Ustadz Mudhofar yang Mendadak Jadi Sorotan

Tim UAS saat cek lokasi di Mayong, Jepara
MENDADAK Ustadz Mudhofar (selanjutnya disingkat UM) jadi tokoh terkenal sejak berencana menghadirkan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke pesantrennya, Al-Husna, Mayong, Jepara, Sabtu (01/09/2018) malam, bersama Habib Zainal Abidin dan Azzahir Pekalongan. 

Bagi warga Mayong dan Jepara pada umumnya, UM bukanlah sosok baru gedhe. Tercatat, saat masih di tempat asalnya, Desa Singorojo, UM dikenal masyarakat karena pernah menjadi sumber polemik yang hampir menyulut konflik fisik warga sekitar. Di beberapa koran cetak tahun bahula’, UM juga pernah diarak warganya ke Polsek atas sebuah perkara. Itu cerita lama.

Kini, selain mulai mendirikan pesantren Al-Husna 1 di Pelemkerep tahun 2002, UM juga mengembangkan Al-Husna 2 di Singorojo. Keduanya masih di wilayah Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara, daerah RA Kartini dilahirkan.

Tahun 2009, UM pernah mengadu nasib menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Keadilan Sekahtera (PKS). Gagal, dia pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN) pada musim Pemilu berikutnya. Tumbang, UM mantap menjaulah di Jamaah Tabligh (JT). “UM pintar meloncat-loncat, kok tak takut kejeglong”. Begitu komentar salah satu teman karibnya.

Cerita yang saya dengar, UM ini mantap ikut jaulah sejak rajin menghadiri undangan ngaji tiap Ramadhan di Jakarta. Karena di sekitar masjid tempat dia mengaji itu didominasi anggota jaulah, UM yang alumni Sarang itu pun akhirnya berlabuh di JT, meski sebelumnya pernah masuk pengurus LBM NU setempat.

UM dibebastugaskan sebagai pengurus NU (bersama teman-teman ustadz jaulah lainnya) karena sudah tidak sepaham dengan harakah NU, dan konon sering mengeluarkan statemen yang tidak seharusnya dikeluarkan oleh kader NU di manapun. Keluar khittah An-Nahdliyyah lah bahasa NU-nya. 

Tapi soal tirakat, UM bisa dibilang melebihi apa yang dilakukan warga NU lainnya. Nariyahan 40.000 kali bisa dilakoni demi kesuksesan hidupnya. Ia juga diketahui sering nyarkub ke makam keramat Mbah Sholeh (Buyut Gus Mughits, Gleget, Mayong) hanya untuk ritual guyang warok

Jaringan JT, dimana ia disebut sebagai ketua-nya di wilayah Jawa Tengah (de facto), cukup mendukung kesuksesan pesantren Al-Husna. Ia sangat mahir menggunakan jaringan hingga tembus ke Turki dan Yaman. Sampeyan durung mesti iso, gan!

Kata teman semasa kecilnya, duit UM bukan lagi rupiah, tapi sudah dolar, nda. Makanya si teman masa kecil-nya berujar ke saya pernah ditawari rumah beserta isinya penuh plus mobil kalau bersedia menjadi pengikut setia, asistennya. Sayang dia mengaku ke saya tidak mau, sampai sekarang. Nggaya bro ra gelem!

Niat syiar dakwah UM juga sangat tinggi. Selain ingin memiliki 40 putra dari 4 istri berbeda untuk dicetak jadi generasi Qur’ani semua (hingga “digasaki” dengan sebutan al-cisna), ia juga ingin membesarkan NU lewat jaringan JT nya di Jepara.

Kata teman masa kecilnya itu, UM ingin semua pengurus NU di tingkatan Majelis Wakil Cabang (MWC, setingkat kecamatan) adalah anggota JT. Sehingga, ketika ingin menjadi ketua-nya, untuk membesarkan NU-nya, akan lebih mudah ia jalankan. NU ingin di-jaulah-kan. MasyaAllah. Hebat.

Niat syiar dakwahnya yang tinggi juga bisa dibuktikan atas acara-acara yang digelar di Jepara. UM tercatat pernah mengadakan acara besar menghadirkan jamaah JT berjumlah 8000 orang. Milad pesantrennya juga selalu diadakan se-spektakuler mungkin. Ada pesta kembang apinya laiknya tahun baru.

Maka, Anda jangan heran jika tahun ini UM mengundang UAS. Maunya jelas, ingin spektakuler. Setidaknya begitu yang ditangkap oleh teman-teman saya sesama penggerak NU. Subhanallah.

Demi suksesnya acara, UM melakukan pelbagai strategi. NU dibuat skakmat. Caranya, UAS diduetkan dengan Habib Zainal Abidin. NU jadi serba bingung. Mau menolak kok ada Bib Bidin, tapi jika menerima, walau bagaimana pun UAS adalah figur yang dikelilingi haters NU.  

UM juga gigih mengawal Bib Bidin. Di acara maulid sekitar Jepara dan Kudus, UM selalu mendampingi Bib Bidin memimpin pembacaan maulid di panggung utama pengajian, sembari menyebar pamflet acaranya, meski dia tidak diundang. Semua itu dilakukan demi agar Bib Bidin rawuh ke Mayong. Mungkin ini yang disebut mantan asistennya dengan atribut “njengkelke” meski tiraktanya harus diakui jempolan.   

UM terus merapat ke Bib Bidin meski konon tidak dapat jadual kehadiran pada mulanya. Nama Bib Bidin juga disohorkan lebih awal sebelum publik mengetahui kalau beliau akan disandingkan dengan UAS. Semua ditandangi sendiri, dewekan. Saya jamin ancum-ancum belum cencu cuat meneladani Ustadz Mudhofar.  

Agar tidak ada gangguan saat hari H acara berlangsung, ceramah UAS ditaruh waktunya di tengah acara maulid yang dipimpin Bib Bidin. Jadi, misalkan ada teriakan “Allahu Akbar” versus “Shollu alan Nabi” dari jamaah di bawah panggung, akan redam sendiri. UM mengatur waktu untuk meminimalisir potensi gaduh suara dirijen yang saya dengar ada yang mengusulkan jadi rencana.

Semoga sukses ya ustadz! Berkah melimpah. Tapi ingat, Jepara bukan Jakarta. Jepara Bumi Aswaja An-Nahdliyyah. Bukan Somadisme Tahririyyah. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar