Mbah Muhammadun Pondowan: Menjawab Masalah Sebelum Sa'il Bertanya -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Mbah Muhammadun Pondowan: Menjawab Masalah Sebelum Sa'il Bertanya

Badriologi
Minggu, 26 Desember 2021
Flashdisk Ebook Islami

Jasko Rijalul Ansor
foto gambar mbah muhammadun pondowan
Mbah KH. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati. Foto: istimewa.


Oleh M. Abdullah Badri


KH. Muhammadun (Mbah Madun) Pondowan, Pati, adalah sosok ulama' yang unik dan penuh cerita karomah. Saya mendapatkan kesempatan baik mendengarkan kisah Mbah Madun saat sowan ke Kiai Mawahib di rumahnya, Suwawal, Pakisaji, Jepara, pada Rabu siang, 22 Desember 2021. Ia hanya mondok sebentar saja (7 bulan) di sana, tapi percikan kisahnya menarik ditulis. Sengaja sowan ke beliau karena orangtua saya adalah konco masak Kiai Mawahib saat mondok di Mbah Madun Pondowan, Tayu, Pati, Jawa Tengah. 


Meski alim, Mbah Madun tidak pernah mengisi pengajian panggung. Alfiyah selalu bisa digunakan beliau untuk mengungkap hikmah. Misalnya, saat beliau mengisyaratkan tugas putra seorang kiai yang harus bisa menggantikan orangtuanya saat udzur atau wafat, beliau menggunakan nadham Alfiyah, yang berbunyi: 


وَمَا يَلِي المُضَافَ يَأتِي خَلَفَا - عَنْهُ فِي الإعْرَابِ إذَا مَا حُذِفَا


Arti hikmah:

"Santri/putra yang mengikuti kiai/orangtua akan menyusul menggantikannya dalam mensyiarkan ilmu, ketika beliau wafat". (Alfiyah Ibnu Malik - Bab Idlafah).


Oleh karena itulah, Mbah Madun berpesan kepada murid-muridnya agar selalu mengajar saat boyong dari pondok. Itu adalah bagian dari خَلَفًا عَنْهُ فِي الإعْرَابِ (menggantikannya dalam mensyiarkan ilmu) ketikaُالمُضَافَ (orang yang diikuti) sudah حُذِفَ (wafat).


Buktinya, meski hanya tujuh bulan mondok (sebelum disuruh pulang), selama lima tahun terakhir, Kiai Mawahib mampu mendaras dan membaca Kitab Al-Hikam bersama jama'ahnya di pesantren Kiai Jolo, Suwawal, Pakisaji. Ia ingat betul, saat itu, Mbah Madun tiba-tiba meminta pulang kepada semua santrinya. Walaupun ada santri yang baru sehari di pondok, dia harus pulang (boyong). Yang panting di rumah mau mulang (mengajar ngaji). Kiai Mawahib jadi korban perintah boyongan ini. 


Baca: Syaikh Imran Hosein dan Akhir Zaman di Indonesia


Mbah Madun memang berbeda dari kiai sekarang, yang seolah mati-matian mempertahankan jumlah kuantitas santrinya. Ngabdi seolah jadi tradisi sebelum santri diperbolehkan boyongan oleh kiainya. Mbah Madun bukan tipe kiai begitu. 


Jumlah santri Mbah Madun pun tidak pernah lebih dari 40 orang. "Kalau jumlahnya kurang 40 iya, pernah. Tapi kalau lebih dari itu, setahu saya, tidak pernah. Bila ada santri yang boyongan, santri baru bakalan datang menggantikan santri lama. Begitu seterusnya," ujar Kiai Mawahib.


Ada kejadian unik di pondok. Mawahib santri mengaku pernah mendapati ada seorang santri yang kalau ngaji bandongan bersama dengan Mbah Madun, ia tidak bisa melihat kitabnya. Matanya seolah tertutup hijab. Akhirnya, ia tidak bisa menyimak. Anehnya, usai ngaji ditutup, matanya terbuka kembali dan bisa membaca redaksi kitab kuningnya, lagi. Siapa yang menututupinya? Wallahu a'lam


Beberapa santri Mbah Madun memang ada yang tidak menjadi kiai. Tapi, Kiai Mawahib memastikan, semuanya bertabiat santri. Minimal bergelar haji. Di Jepara, contohnya ada, meski jumlahnya tidak begitu banyak. Populernya, siapa saja yang nyantri ke Mbah Madun minimal tiga tahun, ia pulang jadi orang alim. Kalimat inilah yang mendorong bapak saya mau mondok ke Mbah Madun, tiga tahun full, dengan ikut ngalong ngaji kilatan kitab atau posonan ke Pesantren Balekambang (Jepara), Sarang (Rembang), Lirboyo (Kediri), Kaliwungu (Kendal), Kudus (Diniyah Kradenan & Mbah Arwani), dll.  


Dijawab Sebelum Tanya

Suatu kali, ada tamu sowan ke Mbah Kiai Madun hendak menanyakan masa'il fiqhiyyah. "Ikut ngaji saja nanti yah," jawab Mbah Madun kepada tamu. Usai tamu ikut ngaji Mbah Madun, Mawahib santri mengingatkannya agar sowan. Tapi si tamu bablas pulang. Tidak jadi sowan. Alasannya, masalah yang hendak ia tanyakan itu ternyata sudah dijawab oleh Mbah Madun langsung saat ngaji, barusan, tanpa menyebut nama si sa'il (penanya).  


Mawahib santri juga berkisah tentang tamu Mbah Madun yang menanyakan hukum halal haram kepiting. Ia mengantarkan si tamu sowan ke ndalem. Begitu uluk salam, Mbah Madun ternyata menyuguhkan hidangan kepiting ke si tamu. "Monggo, niki loh eco sanget," kata beliau, didengar langsung oleh Mawahib santri. Mbah Madun lagi-lagi menjawab masalah tanpa si sa'il mengeluarkan pertanyaannya dulu. 


Menurut Kiai Mawahib, Mbah Madun tipe kiai yang tidak suka mbulet. Menjelaskan dalil-dalil hukum fiqih syariat kepada orang awam bisa dianggap tidak pas karena ada potensi salah tafsir bila mereka tidak memahami bahasa yang digunakan oleh Mbah Madun. Mungkin, karena alasan inilah Mbah Madun lebih sering menjawab masalah bukan dengan ajwibah qauliyah (ucapan) melainkan haliyah (tindakan), seperti hukum kepiting itu. 


Mbah Madun pernah menyatakan agar santri manjauhi perkara syubhat (tidak jelas halal haramnya). Bagi beliau, syubhat itu "itung-itungane luwih angel daripada sing halal lan sing haram". Demikian cerita Kiai Mawahib. 


Pernyataan itu mengingatkan kisah almarhum Bapak saat ngaji. Kata Bapak, Mbah Madun pernah nyegat (menghentikan) satu truk pengangkut kayu saat bangunan pesantren memerlukannya. Setelah diketahui kalau kayu diambil dari hutan, Mbah Madun mau membelinya. Kayu dianggap halal karena kepemilikan hutan tidak ada. Cerita ini masih saya ingat betul. 


Baca: Hukum Istri Gugat Cerai, Tapi Suami Menolak


"Andai Mbah Madun masih ada, kamu wajib mondok di sana, nang," kata bapak ke saya, yang kemudian memindahkan proses studi saya ke TBS Kudus, tabarrukan dengan guru sepuh Bapak satu-satunya, yang pada tahun 1997 masih hidup, yakni: KH. Ma'mun Ahmad bin Abdul Latif, Baletengahan, Kota, Kudus.


Banyak orang menyebut, Mbah Madun menutupi kewalian beliau dengan ilmu syariat fiqhiyyah. Kiai Mawahib bercerita, ia pernah mengikuti Mbah Madun ke sebuah makam tak terawat. Dengan tongkat sepuhnya, Mbah Madun menyebut nama Mbah Rozak dan Mbah Musthofa sebagai orang shalih, dan memerintahkan agar titik lokasi yang ditunjuknya dirawat dengan baik oleh warga. "La ya'riful wali illa wali," kata Kiai Mawahib. Al-Fatihah. [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB