Jelang Satu Abad Harlah TBS, Saya Teringat Syiir "Mars TBS"

Beliau adalah guru nadhom syiir saat saya kelas II MTs TBS. Kitab dijadikan pedoman ngajar adalah "Muhtashor Syaafy". Kitabnya tipis, tapi jika mendapatkan ilmunya, kita bisa membuat nadhom (puisi Arab berbait) dengan 16 bahar.

JELANG Harlah Madrasah TBS yang ke 92 tahun 2018 ini, kemarin saya dikirim video oleh Kang Charis Rohman. Dalam video slide ucapan Harlah TBS Kudus itu ternyata ada backsound syiir yang pernah saya buat di kelas, yang sejak dulu saya klaim sendiri sebagai "Mars TBS", karena memang saat itu belum ada lagu khas yang selalu ditampilkan dalam acara-acara di madrasah.

Saya tidak tahu siapa yang menjadi vokal di video tersebut. Entah dari siswa TBS sendiri atau orang lain. Sudah saya upload di Youtube Badriologi sebagai dokumen, ini:


Beberapa sholawat yang saya karang, menurut cerita teman-teman saya, ada yang dipakai pujian pra jamaah sholat di musholla dan masjid. Adik-adik dan ibu saya sampai sekarang masih ada yang hafal lagu dan teksnya karena dulu Bapak saya almarhum sering mendengarkan karya itu via kaset yang pernah saya rekam sendiri, saat Kang Sih Karyadi jadi vokal pada sebuah acara di Madrasah TBS. Kini, kasetnya sudah aus, mblerek dan hilang kena hujan.

Saya jadi teringat dengan Kiai Nasihin, rahimahullah. Beliau adalah guru nadhom syiir saat saya kelas II MTs TBS Kudus. Kitab yang dijadikan pedoman ngajar adalah "Muhtashor Syaafy". Halamannya tipis, tapi jika mendapatkan ilmunya, kita bisa membuat nadhom (puisi Arab berbait) tebal dengan pilihan 16 irama/bahar (بحر), sesuai kehendak kita. Tentu urusan Nahwu dan Shorof harus selesai dulu. Ini foto copy konsep syiir Arab dari Kiai Nasihin, diringkas dari Kitab "Muhtashor Syaafy" secara lengkap, yang sampai saat ini masih saya simpan rapi. Dulu sering saya bawa saat imtihan. Hahaha.

Ringkasan Ilmu Arudl dari Kiai Nasihin TBS Kudus (1)
Ringkasan Ilmu Arudl dari Kiai Nasihin TBS Kudus (2)
Sejak kenal dengan ilmu syiir Arab yang kemudian saya ketahui sebagai Ilmu Arudl (العلم العروض), saya mencoba mempraktikkannya dengan membuat nadhom berbasis sholawat dan sejarah. Waktu itu, seingat saya, pernah membuat hingga 11 gubahan puji-pujian kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dan cerita-cerita hikmah, dengan pelbagai jenis bahar yang saya gunakan.

Yang saya ingat judul-judulnya adalah:

1. يولد مولانا (Saat Baginda Dilahirkan)
2. صلّوا على النبي (Bersholawatlah kepada Nabi)
3. صلوات الاءِسراء (Sholawat Isra Mi'raj)
4. بمدرسة (Demi Madrasah)

Lain dari empat judul di atas, saya sudah tidak ingat lagi karena coretan saya hilang entah kemana saat tulisan ini dibuat. Dokumentasi teks dari tiga judul syiir di atas sebetulnya sempat disimpan oleh Kang Saifuddin Zuhri (sekarang Ketua Mutakhorijin Ponpes Beletengahan Kudus). Tapi ketika saya minta copian-nya pada Kamis (22/02/2018) pagi, belum juga dikirim atas alasan lupa naruh.

Syiir-syiir itu seingat saya lahir pada tahun 2002 kala terobsesi meniru semangat kelompok rebana di Kudus dan Langitan, yang waktu itu menemukan momentum sebagai rujukan seni sholawat di dunia musik hadrah pesantren. Saya berharap Madrasah TBS memiliki rekaman sholawat yang mandiri, dibuat sendiri oleh santrinya, dan jadi ikon seni hadrah yang saat itu booming. Habib Syeikh belum sepopuler sekarang.

Karena masyayikh TBS tidak mengijinkan rekaman di studio, syiir beserta lagu akhirnya hanya tampil saat acara-acara yang digelar oleh madrasah, semisal peringatan Isra' Mi'raj, Maulid Nabi, dan beberepa event undangan rebana (pernah ke radio juga). Itupun karena saya kebetulan masuk pengurus PP/OSIS TBS yang diberi ruang kreatif membentuk grup rebana, yang kemudian saya namakan bersama personil lain seperti Kang Arsyad, Kang Bambang, dll, dengan sebutan Rebana Assalafy.

Saya jadi backing vokal dari pemilik suara kondang, namanya Kang Sih Karyadi. Hingga cerita ini saya tulis, hanya lagu bertema بمدرسة - lah yang dokumentasi suara vokalnya bisa dilacak di Youtube karena teksnya sempat dimuat pada cover belakang Majalah Ath-Thullab Edisi VIII tahun 2004, saat pemimpin redaksinya kebetulan teman sekelas: Mustamir Anwar. Majalahnya masih saya simpan. Ini penampakan Majalah Ath-Thullab edisi saya menulis artikel berjudul-judul.

Cover belakang Majalah Ath-Thullab Edisi tahun 2003-2004
Cover depan Majalah Ath-Thullab Edisi tahun 2003-2004
Saya sempat kecewa karena teks syiir yang saya tulis di cover tersebut ternyata diubah tanpa konfirmasi oleh Redaksi Ath-Thullab atas usulan Mustafid (ketua OSIS saat itu) dan Luthfi Rohman (redaktur). Katanya, syiir saya diedit oleh Kiai Nasihin, disebut beliau sebagai bahar Romal, dengan catatan mahdzuf dimana-mana. Padahal, saya sengaja tidak memakai kaidah Ilmu Arudl karena menyesuaikan temuan irama lagu sebelum teksnya saya buat kemudian.

Tambahan, pada tahun 1950-an, lagu-lagu syiir Arab khas memuji Madrasah TBS ternyata sudah ada. Berikut adalah syair lagu memuji Madrasah TBS hasil karangan Mbah KH. Asnawy Bendan, yang saya dapatkan dari KH Khoirozyad Tajussyarof saat memposting cerita nostalgis ini di Facebook.

نحن معشر التلامذة

نشكر آباءنا

لإقامة هذى المدرسة النافعة

لنا ولي وطاننا ×2

آمين آمين آمين.

يارب العالمين

إلهي فكنهالنا دوما × 2.

او كما قال والله أعلم

Menurut Kiai Zyad, masih banyak lagi lagu sholawat yang dilantunkan untuk menyambut mulai jam masuk mengajar di pagi hari yang diajarkan para guru TBS pada masa itu, "aku masih ingat dalam benak saya yang mungkin guru-guru Madrasah TBS saat ini tidak pernah diajari demikian," ujar Kiai Zyad di komentar Facebook saya, Jumat (23/02/2018) pagi.

Syiir Nama-Nama Sekelas
Heran juga, jaman itu kok saya kober-kobernya juga mendokumentasikan nama-nama anak sekelas dengan syiir. Dari hobi membuat syiir pula, saya kini mengingat kembali jumlah siswa di kelas saya waktu kelas I Madrasah Aliyah (MA), ada 48 orang. Saya siratkan dalam lafal مُحٌّ yang dalam hitungan Abajadun Hawazun Hathoyakun, berarti 40: م tambah 8: ح, yang setahu saya artinya adalah "kuning telur".

Ini coretan syiir ber-bahar Rojaz berisi nama-nama teman sekelas yang sudah dimodif, yang jika diterjemahkan 10 baitnya, akan jadi begini makna tekstual naratif nya:

Syiir nama-nama teman sekelas 1 MA TBS Kudus 
1. Simak, inilah nama-nama siswa yang berjumlah 48 orang dalam kelas 1 Aliyah.
2. Muhammad Ja'far [1], dua Rofiq (ada Ainur Rofiq dan Rofiq [2 dan 3]) yang jadi teman Abdullah Badri [4].
3. Abdul Basir [5], Mustafid [6], Mustajab [7], Abdurrohim [8], Mustamir [9], Andika [10].
4. Khoirul Anam [11], Wibowo [12], Shofi [13], Maula Shofa [14], Huda [15] dan Jamal [16].
5. Romdhoni [17], Asnawi [18], Zainuri [19], Zamroni [20], Luthfi [21], Ansori [22], dan Solihul [23].
6. Ibnu Sururi (Tajudin Arafat) [24] dan Nawawi [25] itu kanca. Lalu Ahmad Ainul Yaqin [26], cetho wonge.
7. Taufiq [27], Husnan [28], Farhan [29], Mudhofar [30]. Siroj [31], Maman [32].
8. Ma'ruf [33], Mubin [34], Zainal [35], Juliyanto (alm.) [36], dan Iswanto [37].
9. Sang ketua adalah Rif'an [38], lalu ada Ghoffar [39], Zaim [40], Budi [41] yang semuanya adalah kanca.
10. Faiz [42], Salafuddin [43], Ulil Albab [44], Fathillah [45], selesai. Alhamdulillah.

Saya tidak tahu detailnya, kenapa tiga nama lain tidak disebutkan di bait yang saya karang itu. Entah lupa jumlahnya, keliru hitung pakai Abajadun atau teledor konyol tanpa sadar. Saya tidak ingat lagi berapa persisnya jumlah siswa saat di kelas I Aliyah TBS (IPA), saat itu.

Angka 48 saya ganti مُحٌّ, hanya tabarruk konsep Abajadun setelah terinspirasi KH Turaichan Adjhuri, yang menurut cerita KH Sya'roni Ahmadi pernah mendokumentasikan tahun wafat Mbah KH Asnawi Kudus dengan kalimat عش غطّ, artinya "kulo aturi gesang jenengan, mugi jenengan lindungi/ mohon hidup kembali Mbah Asnawi, semoga Tuan lindungi", yang jika dikalkulasikan jumlahnya jadi 1379 H. Rumus hitungnya pakai deteksi huruf, begini:

Rumus Abajadun Hawazun Hathoyakun Lamanun Sho'afashun Qorosyun Tatsakhodzun Dlodzoghun 
Mars UKM Nafilah
Mengetahui saya yang sejak di madrasah punya hobi menulis syiir, Mizbah KZ yang saat di kampus menjadi Ketua Nafilah (UKM Bahasa Arab) di IAIN Walisongo Semarang, meminta saya membuat mars khusus Nafilah dalam bahasa Arab. Katanya, sudah empat tahun UKM yang dimpimpinnya berniat membuat mars khsusu, namun tidak kunjung menemukan lagu dan teks syiir yang layak dijadikan mars. Seingat saya terjadi tahun 2008.

Tanpa menyesuaikan kaidah formal Ilmu Arudl, saya akhirnya berhasil membuat mars Bahasa Arab untuk Nafilah IAIN Walisongo dalam waktu tidak lebih dari se-jam, hanya dengan mahar dua bungkus rokok. Hahaha.

Ini teks yang kebetulan saya temukan. Hanya di reff saja, tidak utuh sampai 4 bait yang pernah saya tulis. Di Nafilah masih ada atau tidak, tak pernah tahu. Ini saya menemukan bentuk coretan teks awal "Mars Nafilah" ketika saya mojok di aula asrama itu, sendirian:

Teks awal Mars Nafilah
Kata Kang Mizbah yang sekarang jadi dosen di UIN Walisongo, syiir ngawur yang saya karang itu masih didengungkan, "hari ini baiat pengurus dan didengungkan," katanya Kamis (22/02/2018) siang, di WA saya.

Alhamdulillah, semua adalah barokah saya ngaji Ilmu Arudl di Madrasah TBS Kudus. Ilmu langka yang jarang orang mempelajarinya, bahkan dianggap ilmu sesat oleh wong edan sebelah yang tidak paham varian ilmu seni Arab selain kaligrafi Arab dan seni murottal. Kata ibu, kakek saya dari jalur ibu dulunya memang sangat mencintai Ilmu Arudl hingga terkenal mahir nembang Arab pada zamannya. Ya wajar jika saya kena getahnya walau setetes. Hahaha.

Selamat Harlah Madrasah TBS Kudus yang ke 92. Pada Harlah ke-100 nanti, akan banyak yang keluar memberikan testimoni tentang maziyyah madrasah TBS. InsyaAllah. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar