Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10)
Cari Judul Esai

Advertisement

Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10)

M Abdullah Badri
Jumat, 22 Maret 2019

Ilustrasi membutuhkan makanan. Foto: istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

DUA orang laki-laki bersaudara pemeluk agama Majûsî pernah hidup di zaman Malik bin Dinar. Sudah lama keduanya menyembah api. Satunya menyembah api selama 73 tahun, dan satunya lagi (adiknya) 35 tahun.

"Lama kita menyembah api, mari coba kita buktikan bersama di sini, apakah api akan membakar kita sebagaimana membakar orang-orang yang tidak menyembahnya. Jika api ini masih saja membakar kita, tak perlulah kita menyembahnya lagi. Bila tidak, maka, kita bisa melanjutkan penyembahannya," kata adik kepada sang kakak.

"Oke, siap," jawabnya. Keduanya pun menyiapkan api, menyalakan api.

"Aku duluan yang menaruh tangan di atas api ini, atau kamu kakak?"

"Kamu duluan saja".

"Aww, sakit". Reflek tangannya diangkat. Jelas saja api membakar jemari tangannya.

"Aku telah menyembahmu 35 tahun, tapi tetap saja kau menyakitiku, membakarku," kata sang adik kepada api.

Kepada kakaknya, ia berkata, "Kita cari saja kak satu Tuhan sesembahan yang jika kita melakukan dosa selama 500 tahun misalnya, akan mendapatkan ampunan dan hapusan dosa, hanya dengan melakukan ibadah satu jam dan istighfîr satu kali kepadanya".

Sang kakak mengiyakan pinta adiknya itu dan berdiskusi mencari tokoh yang dianggap bisa menunjukkan jalan lurus dan membimbing menuju ajaran agama Islam pilihan ganti agama pasca Majûsî.

Mereka sepakat mengunjungi ulama bernama Malik bin Dinar untuk menyatakan keislamannya. Pencarian mulai dilakukan mereka berdua hingga menemukan Malik bin Dinar di wilayah kota berpenduduk padat, di Bashrah.

Terlihat oleh mereka, Malik bin Dinar sedang memberikan ceramah kepada banyak kaum muslimin dalam sebuah majelis ẖalaqah. Tiba-tiba, muncul keraguan dalam hati sang kakak. Padahal, keduanya hampir saja akan menemui Malik bin Dinar.

"Aku (ragu) tidak jadi menjadi muallaf (masuk Islam) karena sudah lama aku menyembah api. Jika aku ber-Islam, kembali kepada agama Muhammad, tentu keluarga dan tetangga akan menghinaku. Bagiku, menyembah api lebih baik (lebih aku cintai) daripada harus dicibir oleh mereka," kata kakak kepada adiknya.

"Janganlah kak. Cibiran mereka pasti akan hilang, padahal neraka tidak akan hilang," jawab adiknya, tapi tidak digubris.

"Ya sudahlah, terserah. Barangkali kamu bagian dari orang celaka yang paling celaka, yang tidak berguna dunia-akhirat," lanjut adiknya geram.

Sang kakak berlalu. Ia bersikukuh tidak mau masuk Islam. Sementara adiknya, —karena sudah yakin dan bulat niat masuk Islam, ia membawa serta istri dan anak-anaknya yang masih kecil ke tengah majelis ngaji Malik bin Dinar, duduk, masuk di tengah jama'ah hingga Malik bin Dinar menyelesaikan ngajinya.

Ia kemudian menceritakan niat dan tujuan bertemu dengan Malik bin Dinar, yakni ingin mempelajari agama Islam dan masuk Islam sekeluarga. Orang-orang yang mendengar kisah laki-laki tersebut di majelis Malik bin Dinar banyak yang menangis haru karena bahagia.

Karena dia muallaf, Malik bin Dinar melarang laki-laki itu pulang duluan sebelum meminta para sahabat dan jama'ah yang hadir untuk memberikan sedekah kepadanya sekeluarga.

"Maaf, aku tidak menginginkan hal itu. Aku tidak menjual agamaku untuk dengan harta-benda," jawabnya, sambil  berlalu dan pergi.

Tinggal di Gubuk Reyot

Ia kemudian mencari tempat tinggal di sebuah gubuk, yang baginya cukup sebagai tempat berteduh sementara. (Daripada kembali ke keluarga asal, tapi bakal dihina dan dilunta-lunta). Di gubuk hampir roboh tersebut, mereka bermalam.

Esok pagi, sang istri meminta suaminya pergi ke pasar, mencari pekerjaan dan membeli makanan dari hasil kerjaannya nanti di pasar. Sayang, di pasar, tak ada seorang pun yang bisa memberinya pekerjaan.

Capek, ia kemudian masuk ke sebuah masjid yang sepi, istirahat dan shalat lillâhi ta'âlâ di sana, dan kembali ke rumah malam hari dengan tangan kosong.

"Tidak adakah hasil untuk (pekerjaan) hari ini, Pak?" Tanya istri.

"Bu, aku sudah bekerja kepada juragan, tapi ia belum memberiku gaji hari ini, barangkali besok," jawabnya.

Malam itu, sekeluarga tidur dalam kondisi lapar. Esoknya lagi, ia masih saja gagal mencari pekerjaan di pasar yang sama, dan kembali beristirahat shalat lillâhi ta'âlâ di masjid yang sama, hingga malam.

Saat pulang, ia hanya menjawab seperti tempo hari, kepada sang istri. "Aku masih bekerja pada juragan kemarin, tapi tetap saja, belum diberi gaji, barangkali besok, Hari Jum'at".

Dua hari keluarganya tidur dalam kondisi lapar.

Pagi hari Jum'at itu, ia masih mencari pekerjaan. Tapi hasilnya tetap nihil. Di masjid yang sama, ia kemudian melaksanakan shalat dua raka'at, mengangkat tangan seraya berdoa:

"Ilahi, ya Tuhanku, Tuanku, Yang Mulia-ku, Engkau telah memuliakanku dengan agama Islam, memberikanku mahkota Islam, menunjukkanku mahkota hidâyah, maka, atas nama kemuliaan agama yang Engkau telah berikan kepadaku sebagai rezeki, dan demi kemuliaan hari berkah nan agung, yang engkau takdirkan keagungannya, yakni Hari Jum'at, aku memohon, angkatlah kesulitanku menafkahi keluarga dari berat beban hatiku ini. Berikanlah rezeki dari jalan yang aku sendiri tak akan menduganya, ya Allah. Ya Allah, aku malu kepada istri dan keluargaku. Aku khawatir atas kondisi (keimanan) keluarga yang baru saja memeluk Islam".

Ia kemudian menyibukkan diri dengan shalat dua raka'at. Siang hari ketika waktu Jum'atan tiba, ia berlanjut menunaikan kewajiban menjalankan shalat Jum'at. Sementara di gubuk reyot itu, anak-anak dan istrinya sedang ditimpa kelaparan berat.

Keajaiban 
Tiba-tiba ada laki-laki tampan yang bertamu, mengetuk pintu gubuk. Istrinya melihat, tamu tersebut membawa sebuah nampan yang tutupnya terbuat dari dari emas.

"Ambillah ini, katakan kepada suamimu, ini gajinya selama dua hari. Teruslah bertambah giat bekerja. Kami biasa menggaji tiap Hari Jumat, hari ini. Bekerja sedikit di hari ini, menurut pandangan Allah Al-Mâlikil Jabbâr, akan dihitung banyak," katanya.

Setelah diambil sang istri, nampan itu ternyata berisi 1000 dinar. Ia kemudian mengambil satu dinar saja untuk ditukar kepada seorang Nasrani.

Setelah diamati dan ditakar beratnya, ternyata, menurut penukar uang, jenis uang dinar tersebut adalah hadiah dari lain dunia, yakni akhirat.

"Dari mana kamu mendapatkan ini?"

Setelah diceritakan asal dinar tersebut, muncul kekaguman di hati penukar uang. Hingga akhirnya, kepada istri laki-laki muallaf tersebut, sang Nasrani ingin dikenalkan dengan agama Islam dan memutuskan menjadi muallaf.

Ia kemudian memberi 1000 dirham sebagai hadiah, "pakailah uang ini, jika sudah habis, kamu kabari aku," katanya.

Bagaimana kondisi laki-laki muallaf tadi, suaminya?

Karena merasa belum berhasil mendapatkan gaji dari pekerjaannya, ia kemudian mencari sebuah wadah besar yang diisi penuh dengan tanah. Ia berandai, jika sesampainya di gubuk nanti, dan istri bertanya tentang isi wadah itu, ia akan menjawab mudah: "gandum".

Tapi dugaannya keliru. Begitu masuk ke gubuk, ternyata dia mencium bau makanan lezat dan hidangan yang sudah disiapkan. Tempat beristirahat yang baru pun sudah disiapkan sang istri.

Melihat yang demikian itu, tanah yang dibawa hanya ditaruh di luar pintu agar tidak dianggap sesuatu yang penting.

Kontan saja ia menanyakan tentang apa yang sebenarnya sedang dilihat tersebut. Setelah mendengar semua cerita dari istrinya, laki-laki muallaf itu kemudian bersujud syukur kepada Allah Swt. Ia tak mengira semua keajaiban itu terjadi begitu cepat.

"Yang ada di luar itu apa, Pak?" Tanya sang istri.

"Apa? Tidak apa-apa. Tidak usah kamu tanyakan".

Begitu dibuka, bi-idznillâh, ternyata isinya benar-benar gandum. Ini adalah keajaiban kedua yang dilihat sang muallaf, sang suami. Betapa syukurnya dia. Ia sujud dan terus bersyukur, menyembah Allah hingga akhir hayatnya, tidak mengikuti jejak kakaknya yang terus menyembah api.

Doa di Hari Jumat
Al-Faqîh rahmatullâh ‘alaih, berkata: "angkatlah tanganmu ke arah langit, ucapkanlah (kepada Allah Swt), demi kemuliaan Jum'at, ampunilah dosa-dosa kami, bukalah segala kesulitan kami".

Ingatlah kisah laki-laki muda muallaf yang dikabulkan segala hajatnya, diberikannya rezeki dari arah tak dia duga, karena dia berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Swt. atas nama kemuliaan Hari Jum'at.

Begitu pula kita, ketika kita berdoa di Hari Jum'at, maka, semoga saja Allah Swt. mengabulkan hajat-hajat kita semua. Dia (Allah) Maha Kasih, Maha Sayang dan Maha Mulia. 

Sekian kisah tentang seorang muallaf yang terlunta-lunta di zaman Malik bin Dinar. Esai berikutnya tentang Keutamaan Membaca Kalimat Tahlil (Ngaji Ushfuriyah Bagian 11). InsyâAllah segera terbit. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Legi dan Pon), 9 dan 16 Safarul Khair 1440 H/17 dan 24 Oktober 2018. 

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah