Mengkritik Orkes Bukan "Sok Suci" -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Mengkritik Orkes Bukan "Sok Suci"

M. Abdullah Badri
Selasa, 16 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
mengkritik orkes bukan berarti sok suci
Kritik Orkes Bukan Sok Suci.


Oleh M. Abdullah Badri


KONCOKU di Ansor ada yang tidak terima saya mengkritik orkes. Dia bilang, mabuk tidak harus dari orkes, tapi juga kekayaan, kekuasaan, gelar dan bahkan agama. Baginya, yang tidak mabuk 4lkoh0l tak perlulah merasa lebih suci. Karena bisa jadi, merasa lebih suci, kata dia, adalah bentuk mabuk agama. 


Warga 62 itu aneh. Ketika ada orang mengingatkan agar tidak dekat maksiat, justru pengingatnya itu yang diserang. Saya dicap "sok suci", "mabuk agama" dan lain sebagainya. Ini kekeliruan berspektif yang disebut ad hominem (mengalihkan pembahasan dari masalah ke pribadi). 


Harusnya, dia bertanya dulu: benarkan fakta sosial orkes memang dekat dengan mendem, perkelahian, aurat terbuka, kerumunan tak terkendal, seperti saya kritik? Jane iki sing dibahas. Ora nuduh sok suci. Jika jawabannya iya, maka, kritik saya sah secara hukum. 


Mengatakan bahwa "orkes dekat dengan maksiat" itu tidak berlaku mutlak. Ini seperti menyatakan bahwa nongkrong sampai larut itu cenderung mudarat, berkumpul tanpa pengawasan itu dekat dengan konflik dan tempat tertentu lebih dekat dengan banyu gendeng. Jika memang faktanya demikian, ya jangan menyalahkan orangtua dan masyarakat yang mengingatkan lah. Kudu gelem dikandani. 


Saya meyakini, ojing itu banyak mengetahui bahwa apa yang mereka sebut hiburan itu dekat dengan mudarat. Tapi, karena mereka termasuk ahlu raib (ahli ragu, sehingga merasa tidak salah melakukan hal yang mudarat), mereka tidak bisa menjawab kritik saya kecuali dengan pengalihan isu dan bilang "gudal". Ora ilmiah blas!


Bahwa untuk mengingatkan orang lain agar tidak jatuh pada kerusakan itu memang termasuk amar makruf nahi mungkar, dan ini tidak diharuskan dulu bebas dari dosa. Orang yang masih berdosa, nek kuwe sadar, tetap berkewajiban meninggalkan dosa dan mengingatkan orang lain agar menghindari dosa dan kerusakan. Bila harus menunggu sempurna dulu baru baru boleh menasehati, maka, tidak ada satu pun manusia yang pantas bicara kemaslahatan. 


Dokter yang perokok tetap benar ketika berkata rokok merusak paru-paru. Polisi yang punya dosa tetap benar ketika melarang pencurian. Guru yang tidak sempurna tetap benar ketika melarang muridnya berbuat salah. Kebenaran tidak gugur hanya karena penyampainya orang biasa. Cekeli tah iki, ben kuwe ora kemrungsung akal!


Cangkem elek yang muni "mabuk tidak hanya di orkes, tapi ada juga mabuk agama" itu sama saja mengucap "kecelakaan tidak hanya terjadi di jalan A, tapi juga di jalan B". Lalu, apakah di jalan rawan itu dilarang diberi rambu peringatan, ngono? Cangkem elek begini hanya berupaya mengaburkan inti masalah: kritik faktual! Dia kalah argumen. Makane bantahe koyo wong mabuk tenan!


Saat Nabi Muhammad Saw masih dakwah di Makkah, para kafir Quraish tidak terganggu karena Nabi Saw tidak mengkritik tradisi jahiliyah, bahkan menjulukinya sebagai "Al-Amin" (Terpercaya). Tapi, begitu beliau menegur penyimpangan, melakukan nahi mungkar, label negatif sebagai mufarriq (pemecah belah), kahin, sahir, majnun, dan lainya, mulai dituduhkan. 


Anggap saja saya sedang di posisi nahi mungkar. Makanya, teman sendiri pun oleng karena sumber cuannya terganggu. Yang pasti, pengkritik tidak otomatis salah hanya karena diberi cap buruk, dan ini saya terima bila saya disebut mengganggu, terutama mengganggu jalannya cuan si bos botol. Dia sangat berkepentingan maraknya orkes di Jepara. 


Mugo-mugo boloku orak melu dodolan banyu gendeng juga. Nek sampek dodolan, elingo, kuwe durung kawin, durung nduwe anak. Durung tahu ngerti rasane anak angel dikandani. Elingo! [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha