Mayat Hidup yang Beriman di Zaman Syam'un (Sahabat Nabi Isa) - Tafsir Yasin Ayat 14
Cari Judul Esai

Advertisement

Mayat Hidup yang Beriman di Zaman Syam'un (Sahabat Nabi Isa) - Tafsir Yasin Ayat 14

M Abdullah Badri
Jumat, 16 Agustus 2019

cerita sahabat nabi isa dan sahabat hawari yang diutus jihad ke turki
Ilustrasi perjuangan Syam'un sahabat hawari Nabi Isa as. yang harus mendoakan mayat supaya hidup agar Raja Anthiokia mau beriman kepada Allah Swt. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

SEBELUM membaca kisah ini, baca kisah sebelumnya dalam judul Utusan Hawari Nabi Isa Dikeroyok Penduduk Kota Antokhia - Tafsir Yasin ayat 13-14. Cerita ini adalah versi riwayat lanjutan lainnya dalam Kitab Syarah Tafsir Yasin karya Syaikh Hamami Zadah.

Menurut riwayat Wahab, Nabi Isa as. mengutus dua laki-laki utusannya ke Kota Antiochia Caesaria (Anthiokia) tapi tidak berhasil menghadap raja kota tersebut. Keduanya bermukim di kota tersebut hingga beberapa lama hingga terjadilah peristiwa yang menggegerkan kota.

Suatu kali, saat Raja Anthiokia berdinas keluar istana dan sampai ke sebuah perkotaan ramai, dia melihat kedua utusan Nabi Isa as. itu meneriakkan takbir dan dzikir kepada Allah.

Raja marah. Ia perintahkan pasukan untuk membui mereka berdua. Masing-masing mendapatkan hukuman jilid 100 kali. Mereka juga terus disiksa, dipukul. Warga kota berpendapat, ajaran keduanya adalah bohong.

Mendengar kabar keduanya, Nabi Isa as. memutuskan untuk mengirim satu utusan lagi ke Kota Antokhia. Namanya Syam'un, pemimpin sahabat hawariyyin. Hendak masuk ke penjara tempat kedua sahabatnya dibui, Syam'un melakukan penyamaran.

"Aku ingin menjenguk dua orang itu. Ingin kuberikan roti ini untuk mereka," bujuk Syam'un kepada sipir.

Setelah berhasil masuk ke penjara, Syam'un menginvestigasi keduanya tentang apa dan mengapa sampai bisa dipenjara. Baca: Penjelasan Gus Muwafiq Tentang Tauhid "Persembahan" Sedekah Sapi di Acara Haul.

"Kalian ternyata terlalu tergesa-gesa," ucap Syam'un setelah mendengar cerita dari keduanya, "cara kalian berdakwah tidak lembut," tambahnya.

Syam'un mengibaratkan keduanya seperti perempuan yang telat mendapatkan keturunan di usia mudanya. Begitu dia melahirkan bayi di usai tua, muncul keinginan mempercepat pertumbuhan bayi dalam waktu singkat. Ia menjejal bayinya dengan makanan (roti), padahal si bayi belum mengetahui cara mengunyah. Terang saja makanan yang tertelan -tanpa dikunyah- itu masih utuh dalam perut.

"Kalian itu ibarat perempuan itu," kata Syam'un, "apakah kalian tidak mendengar bahwa ketergesaan itu datangnya dari setan dan sikap hati-hati adalah dari Tuhan Arrahman?" Lanjut Syam'un, lalu pergi.

Syam'un kemudian bermasyarakat dengan penduduk kota sekitar kerajaan selama beberapa waktu. Seperti warga lainnya, ia menjalin hubungan baik dengan penduduk kota hingga menjadi tokoh yang dimuliakan, dibela, dihormati (dan didengar perkataannya) oleh banyak orang.

Mendengar ada tokoh baru beru bernama Syam'un, Raja Anthiokia mengundang Syam'un. Ia dihormati di istana. Jasanya dalam membangun masyarakat kota diapresiasi langsung oleh Raja. Di hadapan Raja, Syam'un menjadi sosok yang disegani dan dimuliakan. Saat dijamu di istana Raja inilah, Syam'un membuka kasus lama dua sahabatnya yang masih dipenjara.

"Aku mendengar Anda memenjarakan dua orang laki-laki dan Anda memukulinya karena mereka mengajak Anda berpindah agama. Apa yang sebetulnya mereka ucapkan Tuan Raja? Apakah Anda juga mendengarkan langsung perkataan mereka?" Syam'un membuka percakapan.

"Tidak. Aku tidak mendengarkan perkataan mereka langsung. Hanya saja aku sudah terasuki amarah kepada mereka berdua," jawabnya.

"Baik. Bagaimana bila mereka berdua kita undang ke sini, dan mari dengarkan bersama, apakah ucapan mereka mengandung kemaslahatan atau tidak," Syam'un membujuk Raja.

Raja Anthiokia berhasil dibujuk oleh Syam'un. Kedua tawanan itu diperintahkan menghadap kepada Raja. Baca: 10 Amalan Kebaikan Dunia Untuk Investasi di Akhirat.

"Siapa yang memberi perintah kalian datang ke kota ini?" Syam'un bertanya kepada kedua sahabatnya itu.

"Allah. Dzat Maha Menciptakan segala sesuatu. Tiada baginya sekutu," jawab mereka.

"Silakan jelaskan sifat Allah!"

"Dia bisa melakukan sesuai kehendak-Nya dan memberi keputusan kepada apa saja yang Dia kehendaki," jawab mereka atas pertanyaan Syam'un.

"Kalian punya bukti apa?"

"Apapun yang dikehendaki Tuan Raja, kami bisa penuhi".

Raja kemudian mengeluarkan perintah untuk mendatangkan seorang anak muda yang kedua matanya buta. Tempat matanya ada di kening. Kedua tawanan Raja Anthiokia itu pun memanjatkan doa. Mereka tidak berhenti berdoa kepada Allah hingga tiba-tiba muncul dua tempat mata di muka anak tersebut.

Segumpal tanah liat diambil oleh utusan Nabi Isa as. tersebut. Mereka letakkan tanah itu di pupil calon mata anak buta tersebut. Seketika, si anak bisa melihat dengan baik melalui dua mata barunya. Kejadian itu membuat raja takjub.

"Bila Tuan Raja meminta kepada Tuhan Anda, dan Tuhan Anda bisa melakukan seperti yang barusan terjadi, maka, Tuan dan Tuhan Tuan adalah pemilik kemuliaan (tapi apakah bisa, pen)," kata Syam'un kepada Raja.

"Syam'un, antara aku dan kamu sudah tidak ada yang harus ditutupi. Jelas sudah, Tuhan yang kami sembah tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak memberikan manfaat," jawab Raja.

Raja Anthiokia tidak langsung percaya begitu saja atas kejadian aneh tersebut. Syam'un masih terus berusaha mendekati sang Raja. Bahkan ketika Raja sedang menyembah berhalanya pun Syam'un ikut berdoa dan menampakkan kekhusyu'an seperti lainnya (di tempat peribadatan, pen) sehingga orang-orang menganggap Syam'un yang justru ikut keyakinan Raja.

Lama-lama Raja Anthiokia menampakkan perubahan. "Jika Tuhan kalian, yang kalian berdua sembah itu mampu menghidupkan orang yang sudah mati, aku baru beriman," tantang Raja suatu kali kepada kedua tawanan lamanya tadi.

"Tuhan kami mampu melakukan segala hal".

"Baik. Di sini ada mayit yang meninggal 7 hari lalu. Sengaja aku menunda pemakaman untuk menunggu kedatangan orangtuanya. Tapi dia tidak segera datang," terang Raja.

Mereka kemudian melihat kondisi mayat yang diceritakan Raja. Saking lamannya, warna kulit mayat itu ternyata sudah membiru.

Dengan khusyuk, mereka berdua berdoa kepada Allah. Sementara, Syam'un juga ikut berdoa tapi secara sirr. Baca: Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10).

Biiznillah, tiba-tiba saja si mayit berdiri dan hidup lagi sambil berucap, "Aku telah melewati 7 hari mati dalam kondisi musyrik. Aku sempat dimasukkan ke 7 jurang neraka. Aku peringatkan supaya kalian semua beriman kepada Allah," katanya, menggetarkan.

"Pintu langit terbuka. Ketika itulah aku melihat ada seorang pemuda yang wajahnya tampan memberikan syafaat kepada tiga orang ini," lanjutnya, menceritakan pengalaman saat mati.

"Siapa tiga orang yang kau maksud itu?" Raja Anthiokia penasaran.

"Salah satunya Syam'un dan kedua laki-laki ini," jawab mantan mayit itu sambul menunjuk sahabat Syam'un.

Kisah sahabat hawariyyin yang mampu menghidupkan mayit dan cerita si mayit jelas membuat Raja tercekat kakaguman. Syam'un tahu, cerita mayat hidup tadi membuat hati raja Raja bergemuruh iman. Ketika itulah Syam'un mengajak sang Raja untuk beriman kepada Allah Swt.

Akhirnya, Raja Anthiokia ikut di jalan Allah Swt. Kaumnya juga mengikuti jejak sang Raja meskipun sebagian mereka ada yang tetap memilih jalan kafir. Oleh malaikat Jibril alaihissalam, orang-orang yang tidak beriman dikirim satu kali teriakan darinya. Hancur sudah.

Demikianlah kisah perjuangan Syam'un mengajak beriman kepada Raja Anthiokia. Diterjemahkan penulis dari Kitab Syarah Tafsir Yasin karya Syaikh Hamami Zadah, Jumat malam pukul 22.30 WIB - 16/08/2019. Versi tafsir selanjutnya, bisa Anda baca dalam judul: Kisah Putri Raja Anthiokia Bangun dari Kubur - Tafsir Surat Yasin Ayat 14. [badriologi.com]