Senin, 23 Mei 2011

Mengembalikan Heroisme Guru

Oleh M Abdullah Badri

Menjalani profesi sebagai guru di era yang disebut Alvin Toffler sebagai The Future Shock (1972: 4), dimana setiap individu kehilangan orientasi ketika dihadapkan dengan terlalu banyaknya perubahan dalam waktu yang terlalu singkat, adalah dilematis tapi mengasyikkan.

Guru sebagai individu yang juga memiliki fungsi pengajaran dalam sekolah dituntut untuk melakukan tindakan yang efisien (melakukan hal-hal dengan cepat) dan efektif (melakukan sesuatu secara tepat), agar proses pembelajaran bergerak mengikuti rasionalitas kemajuan.

Satu sisi, ia harus menjalankan fungsi sosialnya; sebagai kepala rumah tangga dan anggota masyarakat, namun di sisi lain, secara profesional, ia harus jadi tuntunan bagi peserta didiknya, agar apa yang dilakukan dalam lingkungannya tak membuat proses pembelajaran di sekolah, diganggu terganggu. Perubahan besar nan cepat dalam sektor ekonomi menuntut guru lebih profesional, kredibel dan berpandangan maju.

Kini, kesulitan ekonomi sedikit banyak telah teratasi karena tunjangan profesi bisa dinikmati oleh setiap orang yang mengajar dan atau mengabdi di sekolah. Hal yang belum pernah tercapai di masa-masa sebelumnya. Muncul humor di kalangan para guru, bahwa rakyat SBY-Boediono yang “reel” sekarang ini adalah guru, karena kesejahteraannya paling diperhatikan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah.

Tidak jarang kini para guru, seiring perubahan kebijakan pendidikan yang cepat, memiliki fasilitas mobil, tunjangan kesehatan, dan segenap tunjangan hidup lainnya yang nilai akumulasinya setiap tahun mencapai puluhan juta atau bahkan ratusan juta yang cukup buat membangun rumah betingkat, atau membelikan laptop anaknya secara cas serta memasukkan anak remajanya ke perguruan tinggi favorit.

Namun, kemapanan ekonomi dan terjaminnya hidup para guru itu tak selalu berbading lurus dengan tingkat pelayanan dan pengabdiannya terhadap pengajaran di sekolah. Di berbagai tempat, guru kita sering dijumpai telat masuk sekolah karena sibuk mencuci mobil barunya lalu mengantarkan anaknya sekolah. Di kalangan guru besar, syndrome bermain golf juga muncul. Karena gajinya yang lumayan, ada uang yang bisa disisihkan untuk menikmati waktu senggang bermain golf. Paradoks kultural inilah yang mengakibatkan disorientasi dalam proses pendidikan di lembaga sekolah ataupun perguruan tinggi.

Wahai Guru
Lamat-lamat namun pasti, pengabdian guru secara maksimal tergerus oleh kemewahan tunjangan dan fasilitas yang sudah pasti itu. Di sekolah, guru mengisi absen, namun di kelas, ia seakan menjadi penebar krisis di kelas, seperti diulas Charles Silberman dalam bukunya Crisis in The Classroom (1972). Silberman menyatakan, krisis di kelas terjadi karena guru kehilangan kesadaran akan adanya tujuan tertentu, sebuah filosofi pendidikan tertentu. Pendidikan bukan gagal karena sifat praktisnya, melainkan karena guru kehilangan orientasi mengajarnya.

Dulu, yang namanya guru adalah pahlawan yang didamba oleh tiap kelahiran generasi. Bahkan menjelma mitos sebagai manusia unggul tanpa pamrih kekuasaan dan lainnya. Sedikit satire namun penuh kemulian adalah sebutan guru sebagai pahlawan yang tidak mengharapkan balasan kenangan, tak akan dicacat sejarah, pahlawan tanpa tanda jasa. Buku Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (1984) cukup menarik menelikung sejarah heroisme guru dalam mengabdikan dirinya mencerdaskan kehidupan bangsanya. Buku suntingan Korrie Layun Lampan itu memuat salah satu puisi menarik ihwal biografi guru: guru abdi masyarakat/ seluruh kawasan nusantara/kau adalah sejemput garam di sudut dapur/yang tiada nilai, tiada harga/tanpamu hambar rasa, hambar citra (hlm.19)


Heroisme guru dalam lipatan sejarah negeri ini diumpamakan garam, yang tanpanya, setiap masakan tak terasa nikmat. Itu dulu. Dimana tunjangan profesi dan kelayakan hidup tak sebesar jaminan sekarang. Orientasinya sudah beda. Guru sekarang, dalam titik kritis tertentu, bak karyawan yang setia menunggu gajian bulanan. Jiwa sebagai pahlawan yang rela berkorban sulit ditemukan. Ini bukan masalah salah dan benar, namun kita harus melihat itu sebagai gejala yang harus diperhatikan. Bagaimana akan mencipta generasi yang berkualitas dan peradaban bangsa yang unggul, kalau mengajar dipersepsikan sebagai bekerja saja, tanpa dijiwai rasa pengabdian. Hal yang cukup naïf.

Dalam kondisi yang demikian, guru di sekolah disibukkan oleh penegakan aturan dan kontrol, ketaatan membudak pada jadwal rancangan mengajaran, obsesi terhadap yang rutin, ketiadaan suara atau gerak siswa di kelas saat sedang diajar, adanya “diskusi” yang didominasi oleh guru di kelas dan ketidakmampuan siswa untuk belajar sendiri. (William F. O’neil, 2008: 5). Guru hanya mengajarkan yang dia baru belajar tadi malam. Tidak tahu menahu soal nilai filosofis pendidikanm yang sebetulnya ia muncul dari semangat mengabdi, bukan bekerja semata.

Pada tahapan lanjut, pengetahuan formal -karena diberikan tanpa jiwa pengabdian kepada proses pendidikan yang tinggi- yang diberikan guru di kelas mengalami sakralitas, dan pengalaman tidak begitu penting daripada pengetahuan. Dia hanya mengajarkan teks pengetahuan yang ada dalam mata buku pelajaran. Guru dengan sifat demikian adalah yang berkegiatan ekonomi, bukan berkegiatan membangun peradaban. Tak syak lagi dugaan para pengamat pendidikan dan ekonomi bahwa gerakan pendidikan sekarang mengarah kepada “ekonomi pengetahuan”. (Ibid, hlm.5).

Persepsi yang muncul, modal utama untuk mencapai taraf tinggi ekonomi adalah pengetahuan, bukan pengalaman. Seakan-akan, pendidikan formal adalah jalan mati mencapai kemajuan. Tiada jalan lain. Orang maju, harus berpendidikan tinggi. Titik. Ada semacam keterputusan di sana, antara produktivitas yang menggelora dalam awal-awal era indutri dengan era konseptual sekarang. Menjadi maju sekarang ini adalah dengan pengetahuan, bukan pengalaman. Anggapan yang rasional, tapi tidak cukup benar mengingat Thomas Alva Adison (1847-1931) memiliki hak paten 1097 penemuannya atas pengalaman, bukan pengetahuan.

Pengalaman yang bersifat personal sudah seharusnyalah yang jadi pusat perubahan konstruktif dan transformatif dalam proses pendidikan. Sulit rasanya untuk memperbaharui tatanan pendidikan kita yang kurang sempurna ini tanpa melibatkan rasa kepemilikan akan pengetahuan guru, yang sinergi dengan pengalaman di lapangan. Ini membutuhkan kerja pengabdian tanpa pamrih tunjangan dan perolehan fasilitas mewah semata.

Sisi Lain
Guru secara personal adalah orang-orang yang baik. Kegagalan pendidikan bukan karena guru tidak baik, melainkan oleh sebab ‘banalitas’ para jajaran pelaku pendidikan kita yang bersikap dan bertindak tanpa “berpikir mendalam” tentang tujuan pendidikan kita: memanusiakan manusia, dan memuliakan hidup.

Guru yang hanya berniat “melestarikan diri”, para pejabat yang mapan di lembaga pendidikan dan sarjana pendidikan yang dangkal adalah para kelompok yang cenderung tidak mendorong terbangunnya masyarakat yang baik (rasional dan berperikemanusiaan) untuk mendidik anak didiknya menjadi baik pula (menginginkan efektivitas tindakan dan tercerahkan).

Perubahan yang cepat dalam waktu singkat tidak akan bisa disikapi dengan cepat dan tepat bila laku heroisme guru alpa dari pengabdian. Pendidikan tercekat makna hanya pada persekolahan, bukan pembelajaran. Adagium live long education (bukan long live education), sulit didapati untuk menemukan suatu pembaruan anak-anak didik yang tercerahkan dan guru-guru yang tak terperdayai. Heroisme mengajar para guru perlu dire-fresh.

(Dimuat Media Indonesia, Senin, 23 Mei 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar