Menciptakan Tulisan Tak Bersayap


Oleh M Abdullah Badri

Ketika saya mengisi pelatihan kepenulisan di beberapa sekolah dan perguruan tinggi, pertanyaan dari peserta yang selalu muncul ke permukaan adalah: bagaimana sebuah tulisan bisa dikatakan berkualitas?

Dulu, saya juga menanyakan serupa ketika mengikuti sebuah pelatihan yang sama. Namun, jawaban yang dilontarkan tidak beda, dan secara pribadi, belum memuaskan. Para tutor yang saya tanya itu selalu mengatakan bahwa itu sangat relatif dan subyektif. Sepertinya tidak ada jawaban baku yang berlaku universal, bisa dijadikan ukuran di mana-mana.

Buku-buku tentang kepenulisan juga membosankan. Hanya berisi teori-teori. Kadang ada juga yang berisi strategi, namun itu pun belum juga memuaskan saya. Kesimpulannya, tidak ada ukuran sebuah tulisan dikatakan baik secara utuh, kecuali menurut ukuran pribadi. Ungkapan simplistik semacam itu, ketika saya lontarkan kepada para peserta pelatihan, malah membuat mereka bingung, karena tidak ada ukuran pasti, padahal mereka belum memiliki ukuran pribadi, masih meraba.

Dalam tahapan proses, saya diam-diam membenarkan jawaban di atas. Ada yang mengatakan bahwa sebuah tulisan bisa dikatakan baik manakala layak dan sudah dipublikasikan oleh media massa. Di sini, media dijadikan ukuran. Meski demikian, banyak juga yang mengatakan bahwa tidak semua tulisan di media massa, terutama harian, menjamin kualitas sebuah tulisan. Menurut pendapat ini, tulisan yang bermutu adalah yang mengandung analisis tajam, dan itu belum tentu dimuat media, karena media diperuntukkan umum, bukan kalangan tertentu saja, yang membutuhkan analisis tajam.

Dalam tahapan kategori, saya termasuk orang yang mengamini pendapat terakhir. Bagi saya, media massa itu hanya sebagai sarana melatih keterampilan menulis. Kegiatan menulis yang hakiki adalah mengeluarkan ide. Bukan sekadar ide, namun ide yang benar-benar orisinil, meski diperas dari pengalaman orang lain. Bagaimana itu bisa dicapai?

Pertama, jangan menulis sesuatu yang kita ketahui dari orang lain. Kalau kita melakukan itu, yang kita tulis berarti bukan ide kita, namun ide orang lain. Kita bukan memeras pikiran, namun hanya merekam ulang yang kita ketahui. Meski secara tehnis bagus, namun gagasan tulisan pasti kering, terutama bagi orang yang sudah menguasai ide yang ada dalam tulisan.

Kedua, interkoneksi pengetahuan. Untuk mencapai pengetahuan yang baru, kita bisa mengkorelasikan antara pengetahuan yang kita miliki dengan ide orang lain yang berserakan, kemudian kita simpulkan secara orisinil.

Ketiga, memperkaya bank data dan bank ide. Caranya, dengan banyak membaca dan menulis. Itu jawaban saya sampaikan kepada peserta. Yakni ukuran sebuah tulisan yang tak bersayap, tak bercabang secara langsung dengan ide lain.

(Dimuat Suara Merdeka, 7 Maret 2009)
Advertisement

Klik untuk komentar