Jauhkan Ojing dari Banyu Gendeng di Orkesan -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Jauhkan Ojing dari Banyu Gendeng di Orkesan

M. Abdullah Badri
Senin, 22 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
jauhkan orkes dari banyu gendeng yang membuat oleng
Jauhkan ojing dari banyu gendeng di orkesan.


Oleh M. Abdullah Badri


TANPA sengaja, tadi malam (21 Juni 2026), saya ngobrol ringan dengan ojing tobat yang sekarang sudah punya cucu. Kata dia, kunci supaya tidak ada gelut di hiburan orkes itu adalah banyu gendeng dihilangkan. Sebab, gara-gara banyu gendeng di orkes, orang yang awalnya berteman bahkan bersaudara, bisa adu banteng di tempat. 


Mabuk banyu gendeng itu membuat nalar hilang, berani menghadapi siapapun, bahkan berani menghadap Tuhan. Pikirannya didekati amarah iblisiyah. Kesenggol sitik di arena orkes, bisa tersinggung. Dan jika kalah lalu tidak terima, gethingnya bisa dibawa pulang dan menunggu nginthing-nginthing di orkesan berikutnya. 


Setelah pulang orkes, antar dulur bisa jothakan berbulan-bulan gara-gara banyu gendeng di orkesan dangdut. Ini reel nyata terjadi, sebagaimana saya dikisahkan tadi malam. Mental oleng sebab banyu gendeng itu "i want a problem" atau "i want to trouble". Tanpa masalah, oleng-e orak kanggo. Inilah yang saya sebut amarah iblisiyah


Lha kok di orkes, tidak terima karena kalah dalam pertandingan badminton atau volly saja bisa nginthing-nginthing "awas cah iku ngko nek pethuk ning orkesan". Caranya ya dengan luru masalah di orkesan. Njarak nyenggol pas ngibing, misalnya. Bisa terjadi. 


Orkes memang jadi arena adu banteng, sebab, saat orkesan inilah, hari raya banyu gendeng terjadi dan hari raya akal budi dihilangkan bersama secara sengaja. Wong bebas mendem kok nek ono orkesan. Dulu, katanya, tradisi upluk juga wajib ada di orkesan. Saiki wis gak usum. Ngalih online. 


Saya diberitahu juga, bahwa dulu, di era 90an, antar pemuda desa bisa saling gruduk bergantian ke desa lainnya karena emosi dari arena orkes yang terbawa pulang. Untuk ukuran sekarang, sporadis. Grudukan hanya antar kelompok ojing saja. Bukan sekampung atas nama solidaritas. Gak asyik lah, menurut mereka. 


Yang benar-benar penghobi orkes, akan membuat agenda orkesan sendiri khusus untuk kelompoknya. Mendatangkan penyanyi dan player pilihan, tanpa banyu gendeng. Misalpun ada, terkontrol, sebab digelar ekslusif. Ngene iki iseh mending


Kalau orkesannya di lapangan, di tempat yang terbuka, dan banyu gendeng merajalela, maka, jangan heran bila satu orang linmas yang ingin memisah kerumunan justru menjadi terget 24 ojing, seperti terjadi di Desa Gemulung kemarin, yang akhirnya jadi sebab larangan gelaran hiburan orkes sampai tenggat waktu tak ditentukan. Di Gemulung. 


Sekali lagi, kuncinya di banyu gendeng. 


Dulu, polisi lintas Polsek di Jepara selalu menggelar operasi banyu gendeng jika akan ada acara orkes. Saiki, polisine malah ngijini tanpa pembatasan banyu gendeng. Kalaupun ada, lamis lambe


Karena itulah, dalam waktu dekat, saya pribadi berniat menyurati Kapolres dan Kepala Satpol PP (nek perlu sekalian Bupati) agar menggelar operasi banyu gendeng tiap ada orkesan. Berdampak atau tidak, ora urus. Namun, jika operasi digelar, minimal bisa mengurangi adu banteng di arena hiburan orkes. Itulah harapan saya. Biar banyak generasi tidak hilang asa positifnya. 


Mulai sekarang, ojing harus hati-hati. Aku bakal kirim surat! [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha