Senin, 14 Juni 2010

Public Sphere Warung Kucing

Oleh M Abdullah Badri

Di perempatan dan sudut-sudut kota, kita gampang menemukan para pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Terutama menjelang petang hingga dini hari. Pelanggan berdatangan untuk menikmati sajian masakan ringan, gorengan, aneka minuman dan menu utama berupa bungkusan nasi berukuran mini, dengan lauk sederhana. Orang menyebutnya dengan sego kucing (nasi kucing/cat rice) karena ukurannya yang kecil.

Gemerlap kota kian riuh dengan hadirnya para pedagang nasi kucing yang biasa mangkal di pusat keramaian dan pinggiran kota. Tempat itu menjadi ruang nongkrong, ngopi dan ngobrol warga, kaum muda dan komunitas kritis. Meskipun menyediakan nasi, namun orientasi utama orang bertandang ke sana bukan untuk mengenyangkan perut, namun meneduhkan jiwa dari penatnya aktivitas di siang hari.

Orang bisa berkeluh kesah tentang rutinitas hidup di warung sego kucing, bersama kawan atau keluarga. Hal yang kecil semisal masalah hubungan pertemanan, tetangga, keluarga, sepakbola, gosip artis hingga problem besar yang berkaitan dengan dinamika sosial politik dalam kehidupan bangsa, menyeruak bebas diperdebatkan dalam sempitnya tempat makan berukuran kecil itu.

Sebagian orang mencibir, warung kucing laiknya ruang para kaum proletar yang hanya tahu tentang privasi hidupnya saja, buta dunia luar. Ada yang menyebutnya sebagai warung orang-orang tak bermasa depan karena para pelanggannya rata-rata dari kalangan tak terdidik dan kelas ekonomi rendah. Yang dibicarakan hanya masa lalu dan praktik kesekarangan, kini (nowism). Tak ada konstruksi imajinatif tentang masa depan.

Kalangan kelas ekonomi menengah ke atas kadang ada yang merasa tidak nyaman merebah di sana. Mereka lebih memilih resto atau rumah makan elite yang menahbiskan gengsi sosial. Padahal, bila dilihat secara antropologis, warung kucing sebenarnya adalah pengejawantahan ruang publik alternatif di tengah tersumbatnya aspirasi kerakyatan karena benturan arus birokrasi dan kekuasaan.

Dari sini, warung kucing menjadi sarana menumpahkan aspirasi bersama sebagai bentuk dari partisipasi sosial secara kritis dan rasional. Kita tidak jarang menemukan para aktivis sosial, kelompok diskusi, mahasiswa dan kalangan muda kritis membincang isu-isu sosial politik di sana, ngobrol bareng dan berwacana.
Dalam bukunya berjudul The Structural Transformation of Public Sphere, Jurgen Habermas, seorang pemikir Jerman, menyebut ruang alternatif publik yang kritis seperti warung kucing sebagai Ruang Publik (Public Sphere). Bagi Habermas, demokrasi tidak akan ada tanpa eksistensi ruang publik yang kritis dan rasional yang akhirnya membentuk opini publik (Habermas, 1989).

Ruang Kritis
Kekecewaan masyarakat atas fenomena sosio-politik yang melanda negeri ini akan dibincang kritis dan bebas di ruang publik bernama warung kucing itu. Penulis sendiri sering diajak beberapa kawan untuk, paling tidak, mengelaborasi isu-isu sosial yang terjadi. Di ruang publik tak ada aturan protokoler dan halangan birokratis sebagaimana di forum diskusi, seminar serta ruang kelas.
Orang boleh menyatakan bahwa ngobrol di warung kucing tersebut tak berarah, terkesan ngalor-ngidul. Namun, kesadaran aktif partisipatif di sana, meskipun kesempatan kecil didengarkan oleh pengemban kebijakan dan penguasa, akan muncul sebagai pencerahan personal. Paling tidak, ada duduk masalah yang akan diketahui secara individual.

Dalam konsepsi ruang publik Habermas, masyarakat secara terus menerus mengalami tumpukan kekecewaan akumulatif dari opini perorangan, seiring dinamika sosial yang terjadi. Karenanya, harus ada ruang partisipasi bersama untuk menumpahkannya menjadi opini massa yang solutif. Para pelanggan warung kucing yang memang kebanyakan didominasi kaum pinggiran menjadi ruang publik paling dasar, karena mereka adalah pelaku kebijakan publik dari penguasa.

Mahalnya biaya BBM, seringnya pemadaman listrik, terjadinya bentrok sosial, maraknya konflik komunal, serta praktik timpang akibat kegamangan kebijakan politik yang kurang memperhatikan nasib dan eksistensi mereka membuat akumulasi kekecewaan tertumpah di saat ngobrol di warung kucing. Bagi saya, mereka tak kalah kritis dengan para politisi. Mereka sadar politik, meski wawasan perpolitikan itu direngkuh dari media massa dan ruang sosial terbatas mereka. Warung kucing, bagi komunitas kritis tersebut adalah parlemen kehidupannya. Meruang-publiknya warung kucing adalah referensi kritis penyerapan aspirasi rakyat.

Seorang mantan jenderal, Saurip Kadi, yang dulu pernah akan mencalonkan diri sebagai presiden, sering mampir di warung sego kucing sepulang dari kantor. Ia melakukan hal itu agar bisa ngobrol santai dengan masyarakat umum, mendengarkan keluh kesah rutinitas hidup dan keinginan masa depan mereka. Kepada penulis, dia mengaku mendapatkan banyak inspirasi dan aspirasi dari sana, mereka. Terdapat fakta dan norma yang seringkali berseberangan atau berkelit-kelindan di ruang publik tersebut, yang membuatnya kritis dan kerap mendapatkan resistensi kuasa politik.
Ada ruang publik kritis di warung kucing yang menjadi sarana demonstrasi alternatif rakyat. Saya pikir demikian.

(Dimuat di Majalah Kompas Mahasiswa, edisi 83, Mei 2010)

Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar