Sabtu, 06 Maret 2010

Menelaah Hakikat Pers Mahasiswa

Oleh Ratna Muthia

SABTU (30/1), M Abdullah Badri mengemukakan, saat ini pers mahasiswa terkungkung dalam pemberitaan yang masih terbatas pad ssekup kampus. Berita biasanya berupa kritik terhadap kebijakan akademik birokrat yang dianggap timpang. Pers mahasiswa belum mampu merambah berita di luar kampus dengan baik.

Dalam pengamatan penulis, kritik persma kepada birokrat rawan menimbulkan konflik kecil antara kedua pihak. Kondisi ini tentunya tidak berpengaruh positif terhadap perkembangan persma, bahkan konflik seperti ini cenderung menghabiskan energi.



Apalagi kini perpolitikan kampus tidak mengalami perubahan yang berarti dari waktu ke waktu. Stagnasi ini berakibat pada seragamnya isu yang berembus tiap tahun. Dalam menyikapi pun persma mengambil sikap yang hampir serupa tiap tahunnya.

Kondisi seperti ini justru mengungkung dan memandekkan inovasi persma. Meskipun berproduk media, seperti majalah, tabloid, ataupun buletin, keberadaannya tidak memberikan pencerahan yang berarti kepada civitas academica selaku pembaca.
Mengapa demikian?



Penulis melihat bah persma belum sepenuhnya mantap melihat dirinya sebagai entitas yang berbeda dengan ketiga pilar demokrasi kampus lainnya. Kegiatan yang berjalan lainnya. Kegiatan yang berjalan tiap tahun sepertinya merupakan ritual, untuk tidak menyebut persma kehilangan ruh. Bisa menjalankan program dan menerbitkan media saja sudah bagus. Apalagi harus berfungsi sebagai kontrol sosial dan penyampai aspirasi mahasiswa.

Presma yang masih bisa menjalakan fungsinya dengan baik pantas mendapat nilai plus! Melupakan hakikat persma sama halnya dengan berjalan tanpa tujuan. Tanpa mengetahui hakikat, persma tidak akan dapat secara optimal mengarahkan isu, mengukur independensi, dan menganalisis kepentingan lain yang lalu lalang di depannya.

Dekonstruksi Sudah saatnya persma mendekonstruksikan dirinya.
Maksudnya, perlu sebuah upaya untuk memahami dan menelaah kembali hakikat persma: apa itu persma, bagaimana dulu persma dibentuk, dan bagaimana seharusnya persma berfungsi.

Dengan menelaah hakikat persma secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis, persma akan menemukan kembali entitasnya.

"Pembongkaran" kembali ini menjadi semacam pemantapan langkah dan posisi persma di kampus.
Pendekonstruksian ini memungkinkan sebuah perubahan kecil dalam tubuh persma. Bila perlu, bisa dengan luwes mengikuti zeitgeist (semangat zaman) tanpa melupakan ruhnya.

Membandingkan persma pada kurun waktu '90-an dengan 10 tahun terakhir ini bukan hal yang bijak.

Bagaimanapun setiap generasi memiliki cara sendiri. Jika ada yang masih merindukan romantisme persma masa lalu, maka kondisi yang ada kini telah berbeda. Sangatlah tidak mungkin membuat out put yang sama dari in put dan proses yang berbeda.

Setelah memantapkan fungsi, para pegiat persma bisa menindaklanjuti bagaimana posisi tawar mereka di universitas. Posisi tawar akan memantapkan langkah ke mana persma akan dibawa. Persma akan melihat kembali siapa pangsa pasar mereka, di ranah apa mereka seharusnya bergerak, dan bagaimana se baiknya isu-isu strate gis diarahkan.

Teknis Ketika hakikat persma telah diman tapkan, masalah-masalah teknis lainnya akan tersegmentasi de ngan sendirinya. Misalnya, proses kaderisasi awak media, meliputi bagaimana generasi baru itu dibentuk dan seperti apa kualifikasi dan karakter tertentu yang dibutuhkan. Hal teknis lain, misal nya, berita apa saja yang akan dimuat dalam me dia milik persma, jenis tulisan, dan sudut pandang pemberitaan. Ini bisa diketahui setelah melihat kembali siapa pangsa pasar persma.

Dengan demikian, persma menyadari apa yang dibutuhkan publik dan apa yang bisa ia berikan kepada civitas academica sebagai pembaca. Dalam perjalanannya, perkumpulan persma antaruniversitas akan sangat membantu dalam memantapkan langkah persma di berbagai universitas dan institut.

Namun, tampaknya perkumpulan ini akan lebih solid dan berfungsi jika internal masing-masing persma sudah mantap, kokoh, dan konseptual. Jangan berharap bisa bergerak keluar kalau bagian dalam saja masih keropos.

Ratna Muthia, pegiat Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang. Sumber; Halaman Kampus Suara Merdeka, Sabtu 13 fabruari 2010
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar