Senin, 24 Mei 2010

Green Peace as a Massages: Refilosofi Kebudayaan

Oleh M Abdullah Badri

Apabila pohon terakhir telah dibabat, burung terakhir sudah ditembak, ikan terakhir sudah dipancing dan sungai terakhir sudah menjadi kering, manusia toh tidak bisa makan batu.” Pesan Green Peace.

Sebagai tempat bersemayam, bumi adalah ruang refleksi dan perjalanan pasti yang sempit bagi manusia. Kendati inovasi teknologi telah menjangkau ruang angkasa luar, bumi tetap yang paling layak dijadikan tempat hidup. Dari bumi manusia dicipta, dari sana pula ia mengkriya untuk hidupnya. Lalu, bagaimana bila bumi ini kian renta tak berpengharap karena sumber dayanya habis terenggut kerakusan manusia?

Masyarakat dunia kini tidak hanya disibukkan oleh problem kemiskinan dan keterbelakangan. Era pos-industri justru bumi disibukkan dengan segenggam masalah tentang alienasi, anarkhi dan kekerasan. Lingkungan hidup yang menjadi ruang ekspresi manusia tercemar setercemar-cemarnya.

Bukan hanya alam, binatang dan lukisan angkasa luar yang berubah, cara berkebudayaan manusia juga kian entah berantah. Lingkungan dimana manusia hidup, tenggelam. Suara jangkrik malam, tercemar kebisingan (sound space). Interaksi sosial individu, terenggut dalam kecepatan dan ketepatan memanfaatkan waktu, individualistik. Lingkungan alam, tak luput dari serangan modernisasi yang tak berimbang. Akhirnya, global warming, pencairan gunung es, periode musim yang tak bisa ditebak dan bencana-bencana-bencana alam lainnya, menjadi menu utama dalam problem kemanusiaan dunia.

Hal itu karena perilaku manusia sudah tercerabut dari akar kebudayaannya. Kebudayaan, kata Fred Wibowo (2007: 28), adalah seluruh usaha manusia dengan akal budinya, melalui proses belajar yang bertujuan memperbaiki situasinya, mempertinggi kualitas hidupnya dan semakin menempurnakan dunia. Karenanya, tindakan apapun yang berupa pembunuhan kehidupan serasi manusia menuju kesempurnaan hidup adalah anti kebudayaan.

Tiadanya keserasian dalam mekanisme kebudayaan membuat keseimbangan kosmos terganggu. Apa itu? Mahatma Gandhi menyebutnya dengan tujuh dosa besar, yaitu: kaya tanpa kerja, senang tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moralitas, ilmu tanpa perikemanusiaan, agama tanpa pengorbanan dan politik tanpa prinsip.

Penerapan ajaran Mahatma Gandhi membuat manusia sadar akan lingkungan. Bertanggungjawab. Roh manusia yang ingin maju, progresif, menempa nilai-nilai baru, akan merusak tatanan kebudayaan dan kemudian merusak keseimbangan alam, bila tidak diimbangi dengan semangat pertanggungjawaban pada nilai-nilai kemanusiaan yang trans-raung dan waktu.

Refilosofi
Karena lingkungan hidup adalah lingkungan berkebudayaan manusia, maka gerakan pemulihan keseimbangan kosmologi lingkungan adalah dengan refilosofi kebudayaan. Modernisasi sebagai capaian unggulan peradaban manusia dewasa ini harus diletakkan dan dilekatkan dalam ranah kebudayaan itu.

Dalam kata lain, perkembangan inovasi teknologi harus bersanding beriringan dengan etika eksploitasi alam dan kemanusiaan. Akal budi manusia memang dicipta untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, namun jangan sampai hajatan pemenuhan itu mengurangi hajatan pemakanaan hidup dengan akal nuraninya. Mantan Presiden BJ. Habibie mengatakan, ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari etika kemanusiaan (Media Indonesia, 31/01/2010). Karena manusia, selain makhluk berakal, juga mahkluk yang berbudaya.

Green Peace, bagi saya, adalah bagian praktis dari penyadaran massal refilosofi kebudayaan. Dari sana, kita diajak untuk merenungkan kembali makna kehadiran manusia. Bahwa manusia dicipta bukan hanya sebagai manajer Tuhan (al-khalifah) untuk mengatur dan menyemarakkan bumi, tapi juga dilahirkan sebagai hamba (al-abd) yang harus tunduk kepada-Nya untuk mengikuti keseimbangan-keseimbangan kosmologis yang diciptakan-Nya sebagai takdir alam, sesuai ketentuan sebab-akibat yang pasti.

Sebagai gerakan kembali kepada alam dan melindungi alam, Green Peace memiliki makna filosofis kesadaran budaya yang trans-ruang dan waktu. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hanya cukup hidup di dunia ini saja. Ada generasi penerus dan alam dunia lain yang perlu dipikirkan dalam kerangka kerja eksistensial selanjutnya.

Bila kehadiran manusia di dunia ini hanya dipahami dalam kerangka al-khalifah semata, eksploitasi alam kian tak terkendali. Beda bila makna al-abd yang memiliki dimensi transendental (penyembahan kepada Tuhan) menjadi kerangka kerja, manusia akan semakin sadar menjaga alam dan lingkungan. Karena alam “sukmani” menjadi tempat pertanggungjawaban pasca kematian, yang membuat manusia sadar akan eksistensianya di dunia.

Mahatma Gandhi menyatakan: dunia ini mampu menyediakan kebutuhan manusia di seluruh dunia, tapi tidak semua keinginannya. Keinginan manusia yang tak berbatas bukan hanya akan menelan isi dunia, manusia juga akan dilahap, bahkan Tuhan pun akan “dibunuh”. Green Peace adalah pesan luhur eksistensial manusia dan pelestarian alam untuk misi transendental: penyembahan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan tidak akan menciptakan bumi jilid kedua. Maka, peliharalah!
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar