Takut

Oleh M Abdullah Badri

Takut itu naluri, mau diapain juga, kalau rasa itu mau datang, pasukan baja dari Hongkong sekalipun nggak bakalan mampu melawan dech. Suwerr. Makanya, takut itu bukan untuk dijauhin, tapi diatasin dan dikendaliin. Nah, bagaimana tuh cara ngatasinnya? Jangan takutlah pada ketakutan, tapi takutlah pada Tuhan (ah, semua juga tahu, hehe…).

Begini kawan-kawan, kalau kalian sudah tahu takut itu naluri, coba kita nyari apa yang menyebabkan rasa takut. Ada yang phobia melihat ayam nggak? Kalau takut begete ma ayam betina karena punya pengalaman pernah diterabung dan dikejar-kejar, coba suatu hari kalian lemparin dech tuh ayam ama beberapa batu. Awas, jangan sampe kena orang. Kalau kalian berhasil, dan si ayam uthuk itu lari tunggang langgang, giliran kalian yang ngejar sampai ayam itu cepai ngos-ngosan. Dijamin, setelah itu perasaan phobia kalian akan sirna. Buktiin kalau nggak percaya!

Kalau nggak mau didatengin rasa takut, kalian harus menghindar diri dari penyebab rasa takut itu. Takut kegelapan, ee…mainnya ke kuburan. Siapa suruh? Cari kawan dunk agar buat kalian nyaman. Itu namanya perencanaan. Makanya, hidup itu harus direncanain, agar teratur dan terarah, terhindar dari rasa was-was dan takut.

Takut dikritik? Ah, itu kuno coy. Justru takut kritikan dan celaan sama arti dengan tidak berani berkembang. Makanya, perlu dicatat, takut itu ada tempatnya. Takut dosa, bagus, tapi takut disuruh maju oleh guru, itu akan merugikan diri sendiri. Kesempatan untuk unjuk gigi di kelas hilang karena takut mengancam diri kalian. Takut ditempat dan waktu yang salah, dholim namanya, kata Nabi Muhammad begitu. Makanya, gunakanlah kesempatan.

Rasa takut itu muncul karena kalian suatu saat kurang menguasai situasi, nggak tahu apa yang akan dilakuin buat ngadepin masalah atau malah kalian sadar telah ngelakuin suatu kesalahan. Pasti akan kaget bukan kepalang terkejut sampe membuat kepala senut-senut pas kalian dipanggil kepala sekolah tiba-tiba. Dalam hati, berbisik kata “apa gerangan yang terjadi padaku,” “apa yang salah pada daku ini”. Kita menebak-nebak sendiri, secara, belum tahu pasti situasi sech.

(Dimuat Suara Merdeka, 31 Januari 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar