![]() |
| Idaroh Manaqib Majelis Qifqof Jepara 2026-2027. |
Oleh M. Abdullah Badri
PADA tahun 2022, seorang kawan di Bawu yang bakul ayam goreng berkisah kalau pas malam Senin dia itu memiliki kelebihan ayam. Malam Senin dia mengumpulkan teman-temannya untuk mayoran ayam. Saya termasuk yang diundang.
Karena tiap Ahad dia libur, dan malamnya selalu mayoran, saya usul supaya diisi manaqiban, biar lebih memberkahi. Walaupun jamuannya hanya ayam potong. Tidak masalah. Dia kemudian setuju. Akhirnya, pada 26 Juni 2022, manaqiban tiap malam Senin dimulai. Dan ini berjalan setiap pekan. Setiap malam Senin.
Saya namai majelisnya dengan Majelis Qifqof (قف ق). Qif: mandeko siro (berhentilah kamu). Qof: ning gununge wali sing sejuk lan tenang (di gunung para wali yang sejuk dan tenang). Itu maknanya, terinspirasi dari tafsir para mufassir yang menjelaskan huruf Qof dalam Surat Qof sebagai Jabal Qof. Filosofinya, malam majelisan adalah malam jeda ngurusi mbogawe lan dunya. Qif.
Awalnya, saya sendiri yang membaca manaqib. Biar adil, saya ajak mereka meminta ijazah manaqib ke kiai Syuriah NU setempat. Setelah mereka tirakat puasa seminggu nyirih (tidak makan makanan yang bernyawa), mereka menjadi badal saya membaca manaqib Lujainud Dani di Qofqof. Kalau saya yang baca, manaqibnya bisa Lujainud Dani, Karomah atau Jawahirul Ma'ani. Saya punya ijazah ketiganya.
Setelah dapat badal manaqib, saya tetap memimpin membaca nadhom Jaliyatul Kadar (tawassul kepada ahli badar). Memakan waktu sejam lah kira-kira. Manaqib nya 30 menit. Jaliyatul Kadar nya 30 menit. Gara-gara majelis Qifqof inilah, saya menyusun kitab Ta'liqot Jaliyatul Kadar, karena banyak sekali teks Jaliyatul Kadar yang tidak ada biografi masing-masing nama ahli badar. Saya buat biografi singkat mereka dalam bentuk catatan kaki (ta'liqot).
Taklimnya saya agendakan setelah manaqiban. Membaca Ta'liqot Jaliyatul Kadar. Butuh waktu 20-30en menit. Tapi sebelum khatam, saya ganti taklim Kitab Badil Badawi, yang juga saya tulis sendiri. Baru membaca hadits ke-7 atau ke-8, lha kok cah-cah Qifqof mulai lesu rutinan tiap malam Senin. Mungkin saja ini efek saya sakit hingga berbulan-bulan sejak Sya'ban 1446 H sampai Dzulhijjah 1446 H (20 Februari 2025 - Mei 2025). Saya absen.
Sejak Maret 2025, manaqib rutinan ngaji dan tawwassulan Qifqof berhenti total. Saya tidak berusaha membangunkan lagi. Karena saya tahu, shahibul bait pasti butuh dana untuk ingkung dekem ayam dan ugo rampai lain.
Dan karena lama mereka tidak berkumpul, pada 3 Mei 2026, mereka rapat sendiri dan sepakat menjalankan rutinan lagi tapi digilir ke rumah-rumah anggota setiap selapan sekali (35 hari, tiap malam Senin Legi) dan harus ada iuran biar tidak memberatkan.
Tadi malam, jatah saya yang harusnya jatuh 8 Juni 2026, diambil waktunya oleh anggota lain yang punya hajat sunatan anaknya. Rutinan berikutnya jatuh pada 12 Juli 2026. Tapi, hingga tadi malam, saya belum melanjutkan Taklim Badil Badawi.
Ya. Qifqof adalah majelis taklim, manaqib dan tawassulan Jaliyatul Kadar. Boleh dirutinkan manaqibnya saja. Jika jenengan ingin membuat majelis Qifqof di tempat jenengan sebagai cabang, monggo, silakan. Minimal anggotanya ada 11 orang. Boleh disistem iuran agar meringankan. Saya sendiri siap datang bila diundang. Bila butuh ijazah manaqib dan siap puasa seminggu -tabarruk biar dianggap murid Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani-, saya siap sebagai mujiz.
Jenengan juga bisa secara bebas mendapatkan teks dan tatacara tirakat manaqib Lujainud Dani sanad ijazah dari saya, DISINI. Harganya adalah maharnya. Sebab, tanpa mahar, biasane gak dilakoni, koyo cah-cah Qifqof. Akeh sing nduwe ijazah manaqib tapi durung gelem tirakat. Ajur, din! Mahar adalah penyemangat. [badriologi.com]
M. Abdullah Badri, Founder dan Pembina Majelis Qifqof Jepara.





