Jumat, 05 Februari 2010

Belajar Menulis Berita

Oleh M Abdullah Badri

Secara sederhana berita dapat diartikan sebagai informasi atas suatu peristiwa atau suatu hal. Karena berita ditulis untuk dibaca, maka harus dibuat semenarik mungkin agar orang yang membaca merasa mendapatkan suatu hal baru atau sebuah pencerahan yang bermanfaat.

Namun tidak semua perisriwa layak untuk dijadikan sebuah berita. Bisa jadi, sebuah peristiwa sangat besar artinya bagi kita, namun tidak bagi orang lain. Misalnya, kemarin Bung Zaidun sukses menembak Nok Hindun. Bagi dia, peristiwa itu bagian dari sejarah hidupnya yang tak akan terlupakan, namun bagi orang lain, no one don’t care, la yubali, tidak penting. Secara sederhana dikatakan bahwa berita itu ditulis bukan untuk diri pribadi, namun untuk publik, orang banyak. Yang ditulis untuk konsumsi pribadi bukan berita, namun catatan harian atau diary.

Karenanya, agar berita itu bernilai publik, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan peristiwa yang ditulis itu.

Pertama, waktu (aktualitas). Yakni kecepatan dalam penyampaian berita. Peristiwa yang ditulis haruslah peristiwa yang sedang dalam perdebatan wacana. Misalnya berita tentang perkawinan Pujiono dengan Ulfa jelas tidak relevan lagi bila baru ditulis sekarang. Sebab, perkembangan wacana tentang Puji sudah sedemikian cepat. Semakin cepat berita disampaikan, semakin mahal nilai dan harganya.

Kedua, unsur kedekatan (jarak). Ada dua makna dalam kata jarak, geografis dan emosi. Peristiwa lokal seperti kecelakaan di Kota Manado, tidak begitu menarik minat baca orang yang tinggal di Kudus, kendati berpengaruh secara sosial. Mengapa? Karena secara geografis, tempat kejadian itu jauh. Begitupun dalam pemberitaan tentang fluktuasi bursa saham Indonesia. Bagi “mahasiswa” TBS, berita itu tidak menarik, karena belum begitu paham. Berbeda ketika dalam sebuah koran tiba-tiba muncul judul “Alumni Madrasah TBS Kudus Menjadi Presiden”. Wah, TBS bisa istighosahan sebulan. Mengapa? Karena isi berita itu dekat secara emosional.

Ketiga,selebritas. Mengupil adalah hak seseorang (betul..?), tidak ada yang melarang, selama tidak merugikan. Namun jika perbuatan itu dilakukan oleh Luna Maya misalnya, apa yang akan terjadi? Wartawan gosip akan menulis beritanya dengan judul “Luna, Suka Ariel Atau Upil?”. Orang terkenal, meskipun yang dilakukan itu remeh, bisa mengguncang dunia.

Keempat, aneh (extra ordinary). Kambing berkepala dua itu biasa, tapi bila ada sapi berkepala Budi Anduk, itu hal yang luar biasa. Nilai beritanya, bila dijual, bisa dibuat haji sepuluh orang. Bayangkan!

Kelima, berdampak luas. Wartawan yang baik adalah yang mampu menuliskan beritanya hingga mampu membuat sebuah gerakan revolusi. Kalau pernah membaca Majalah Tempo atau Sabili, maka liputan yang ditulis disana banyak memberikan isnpirasi untuk melawan ketidakailan. Dan itu dirasakan oleh semua golongan, kaya-miskin, laki-laki-perempuan, kyai-santri dll.

Keenam, pertentangan atau konflik. Perdebatan soal hukum rokok yang mendudukkan secara diametral antara yang pro dan kontra menarik minat publik.

Ketujuh, seksulitas. Seks disini bisa diartikan secara luas. Tidak sekedar berbicara pada wilayah batasan aurat tubuh laki-laki dan perempuan, namun juga soal kecantikan, kemolekan, penyelewengan pasangan suami istri dll. Bahkan ini menjadi komoditas utama media. Ada pula yang media yang mengkhususkan isinya pada hal-hal yang berbau seks.

Kedelapan, kemajuan. Jangan salah dalam mengartikan kemajuan. Yang dimaksud maju disini bukan kemajuan dalam bidang “permulutan” dan “pergigian”, namun lebih pada bidang sains dan humaniora, seperti ekonomi, politik, hukum, social, budaya, agama dll. Mengapa hal itu manarik? Karena menawarkan pembacaan baru.

Kesembilanan, Human Interest (mengundang rasa kemanusiaan). Banyak hal yang mampu membangkitkan orang memunculkan saya rasa kemusiaannya, semisal cinta, empati, kasihan, sedih dan seterusnya. Misal adalah berita tentang Futqon, siswa MA TBS yang terbunuh dalam aksi yang dilakukan para perampok pada tahun 2004, yang hingga sekarang kasusnya masih gelap.

Kesepuluh, Humor Ria. Ada-ada saja peristiwa yang terjadi di dunia ini yang membuat orang tertawa. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang oleh Pak Musthofa. Ups!.

Berita Yang Menarik
Dalam menulis berita harus pandai-pandai memilih mana yang layak dikonsumsi oleh khalayak dan yang tidak. Begitupun dalam menuliskannya harus berimbang, antara yang pro dan kontra, jika isi berita tersebut merekam jejak konflik. Ini sudah menjadi prinsip dasar yang disebut both side writing. Selain itu, ketika wawancara, seorang wartawan juga harus menghormati hak-hak narasumber. Ia tidak boleh menulis bagian berita yang tidak ingin dipublikasikan oleh orang yang diwawancarai, off the record.

Dalam menulis berita, wartawan terlarang memasukkan opini pribadi. Jadi harus obyektif. Yang dilihat di lapangan itulah yang hanya boleh ditulis wartawan.

Agar sebuah berita lengkap, ada beberapa unsur penting yang tidak boleh dilupakan, yaitu 5 W + 1 H, singkatan dari what (apa?), who (siapa?), where (dimana?), when (kapan?), why (mengapa?) dan how (bagaimana?). Sebuah peristiwa pasti memuat 5 unsur tersebut. Seorang wartawan harus mencari unsur-unsur tersebut, jika tidak, akan ada bagian berita yang hilang. Tentu, itu akan mengurangi akurasinya.

Namun, pada saat tertentu, wartawan boleh memilih unsur mana yang akan didahulukan dalam lead berita, sesuai dengan nafas liputannya. Ketika membuat berita tentang figur seorang tokoh misalnya, ia akan lebih banyak berbicara tentang biografi. Makanya, unsur who akan lebih dominan daripada lainnya. Demikian pula dalam berita yang masih misterius dan mengandung teka-teki, unsur why akan mendominasi. Contoh, mengapa banyak anak TBS ketika diajar dalam kelas banyak yang tidur? Apakah karena kebanyakan makan terong, begadang atau sering tahajudan? Jika memang hal-hal diatas dapat dilakukan, maka sebuah berita akan menarik minat pembaca.

Jenis Berita
1. Straight News (Hard News, Spot News) atau berita langsung. Yakni berita yang secepat mungkin harus dibaca oleh pembaca. Berita jenis ini memiliki cirri teknis sebagai berikut:
a) Menggunakan gaya bahasa to the point atau lugas
b) Masalah terpenting dalam berita tersebut ditulis pada alinea pertama. Makin kebawah, isi berita makin tidak penting. Dengan membaca alinea pertamam atau hanya membaca judulnya, orang akan langsung menangkap pointnya. Penulisan ini disebut juga dengan istilah Piramida Terbalik.
c) Unsur 5 W + 1 H dapat ditangkap langsung, harus aktual.
d) Gaya penulisan jenis ini biasanya digunakan dalam penulisan surat kabar yang terbit harisan. Terbatasnya waktu pembaca, membuat pemilik media harus membuat berita yang singkat, padat, namun berisi.
2. Soft News atau berita ringan. Yakni berita yang mengemukakan sisi lain dari sebuah peristiwa atau acara. Misalnya, seminar, muktamar atau kongres suatu organisasi.
3. Features. Yaitu berita yang ditulis wartawan dengan gaya seperti bercerita. Biasanya hasil laporan perjalanan dari daerah terpencil atau luar negeri, investigasi, transmigrasi dan sejenisnya. Sebenarnya ini masuk dalam kategori soft news, namun disampaikan dengan panjang dan mendalam.

Asas 5W+1H masih digunakan. Biasanya, gaya penulisan features ini ditulis oleh wartawan media massa yang terbit berkala, seminggu, dwiminggu atau sebulan, baik tabloid maupun majalah.
Gaya penulisan jenis ini cenderung menggunakan bahasa sastra, sehingga bisa disebut jurnalisme sastra(wi). Sehingga enak dibaca, dan pembaca pun menikmatinya. Namun, membutuhkan waktu lama. Beda dengan artikel atau laporan berita biasa. Hanya dengan membaca judulnya saja, cukup mewakili isi keseluruhan berita.

Ada beberapa tipe yang dijumpai dalam features:
1. Features Human Interest, (menyentuh keharuan, kegembiraan, simpati dan sebagainya). Contoh: cerita tentang lika-liku guru di daerah terpencil.
2. Features Biografi, kisah tentang seseorang yang memiliki keahlian unik atau prestasi membanggakan.
3. Features Perjalanan, peliputan tentang perjalanan seseorang ke tempat yang bernilai sejarah tinggi atau memiliki daya tarik luar biasa. Biasanya, penulisannya menggunakan kata ganti orang bertama: aku, kita, kami dsb, sebab penulis terlibat langsung di dalamnya. Unsur subyektivitas lebih menonjol.
4. Features Histori, yaitu tulisan yang mengambil latar masa lalu, sudah lewat. Misalnya, peristiwa sumpah pemuda atau proklamasi kemerdekaan. Namun harus memiliki nilai aktualitas, semisal mampu memunculkan artikulasi baru tentang sejarah masa lalu itu.
5. Features Petunjuk Parktis (Tips), misalnya yang mengajarkan bagaimana cara merangkai bunga, manulis dengan baik, menjadi pemimpin yang disegani.

(Disampaikan dalam Pelatihan Dasar Jurnalistik (LDJ) PP/IPNU TBS Kudus. 22 Desember 2008)

1 komentar:

  1. Salam kenal mas saya berkunjung di sini, dari Kompasiana.. tulisannya sangat mendidik.

    BalasHapus