Sabtu, 09 Januari 2010

Mencipta Ruang Publik Ngaliyan

Oleh M Abdullah Badri

Ketika menyebut Semarang, mungkin yang terlintas pertama kali dalam benak kita adalah Simpang Lima. Kawasan pusat kota tersebut menjadi terkenal karena dikunjungi banyak orang, dalam maupun luar kota. Apalagi pada malam Minggu, disana selalu disesaki pengunjung, meski hanya sekedar jalan-jalan, melepas lelah, setelah seminggu sibuk beraktivitas.

Bagi masyarakat umum, kawasan Simpang Lima adalah obyek wisata yang murah meriah, karena tidak ada biaya retribusi yang dibayar. Untuk mendapatkan makanan dan jajanan murah juga tidak sulit, karena disana ada pedagang kaki lima yang setiap saat menggelar dagangannya. Ya, selain menjadi tempat berlibur murah bagi keluarga, Simpang Lima juga menjadi tumpuan hidup pedagang kaki lima. Ribuan pedagang kaki lima bergantung hidup dari sana.

Simpang Lima semakin ramai dengan kehadiran mal-mal dan pusat berbelanjaan lainnya. Ia menjadi pusat bisnis yang menggiurkan para petualang bisnis. Kini, Simpang Lima dikepung oleh gedung-gedung raksasa dari segala arah. Ada Gajahmada Plaza, E-Plaza, Mall Ciputra, Hotel Ciputra, Plaza Simpang Lima, Ramayana Super Centre dan Ruko-ruko yang berjejeran di sebelah selatan Jalan A. Yani.

Bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 70-an, Simpang Lima kini benar-benar berubah hampir secara keseluruhan. Kalau pada waktu itu Simpang Lima menjadi pusat aneka kegiatan olahraga, budaya, kesenian dan tempat pertemuan warga, kini tidak lagi. Musium Jawa Tengah yang dulu berdiri di ujung Jalan Pandanaran, gedung bioskop modern yang dibangun di ujung jalan Pahlawan, kini berganti dengan mal, hotel dan pertokohan raksasa. Hanya masjid Baiturahman dan sekolah SMK Pebangunan yang masih bertahan ditempatnya hingga sekarang.

Simpang Lima, karena menjadi pusat perbelanjaan Kota Semarang, mobilitas masyarakat menjadi semakin padat. Lalu lintas disana semakin ramai. Untuk menyeberang pun, kita harus hati-hati. Makanya, ketika ada kegiatan publik di Lapangan Pancasila, yang mengundang partisipasi masyarakat banyak, semacam pertunjukan konser musik, pengajian umum atau lainnya, lalu lintas menjadi macet. Apalagi pada momen-momen tertentu seperti perayaan tahun baru dan hari-hari besar.

Ruang publik disana semakin tergerus oleh hasrat bisnis para pengusaha. Dulu, rencananya, kawasan Simpang Lima akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dengan pembangunan gedung DPRD, Sekwilda dan Museum Jateng. Namun pada kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan bangunan yang direncanankan itu dipindah ke lokasi yang terpisah, tidak menyatu. Gedung DPRD Jateng dipindah ke sebelah Selatan Jalan Pahlawan. Sedangkan Museum Jateng dipindah ke Kalibanteng. Tentu ini akan menyulitkan warga untuk mengakses pusat pemerintahan dan budaya, karena tempatnya dipisahkan.

Alternatif Ruang Publik

Ruang publik yang harusnya disediakan oleh pemerintah untuk warganya lambat laun terkikis. Yang ada akhirnya adalah ruang-ruang bisnis yang terkesan ekslusif. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengakses ke wilayah itu. Sehingga, ruang publik yang sebetulnya diperuntukkan kepada semua kalangan masyarakat, akhirnya hanya dimiliki dan dinikmati kalangan tertentu saja, kaum berduit-borjuis, seperti di kawasan Simpang Lima.

Kesumpekan kawasan Simpang Lima yang karena beralih menjadi pusat bisnis membuat beberapa ahli penataan kota mengusulkan untuk membentuk ruang publik yang lebih inklusif setelah Simpang Lima. Nama daerah yang diusulkan itu antara lain adalah Kecamatan Pedurungan dan Mijen.

Dua daerah itu dianggap relatif bagus dibangun sarana dan ruang publik karena posisinya berada di ujung wilayah Kota Semarang. Pedurungan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan, sedangkan Mijen berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Kedua daerah itu dianggap strategis karena menjadi pintu masuk dua kabupaten yang bertetangga dengan Kota Semarang.

Pedurungan dan Mijen berbeda dengan Simpang Lima. Kawasan itu terlalu ramai untuk dijadikan pusat pertemuan para warga karena letaknya yang berada di tengah kota. Pantas jika para pengusaha menjadikannya sebagai pusat bisnis.

Selain kedua kecamatan itu, ada satu daerah lagi yang juga layak untuk dijadikan sebagai lahan pembangunan ruang publik, yakni kecamatan Ngaliyan. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan disini. Pertama, secara geografis, Kecamatan Ngaliyan berada di dataran yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan Pedurungan. Sehingga, ia aman dari banjir. Karenanya, banyak para pendatang yang memilih bertempat tingal di sana. Bahkan sekarang sedang marak dibangun perumahan elite.

Kedua, dari Ngaliyan lebih mudah untuk mengakses ke pusat kota. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk mencapai pusat Kota Semarang. Selain itu, jalur pertigaan Jrakah yang merupakan pintu masuk menuju Ngaliyan dari Pusat Kota, merupakan arus lalu lintas utama yang langsung menuju ke Ibu Kota Jakarta. Ini tentu akan mempermudah mobilitas masyarakat. Lebih efektif dan efisien.

Ketiga, karakter masyarakat Ngaliyan yang berjiwa sosial tinggi sangat cocok untuk dijadikan sebagai partner masyarakat pendatang, yang tentu mencari keteduhan dalam ruang publik. Disana hampir tidak pernah terjadi kekisruhan dan percekcokan antar warga. Kehidupan yang terbangun disana cukup damai dan rukun. Jumlah penduduknya juga tidak terlalu padat seperti di pusat kota.

Keempat, kondisi alamnya juga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Hawa sejuk yang diciptakan benar-benar membawa kedamaian. Sehingga cocok untuk dijadikan sebagai ruang publik pasca rencana pembangunan ruang publik Simpang Lima puluhan tahun yang lalu.

(Dimuat Harian Semarang, Desember 2009)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar