Senin, 10 Januari 2011

Harga Diri Replika Teknologi

Oleh M Abdullah Badri

Tulisan ini saya susun bermula dari kegemasan kepada seorang kawan yang menyebut saya tidak menghargai diri sendiri karena kepemilikan sebuah produk teknologi. Mobile phone butut murah yang saya punya dianggapnya tidak mencerminkan diri saya sebagai seorang yang menghargai diri sendiri. Sudah begitu, layarnya pun pecah dan saya betulkan dengan sebuah isolasi. Padahal, menurutnya, kalau saya mau membeli yang lebih stailis, mampu.

Teknologi kini telah melampau hadirat kebutuhan. Berkah teknologi, kategori kebutuhan primer, sekunder dan tersier, tak bisa terbaca jelas. Hand phone misalnya, seperti contoh di atas, membuat kebutuhan primer kita terintegrasi antara primeritas, sekunderitas dan tersieritas. Kita butuh berkomunikasi melalui alat nir-kabel itu (kebutuhan primer), tapi dalam waktu bersamaan, kita juga ingin menunjukkan eksistensi kedirian dengan alat itu (sekunder dan tersier).

Fungsionalitas teknologi lenyap oleh apa yang kita namakan eksistensi. Individualitas manusia kini banyak dihargai melalui kepemilikan teknologi. Semakin dekat dengan akses teknologi, kian dekat manusia dengan mobilitas hidup dan gaya hidup.

Citra megah, mewah, mahal yang kian sirna dalam kepemilikan produk teknologi -seiring banyaknya para pengguna,- membuat makna kepemilikan punya ruang yang berjarak antara diri dengan lingkungan. Dalam waktu yang sama, lunturnya citra mewah membuat manusia dekat dengan kultur teknologi. Hari gini tak pegang mobile phone, dengan sendirinya akan dianggap banyak orang aneh, karena dalam citra alienatif teknologi tersebut terkandung pernyataan; “kita dekat dengan teknologi, loh”.

Pada paradigma itulah, saya mengatakan bahwa teknologi adalah replika kedirian manusia. Dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolution (2005: 22), Thomas S. Kuhn menyatakan bahwa pergeseran paradigma (sift paradigm) sebuah produk sains-teknologi selalu mengandung replikasi yang tidak objektif terhadap kebutuhan dan kenyataan lapangan. Kelahiran teknologi mengandung keputusan yudikatif yang mengklaim atas perubahan yang lebih baru terhadap realitas.

Kita akhirnya selalu dijustifikasi oleh kelahiran produk baru teknologi, kendati ia tidak melalui “pengadilan” yang berpijak pada nilai, kebutuhan primer, dan kultur. Kuhn juga mengungkapkan bila hukum teknologi itu tak tertulis. Jadi, teknologi yang membentuk manusia tidak melalui argumen-argumen yang rasional, melainkan pencitraan replikasi, janji dan mimpi.

Manusia tidak bisa mengatur secara periodik dan permanen atas laju-kembang teknologi. Ia punya alam sendiri di lintasan yang disebut mayantara dan citra. Toh demikian, efeknya begitu nyata. Konsekuensi teknologi saya ibaratkan seperti kentut, yang tidak begitu nyata tapi terasa baunya menyebar ke segala arah, yang mempengaruhi gaya hidup, kultur dan tuntutan kebutuhan.

Dipermainan Teknologi
Saya mengukur harga diri bukan dari kepemilikan, namun kesadaran fungsional. Justru saya melihat para manusia yang sering “gonta-ganti pasangan” kepemilikan hape ialah korban citra teknologi. Padahal, ia hanya replika, bukan cermin diri yang sesungguhnya. Saya punya teman yang dulu hampir tiap bulan ganti hape karena terhasut promosi. Dia dipermainkan teknologi karena tiap kebosanan kepemilikannya muncul, ia lari kepada kepemilikan produk yang lebih baru, dan bosan lagi. Kediriannya sebagai manusia yang berpikir fungsional terhalangi oleh egoisme gaya hidup konsumeristis.

Kuasa teknologi menumpukan ego kuasa kita kepada orang lain dengan justifikasi harga diri. Dinyana tidak gaya, ketinggalan, tak up to date bila kita tak mengikuti arus perubahan teknologi. Saya pernah disebut seorang teman yang pintar “mengakali” komputer sebagai makhluk aneh yang bukan alien, karena tidak tertarik mempelajari hal-hal mekanis berbasis komputer. Dianggap lebih ketinggalan daripada alien karena dalam banyak film luar angkasa, makhluk alien digambarkan memiliki alat teknologi lebih canggih daripada manusia di bumi. Gemas sekaligus lucu.

Saya tidak hendak mengasingkan diri dari produk teknologi, karena itu hal yang sia-sia dan merugikan diri. Dalam pikiran saya, teknologi adalah kenyataan ilusif paling berkuasa membentuk tatanan dunia. Bahkan, kemajuan teknologis yang dicapai sebuah negara menjadi replika peradabannya. Ia mempengaruhi segenap hadirat kehidupan bangsa dan negara berjuluk kemajuan. Sebuah kelompok dianggap maju dan kompetitif kalau pandai memanfaatkan berkah dan anugerah teknologi.

Yang saya hendak utarakan adalah janganlah kita diperbudak oleh produk teknologi. Jengah saya melihat fenomena “penyembahan” manusia kepada teknologi sehingga kehendaknya untuk melakukan perbaikan tatanan kehidupan dan kebudayaan dilingkupi oleh pandangan yang replikatif dan ideologis berdasar kemajuan teknologi. Setiap ruang tempat pergeseran peradaban memiliki dimensi sosial sendiri.

Politikus memiliki ruang kebijakan, sementara teknolog juga memiliki ruang sendiri mendukung kebijakan itu sesuai dengan harapan. Kesadaran posisi mutlak diperlukan untuk menjalin kerja berlatar kebersamaan, bukan justifikasi. Walikota Solo Jokowi adalah contoh terbaik. Dia memiliki sebuah kebijakan, yang tanpa dukungan ahli teknologi tidak akan berjalan baik. Dengan rendah hati dia meminta yang ahli untuk membantunya. Inilah yang saya sebut pemnafaatan fungsionalitas teknologi. Teknologi digunakan karena kita butuh, bukan karena terbujuk atau terhasut citra sebuah parade promosi.

Altar kebutuhan menggunakan teknologi itulah yang melahirkan replika teknologi bukan sebagai alienasi, namun sebagai sebuah adaptasi. Sebuah proses internalisasi “yang lain” kepada kesadaran diri sebagai manusia yang punya kehehttp://www.blogger.com/img/blank.gifndak. Yakni sebuah proses memanusiakan yang non-manusia ke dalam kedirian manusia yang punya harga diri dan martabat. Keluar dari dipermainkan oleh replika teknologi, tidak seperti kawan saya itu. Mungkin.

(Dimuat Suara Merdeka, Senin, 10 Januari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar