Rabu, 24 Desember 2014

KH. Mutamakkin dan Cerita Batu Ginjal

Makam Mbah Mutamakkin, Kajen, Margoyoso, Pati. Foto: Istimewa
KH Ahmad Mutamakkin - Senin siang (15 Desember 2014), tiba-tiba saya dapat SMS dari teman, katanya, nadzar saya ke makam KH. Mutamakkin di Kajen, Pati, belum gugur. Saya sendiri yang harus menggugurkan nadzar, bukan orang lain.

Kaget. Saya balik SMS tanya nadzar yang sebelah mana, dan tentang apa. Perasaan saya dalam waktu dekat tidak punya nadzar wajib ke Syeh Mutamakkin. Sudah sejaklulus SMA saya tidak bernadzar ke Kajen. Teman dekat saya itu menjawab: "Ora nggerti Kang, kuwe dewe sing ngerti. Aku yakin kuwe ileng. Mbahe mau methuki aku," katanya.

La dalalata, saya belum paham. Mbah Mutamakkin sampe bilang "kae dulurmu ilengke, nadzare kudu digugurke dewe," begitu. Kata terakhir itulah yang membuat saya ingat. Begini ceritanya:

Kepada adik saya yang mondok di Kajen, Pati, saya pernah minta bantuan untuk membacakan 30 juz al-Qur'an. Tujuan saya untuk mengganti nadzar yang jadi kewajiban saya dengan imbalan sangu Rp. 150.000,- via transfer BNI. Dua bulan lalu saya pernah berjanji akan khataman al-Qur'an di Makam Syeh Mutamakkin jika penyakit kencing bantu yang saya alami, sembuh total.

Sejak 2010, saya punya gejala kencing batu. Kala saya menghadiri 40 hari wafatnya KH. Ahmad Sahal Mahfudz, kebetulan saya satu mobil (diajak Mas Hisyam Zamroni) dengan Pak Muhlis, Bandengan. Pinggang saya sakit. Beli obat Batugin belum sembuh juga. Akhirnya, saya diterapi oleh Ustadz Muhlis tersebut.

Pinggang hanya disentuh dengan tangan. Hangat. Lalu dia bilang kalau pinggang kiri saya sembuh, harus khataman al-Qur'an ke Mbah Mutamakkin, Kajen, Pati. Saya sanggupi. Bahkan, beliau berpesan, jika nanti belum ada waktu khataman disana, wakilkan saja kepada santri Kajen dengan bisyaroh sepantasnya. Karena saya belum sempat ke Kajen, dan pinggang kiri saya sembuh hingga sekarang, saya wakilkan ke teman adik saya yang mondok di PP Al-Kautsar.

Nah, teknik mewakilkan nadzar dari Pak Muhlis itulah yang saya gunakan tanpa perintah orang lain untuk penyakit batu ginjal di pinggang sebelah kanan saya kali ini. Sakit yang kedua ini justru lebih parah karena sampai kencing darah. Sebulan sulit kencing. Eh, Mbah Kyai nagih lewat teman saya ketika batu ginjal di pinggang kanan saya sembuh. Angel dicolong nadzarnya ternyata.

Saya ditagih, tepat ketika saya sudah di rumah, setelah dari Ambarawa pada Sabtu (13 Desember 2014) usai ikhtiyar ke Ustadz Agus. Di sana, tanpa obat dan tanpa operasi, batu yang mengganjal di ginjal, diambil dengan teknik khusus. Tidak lebih dari 3 menit. Pulang hanya diberi obat berupa air mineral yang sudah didoakan. Yakni, air yang menurut kawan di seberang sebagai air kesyirikan. Alhamdulillah, lega. Pinuk. Inuk. Nikmat.

Namun, di seberang sana, saya harus menuju tugas saya menyelesaikan khataman 30 juz. Khataman yang oleh sahabat di seberang sana dianggap mewajibkan diri dari sesuatu yang seharusnya sunnah. Khataman itu sunnah, tapi begitu jadi nadzar, wajib.

Mbah Mutamakkin makin menjadikan saya memiliki keteguhan spiritual di tengah kegersangan sahabat-sahabat di seberang yang sok mengharamkan Natal itu. Terimakasih Mbah, saya telah diingatkan untuk bertindak adil dengan janji pribadi. [badriologi.com]

Batu yang ada di ginjal sudah keluar, Mbah. Ini fotonya:
Batu ginjal yang keluar
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar