Ngrenteg yang Terarah (Ngaji Ushfuriyah Bagian 2)


Ilustrasi membatin dalam hati. Foto: istimewa
Oleh M Abdullah Badri

NGRENTEG adalah membatin. Tempatnya di hati. Jika Anda kasihan kepada anak kecil  yang baru ditinggal wafat oleh orangtuanya (yatim), tapi Anda tidak sempat melakukan aksi atas suara batin tersebut dengan, misalnya bersedekah padanya, maka itu yang saya sebut ngrenteg.

Dalam Kitab Ushfuriyah karya Syeikh Abu Bakar pada hadits pertama tentang rahmat Allah Swt., ada cerita menarik soal ngrenteg yang terarah. Meski tipis halaman, kitab itu penuh hikmah, yang InsyaAllah jika dipahami, bisa menuntun kita membaca zaman dengan cerdas dan terukur.

Bagian ke-1, baca: 
Burung Emprit Sayyidina Umar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 1)

Misalnya cerita soal seorang ‘abid (ahli ibadah) dari Bani Isra’il. Disebutkan dalam Ushfuriyyah, ia sedang jalan (saya sebut patroli) dengan kendaraan onta ke sebuah kota.  Masih di wilayah Bani Isra’il. Dalam patroli pribadi tersebut, sang ‘abid melihat ada sebagian umat yang dilanda kelaparan, alias paceklik.

Tidak disebutkan apakah sang ‘abid tadi minal aghniya’ (dari golongan orang kaya) atau minal fuqoro’ (tergolong fakir miskin). Muallif (penulis kitab) hanya menyebut kalau tokoh yang diceritakan itu sempat bertamanni (berandai-andai) pasca melihat kondisi menyedihkan tersebut.

Ia ngrenteg begini:

“Andai saja aku memiliki gandum (makanan pokok rakyat saat itu), maka perut Bani Isra’il akan segera kenyang”.

Makna Tamanni


Dalam kajian Ilmu Nahwu, tamanni adalah mengharapkan sesuatu yang mustahil, tidak mungkin terjadi. Misal berharap tegaknya khilafah ala hizbiyyun, itu masuk bagian daripada tamanni yang diteriakkan dengan paksa, menurut saya.

Sebaliknya, jika Anda mengharap atas hal yang mungkin terjadi, itu diistilahkan dengan sebutan tarojji (berharap-harap). Misal berharap ingin negara ini tetap tegak sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di atas dasar Pancasila, itu tarojji.  

Mungkin karena sang ‘abid Bani Isra’il tersebut berasal dari golongan kurang mampu, maka jika disebut tamanni oleh muallif kitab, sangat wajar menurut saya.  

Meskipun tamanni, suara batinnya didengar oleh Allah. Salah satu Nabi yang hidup di masa itu diberi perintah wahyu agar menyampaikan pesan Allah kepada sang ‘abid tadi, begini pesannya:

“Wajib atasmu pahala dari Allah karena ucapan batin ‘andai (aku) ada gandum’ dan engkau ingin menyedekahkannya. Siapapun yang merahmati mahkluk Allah, maka Allah akan merahmatinya”.

Lihatlah, hanya karena ngrenteg yang terarah saja, -berniat ingin menolong umat manusia yang kelaparan,- Allah memberi hadiah ganjaran berkah rasa kasih sayang yang dimiliki hamba-Nya, sang ‘abid, sebagaimana jika ia diberi kesempatan melanjutkan suara batin itu jadi tindakan nyata. Muallif Ushfuriyah menyebut dengan bahasa “kama lau fa’ala/seperti (ganjaran yang dia dapatkan) saat dikerjakan”.   

Lalu, bagaimana dengan mereka yang ber-tamanni tegaknya khilafah ala HTI di Indonesia? Bagi saya mereka mungkin dapat ganjaran, tapi ganjaran sebagai pengusik umat Islam Indonesia karena pakai kalimat tauhid untuk simbol gerakannya. Khilafah terbukti membuat banyak rakyat di negara-negara konflik kelaparan.

Saya ngrenteg,

“Andai saja aku memiliki nasi dan uang banyak, maka perut Bani Khilafah akan segera kenyang dan tidak bikin ribut-ribut”.

Hehe. Itu guyon, yang tamanni juga sih. [badriologi.com]

Ngaji Malam Kemisan, 03 Dzulhijjah 1439 H/15 Agustus 2018

Advertisement

Klik untuk komentar