Tafsir Surat At-Taubah Ayat 100 - Keutamaan As-Sabiqunal Awwalun
Cari Judul Esai

Advertisement

Tafsir Surat At-Taubah Ayat 100 - Keutamaan As-Sabiqunal Awwalun

M Abdullah Badri
Kamis, 22 Agustus 2019

tafsir surat at-taubah ayat 100 tentang sejarah sahabat nabi saat di makkah
Ngaji Rijalul Ansor GP. Ansor Ranting Ngabul, di Masjid Al-Ihsan, Krajan Kalitekuk, malam Jumat (22 Agustus 2019).

Oleh M Abdullah Badri

DALAM Bab Afdaliyatu Ashhabin Nabi (Keutamaan Para Sahabat Nabi), KH. Sya'roni Ahmadi menyebut Surat At-Taubah Ayat 100 sebagai pijakan dalil keutamaan sahabat dalam karyanya, Farai'dus Saniyyah.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (QS. At-Taubah: 100).

Dalam ayat di atas, berita keridla'an para sahabat Nabi Muhammad Saw. atas Allah Swt. sebagai Tuhannya dikonfirmasi oleh Allah Swt. bahwa Allah juga meridlai mereka. Siapa mereka?

Imam As-Sya'bi menyebut, mereka adalah yang ikut dalam perjanjian Ba'iatur Ridlwan di Hudaibiyah. Allah Swt. juga berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Artinya:
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". (QS. Al-Fath: 18).

Asbabun Nuzul Surat Al-Fath ayat ke-18 di atas dimulai dari peristiwa Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya hendak berangkat umrah dari Madinah ke Makkah pada Bulan Dzulqi'dah tahun ke-6 hijriyah. Keberangkatan ini juga bertujuan untuk menengok keluarganya yang sudah lama ditinggalkan hijrah.

Sesampainya di Hudaibiyah, Nabi Saw. mengutus Sayyidina Ustman bin Affan untuk menyampaikan kabar kedatangan beliau dan kaum muslimin ke Makkah. Namun, setelah lama ditunggu, Ustman tidak segera datang. Kabar yang didengar, Ustman ditangkap oleh Kafir Quraisy Makkah dan sempat dikabarkan terbunuh.

Nabi Muhammad Saw. kemudian membaiat lebih dari 1300an rombongan Nabi Saw. yang ikut untuk sumpah setia. Mereka bersumpah akan memerangi orang Kafir Quraisy. Oleh Allah Swt. sumpah ini diridla'i. Disebutlah sebagai Ba'itur Ridlwan (Baiat yang Direstui Allah). Karena baiat ini terjadi di bahah Pohon Samurah, maka disebut sebagai sebagai "yubayi'unaka tahtas-syajarah".

Mendengar baiat massal kaum muslimin ini, kafir Quraiys gemetar dan akhirnya melepaskan Sayyidina Ustman bin Affan. Terjadilah kesepakatan damai antara kaum muslimin dan kafir Quraisy di Hudaibiyah ini. Perjanjian damai inilah yang disebut sebagai Baiat "Sulhul Hudaibiyah" (Baiat damai di Hudaibiyah) hingga dijanjikan dengan kemenangan yang dekat (fathan qariba) di Perang Khaibar setelah mereka pulang dari Hudaibiyah.

Menurut satu riwayat, saat perjanjian "di bawah Pohon Samurah" berlangsung, ada satu rombongan Nabi Saw. dari kalangan munafiq yang tidak mengikuti "baiat mati" tersebut. Namanya adalah Jadd Ibnu Qaid Al-Anshari. Mereka yang "di bawah Pohon Samurah" inilah yang dijamin Nabi Muhammad Saw. tidak akan masuk neraka. Nabi Saw. bersabda,

لاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Artinya:
"Orang yang ikut baiat ridhwan – yang dilakukan di bawah pohon (Samurah) tidak ada satupun yang masuk neraka". (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Ahmad).

Selain pendapat di atas, adapula yang menyebut assabiqunal awwalun sebagai kelompok sahabat Nabi yang pernah ikut sebagai jama'ah shalat ketika Rasulullah Saw. menghadap ke dua arah Kiblat. Ini diungkapkan oleh Imam Abu Musa Al-Asy'ari, Said Ibnul Musayyab, Muhammad bin Sirin serta Al-Hasan.

Intinya, mereka yang disebut Al-Qur'an sebagai orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar adalah orang-orang yang dijamin masuk surga, baik dari kalangan Ansor maupun Muhajirin.

Dan, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dengan tidak membencinya, maka bagi mereka, surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Penjelasan Surat At-Taubah Ayat 100


Assabiqun artinya orang-orang terdahulu. Al-Awwalun artinya orang-orang awal. Pengertian ini merujuk kepada makna orang-orang terhadulu yang awalkali memeluk agama Islam, mengakui Rasulullah Saw. sebagai utusan Allah Swt.

Keutamaan ada dalam diri mereka, meski generasi setelahnya lebih pintar,

الفضل للمبتدئ وإن أحسن المقتدى

Artinya:
"Keutamaan ada pada pendahulu walau pengikut setelahnya lebih bagus".

Ulama berbeda pendapat tentang jumlah as-sabiqunal awwalun. Ibnu Hisyam misalnya, ia hanya menyebut 40 orang. Sementara Ad-Dzahabi menyebut ada 50 orang, terdiri atas kaum Anshar di Madinah dan Muhajirin (dari Makkah).

Ada enam orang yang memeluk Islam dan mengucapkan kalimat syahadat di saat Nabi Muhammad Saw. masih ada di Makkah, sebelum hijrah 1440 tahun yang lalu. Mereka adalah:

1. Khadijah Al-Kubra binti Khuwailid (istri Nabi)

2. Zaid bin Haritsah (pembantu Nabi - sekitar 20an tahun)
Ia adalah pemuda dari kabilah Kalb (Utara Jazirah Arab) yang pernah ditangkap penjahat, dijadikan budak lalu dibeli oleh Sayyiddah Khadijah Al-Kubra untuk kemudian diserahkan kepada Rasulullah Saw. hingga menjadi pembantu setianya.

Saat ikut hijrah dengan Nabi ke Madinah, Zaid bin Haritsah ini sering mengikuti pertempuran Nabi. Sempat menjadi panglima perang Mu'thah dan mati syahid.

3. Ali bin Abi Thalib (keponakan Nabi | 8 tahun)
Masih keponakan Nabi Muhammad Saw. yang pernah mendapatkan julukan radliyallahu anhu (yang Allah meridlainya) hingga disematkan pula gelar itu kepada para sahabat lain. Selain itu, gelar karramallahu wajhah (kw) juga diberikan kepada Ali bin Abi Thalib karena beliau tidak pernah melihat aurat orang lain.

Hampir semua aliran tarekat memiliki sanad kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. yang diturunkan melalui jalur Sayyidina Hasan dan Husain.

4. Umu Ayman (pengasuh Nabi)
Ummu Ayman inilah yang dipanggil Rasulullah Saw. sebagai ibunya sendiri. Ibu dari Ayman ini adalah budak warisan dari ayah Nabi Saw.: Abdullah bin Abdul Muthalib, yang merawat Nabi Saw. sejak kecil. Ia dibebaskan saat Rasulullah Saw. menikah dengan Sayyidan Khadijah ra. yang kemudian dinikahkan dengan Ubaid bin Harits dari Suku Khazraj.

Ayman, putra Ummu Ayman, juga ikut hijrah ke Madinah dan terus berjuang serta berjihad bersama Rasulullah Saw. hingga gugur sebagai syahid di Perang Hunain.

Saking cintanya, Nabi Saw. menyebut Ummu Ayman sebagai anggota keluarga yang masih tersisa, karena Nabi Saw. lahir sebagai yatim. Saat Rasulullah Saw, wafat, Ummu Ayman merasa kehilangan. Hal ini terlhat saat Sayyidina Umar dan Abu Bakar ra. mengunjunginya pasca wafatnya Nabi Saw.

Ia menangis bukan karena Nabi sudah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt. Tapi karena wahyu dari Allah sudah terputus sejak Rasulullah Saw. tiada.

Ummu Ayman meninggal 20 hari setelah wafatnya Sayyidina Umar ra., di masa kepemimpinan Ustman bin Affan ra. Baca: Membahagiakan Anak Kecil Bisa Melebur Dosa.

5. Abu Bakar As-Siddiq (sahabat Nabi - 37 tahun)
Lahir dengan nama Abul Ka'bah bin Abi Quhafah, Abu Bakar mendapatkan gelar As-Siddiq karena beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan ajaran Rasulullah Saw. hingga dipercaya pula menggantikan kepemimpinan Nabi Saw. dengan gelar khalifatu rasulilllah (pengganti Rasulullah) dan sempat memimpin selama 2 tahun, 2 bulan dan 14 hari (632-634 M).

6. Bilal bin Rabah (seorang budak - 30 tahun)
Dia adalah sahabat Nabi Saw. dari kalangan hamba sahaya dari Habasyah (Ethiopia, Afrika) yang masuk Islam di awal-awal perjuangan Rasulullah Saw. di Makkah.

Umayah, majikan Bilal melancarkan siksaan berat ketika mendengar budaknya itu masuk Islam. Tapi dia tak bergeming. Di tengah siksaan berlangsung, Bilal bin Rabah selalu mengucapkan "Ahad, Ahad, Ahad". Dialah yang diperintahkan Nabi Saw. untuk mengumandangkan adzan saat pertama kali syariat adzan diturunkan.

Selain enam nama di atas, banyak sekali orang-orang di zaman awal yang mengucapkan syahadat dan dijamin Rasulullah Saw. masuk surga selamanya, dan rata-rata usia mereka masih banyak yang pemuda dan remaja. Paling muda adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang saat masuk Islam berusia 8 tahun. Berikut ini daftarnya:

7. Ustman bin Affan (sekitar 20an tahun)
8. Zubeir bin Awwan (8 tahun),
9. Abdurrahman bin Auf (30 tahun),
10. Saad bin Abi Waqqash (17 tahun),
11. Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun),
12. Abu Ubaidah bin Jarrah (27 tahun),
13. Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Mahzumi (30 tahun),
14. Arqam bin Abil Arqam (12 tahun),
15. Hamzah bin Abdul Muthalib (42 tahun),
16. Utsman bin Mazhun (30 tahun),
17. Abdullah bin Mazhsun,
18. Ubaidah bin Haris (50 tahun),
19. Said bin Zaid (kurang dari 20 tahun)
20. Fatimah bin Khattab (istri Said bin Zaid),
21. Ammar bin Yasar (30-40 tahun)
22. Abdullah bin Mas'ud (14 tahun),
23. Mas'ud bin Rabi'ah (17 tahun),
24. Abdullah bin Mazhun (17 tahun),
25. Ja'far bin Abu Thalib (18 tahun),
26. Qudamah bin Mazhun (19 tahun),
27. Shuhaib ar-Rumi (kurang dari 20 tahun),
28. Thulaib bin Umair (sekitar 20 tahun),
29. Khabab bin Al-Art (sekitar 20 tahun),
30. Saib bin Mazhun (sekitar 20 tahun),
31. Amir bin Fuhairah (23 tahun),
32. Mushab bin Umair (24 tahun),
33. Miqdad bin Al-Aswad (24 tahun),
34. Abdullah bin Jahsy (25 tahun),
35. Umar bin Khattab (26 tahun),
36. Utbah bin Ghazwan (27 tahun),
37. Abu Hudzaifah bin Utbah (30 tahun),
38. Ayash bin Rabiah (30 tahun),
39. Amir bin Rabi'ah (30 tahun), dan
40. Naim bin Abdullah (30 tahun).

Selain Khadijah binti Khuwailid dan Ummu Ayman, ada perempuan lain yang memeluk Islam di awal pertama, yakni Fatimah binti Khatab, Ruqayyah, dan Sumayyah - istri Yasir yang menjadi syahidah pertama dalam sejarah Nabi Muhammad Saw. [badriologi.com]

Bacaan:
Tafsir Ibnu KatsirTafsir Jalalain dan Tafsir Al-Qur'an keluaran Depag.
Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah.
Ghani, Muhammad Ilyas Abdul, Sejarah Mekah.
Ghani, Muhammad Ilyas Abdul, Sejarah Masjid Nabawi.

Keterangan:
Esai di atas adalah bahan materi pertama keterangan yang disampaikan penulis dalam rutinan Pengajian Rijalul Ansor GP. Ansor Ranting Desa Ngabul di Masjid Al-Ihsan (Krajan-Kalitekuk), malam Jumat Kliwon, 22 Dzulqi'dah 1440/22 Agustus 2019.