لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ (aku tidak akan menyembah yang kalian sembah), tapi la (لا) nya hilang sebab mendem. Maknanya pun melenceng menjadi: "aku akan menyembah yang kalian sembah". Turunlah ayat لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى (janganlah mendekati shalat jika kalian mendem).
Riwayat itu sudah cukup sebagai bukti bahwa mendem sebab banyu gendeng bisa menghilangkan iman. Bukan hanya menghilangkan kepedulian dan moral. Bagaimana tidak, mendem, kata Kanjeng Rasulullah Saw, sudah tanda tidak beriman kok. Simaklah dawuh Beliau Saw:
وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
"Tidaklah seorang peminum arak ketika meminumnya itu dalam keadaan beriman". (HR. Bukhari-Muslim).
Aku manut kanjeng Rasul. Nek awakmu iseh manut karo ketua ojinger sing wingi ngundang Pak ku "Lek", yo karepmu. Opo gak eman uripmu bakal kakean rusoh sebab ojingan terus? Jepara paling reseh nek orkesan. Jare cah ngajiku. Nek kuwe wedi melu orkesan, kuwi tondo iman. [badriologi.com]
M. Abdullah Badri, kawan ojing tobat.





