![]() |
| Mengoreksi Bahar Basith. |
Oleh M. Abdullah Badri
SETELAH mengoreksi 111 bait Bahar Rojaz dari syair buatan Ustadz Rusli dari Magelang. Dari nadhom panjang berjudul "Madkholul Ghulam (tentang Ilmu Nahwu)" tersebut, saya menemukan ada 15 bait yang mengalami inkisar (gagal wazan) ala Bahar Rojaz.
Karena hanya mengoreksi, saya tidak mengubah setiap kata yang kurang pas di "Madkhoul Ghulam" tersebut. Setelah itu, saya mengedit syair buatan Mas Mukhlash Adiputra, santri aktif di Sarang, yang ingin membuat mukaddimah dalam ta'liqot Safinatun Naja, yang dia beri judul "Anwarud Duja".
Ada 17 bait bahar Basit yang dia buat. Tapi hanya 7 bait yang benar-benar Shahih wazan. Dia kemudian memohon kepada saya agar mengeditnya. Butuh waktu sekitar satu jam ngadep komputer sebelum jadi. Karena ada satu nadhom yang substansinya terulang, saya buang saja. Jadi 16 bait saja.
Baca: Jasa Membuat Syair Arab
Setelah jadi, saya kirimkan hasil deitan tersebut kepadanya, sembari memberi catatan penting seperti di bawah ini:
- Tiap bahar Basit itu harus ber-qofiyah, dari awal sampai akhir. Qoshidah ini ber-qofiyah mimiyah.
- Bait pertama harus deklarasi qofiyah di bagian arudl dan dhorob. Jika ingin menyatakan bahwa qofiyahnya mimiyah, maka, arudl dan dhorob di bait pertama harus berqofiyah mimiyah. Cek Burdah Bushiri, di bait awal "amin tadzakuri jironi bi dzi salami".
- Arudl maupun Dhorob bahar Basith harus iut wazan فَعِلُن bukan فَاعِلُن.
- Kata yang sama di Arudl maupun Dhorob tidak boleh diulang lagi (yang satu maknanya) sebelum melewati minimal 9 baris bait (disebut qoshidah).
- Yang saya cetak merah adalah hasil editan saya.
"MasyaAllah. Harus banyak belajar tentang Arudl. Kalau ada waktu, pengen kursus ten daleme jenengan yai, mondok ten mriku. Saya hanya bermodalkan hafal wazan, trnyata masih panjang perjalanannya," demikian jawab Mas Mukhlash, malam Ahad, 25 Juli 2026. [badriologi.com]





