Burung Emprit Sayyidina Umar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 1)

Ilustrasi gambar burung emprit
Oleh M Abdullah Badri

ADA 40 hadits yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abu Bakar dalam Kitabnya Ushfuriyyah. Hadits pertama yang diulas adalah tentang rahmat. Begitu pentingnya pembahasan rahmat ini, Al-Qur’an menyebut kata tersebut hingga 145 kali dengan 14 macam makna yang terkandung di dalamnya, sesuai konteks.

Allah Swt. sebagai sumber rahmat  sudah menegaskan bahwa bahwa siapapun akan menerima rahmatnya di dunia ini. Namun, memberi rahmat kepada liyan adalah laku khas para muhsinin (yang berbuat baik). Meski demikian, siapa pun yang telah dibukakan rahmat-Nya oleh Allah, ya fala mumsika laha (tidak ada yang bisa nyegemek/menahan-nya).

Termasuk kisah tentang burung emprit yang pernah dibeli oleh Sayyidina Umar r.a dari anak kecil semasa hidupnya. Ceritanya, saat jalan-jalan di pinggiran kota, Sayyidina Umar melihat anak yang sedang asyik bermain dengan burung cuwilik (kecil) tersebut.

Pemandangan biasa sebetulnya, sebagaimana kita masih bisa menyaksikan hal itu hingga kini.

Karena kasihan dan iba, burung itu akhirnya dibeli oleh Sayyidina Umar dan lalu dilepas agar terbang bebas. Beliau ini dikenal sebagai khalifah yang tegas dan galak, tapi kepada burung, hatinya tersentuh.
Saat beliau wafat, banyak para sahabat Nabi yang bermimpi (ro’ahu al-jumhur), dimana dalam mimpi tersebut mereka bertanya, “apa balasan Allah di alam barzakh?”.  

Dalam Kitab Ushfuriyah, muallif (pengarang) menyeritakan jawaban Sayyidina Umar bahwa di alam sana, Allah telah memberi pengampunan dan menghapus segala dosa Sayyidina Umar semasa hidup.

“Atas alasan apa? Karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudan Anda?” Para sahabat masih mengejar tanya, masih di alam mimpi juga.

“Ketika kalian meletakkanku di maqbarah, menguburku dengan tanah, dan kalian meninggalkanku sendirian di sana, datang dua mala’ikat menakutkan, yang saking haibah nya, pikiranku jadi kacau dan sendi-sendi tulangku lunglai, memang karena besarnya aura dua mala’ikat itu,” jawab Sayyidina Umar.

“Kedua mala’ikat itu mendekatiku dan meminta duduk (dengan tenang). Namun saat mereka ini hendak mengutarakan pertanyaan kubur, tiba-tiba aku mendengar hatif (suara tanpa rupa), ‘hai kalian berdua (mala’ikat), tinggalkan hamba-Ku itu, dan jangan kau takuti dia karena aku sudah memberi rahmat padanya, mengampuni dosa-dosanya karena jejak nya semasa hidup di dunia pernah memberikan rahmat kepada burung emprit dan karena itu aku merahmati-nya fil uqba (di alam baka),’” demikian lanjut kisah Sayyidina Umar.

Makna Rahmatan Lil Alamin


===

Itulah hikayat pertama yang dikisahkan Syeikh Abu Bakar ketika menjelaskan hadits pertama dalam Kitab Ushfuriyah, yang berbunyi:

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Artinya:
"Orang-orang yang berbuat kasih sayang, Allah Ar-Rahman akan berkasih sayang kepadanya. Berbuat kasih sayanglah kamu semua kepada semua makhluk yang ada di bumi, niscaya semua makhluk yang ada di langit akan berkasih sayang kepada kamu semua." (H.R Ahmad, Abu Daud At Tarmizi dan Al Hakim).

Inti, rahmat itu mengalahkan segala hal dan bentuk pahala ibadah apapun. Hanya karena rahmatnya kepada seekor burung, semua jenis kebaikan bernama kepemimpinan yang adil, dermawan dan zuhud pun, kalah kelas dengan rahmat Allah, hal penting yang membuat Allah Al-Khaliq (Maha Pencipta segalanya) menciptakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw., makhluk termulia yang tanpa beliau lahir, alam raya ini tidak ada.

Sejatinya, wujudnya alam ini karena rahmat Allah, dan titik dimulainya rahmat itu ada di Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Itulah makna rahmatan lil alamin yang saya pahami sejak ngaji di pesantren bersama para kiai saya.

Bagaimana jika ada orang yang menyebut Kanjeng Nabi tidak bisa mewujudkan rahmatan lil alamin sebelum terbentuknya khilafah ala manhajin nubuwwah? Wallahu a’lam. Bagaimana jika menyebut Kanjeng Nabi adalah sesat sebelum diutus sebagai Rasulul aalam? Wallhu a’lam.

Saya hanya menangis saja kala mendengar pertama kali Kanjeng Nabi disebut begitu oleh mereka, dan ingin rasanya saya bertanya kepada manuk emprit yang suka menclak-menclok di pekarangan padi itu. Piye carane menclok, nuk? Tanyaku.

Dia diam karena saya khusnudzon sang manuk selalu dzikir dan senantiasa mensyukuri maujud-nya sebagai burung di dunia ini karena Allah sangat mencintai Kanjeng Nabi, hingga si emprit ikut diciptakan pula tentu. Manuk emprit sadar betul hakikatnya.

Ila ruhi ushfuri Sayyidina Umar radliyAllahu anhu, Al-Fatihah! [badriologi.com]

Ngaji Malam Kemisan, 03 Dzulhijjah 1439 H/15 Agustus 2018
Advertisement

Klik untuk komentar