Kampus dan Kapitalisme Karya

Oleh M Abdullah Badri

“Karya yang best seller sekarang ini bukanlah karena nilai estetikanya, tetapi karena nilai jualnya.” Demikian tulis Saifur Rahman pada rubrik ini. (10/01). Saya tertarik menanggapinya karena kecewa dengan kapitalisme karya.

Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh seorang dosen untuk membuat sebuah pelatihan tentang kepenulisan buku, khusus untuk para aktivis pers kampus. Pelatihan itu dimaksudkan agar para jurnalis kampus tersebut mampu membuat karya dalam bentuk buku, bukan hanya artikel dan cerpen. Jika berhasil, karya-karya tersebut akan diterbitkan, melalui jaringan penerbit yang dipunya. Demikian janjinya.

Mulanya, kawan-kawan saya di LPM tertarik dengan tawaran sang dosen. “Itung-itung buat pengalaman,” kata salah seorang kawan. Namun setelah ditindaklanjuti, tawaran itu ditolak oleh kawan-kawan. Mengapa? Ada ketidaksepakatan dalam dua hal.

Pertama, pemesanan tema. Tema yang dinginkan ternyata harus mengikuti selera pasar. Penerbit yang diajak kerjasama tidak mau dirugikan hanya karena tema buku tidak marketable. Ia bahkan meminta kapada saya untuk menulis tentang tasawuf, yang sekarang menjadi trend di kalangan muslim kota. Kedua, penyamaran penulis. Kawan-kawan yang menulis, harus mengikhlaskan karya mereka “diatasnamakan” orang lain yang lebih popular. Alasannya, agar layak jual.

Sebagai insan pers kampus, jelas saya menolak hal itu. Adalah sebuah pembodohan jika kreativitas harus dipaksa sesuai dengan selera orang lain. Kampus adalah laboratorium bagi kreativitas mahasiswa. Jangan diperlakukan seperti arena pasar bebas, yang penuh dengan praktek “penipuan”.

Saya tidak menampik, menulis bisa menghidupi diri sendiri. Namun dalam kejadian diatas, ada semacam kesan bahwa pasar hendak mengendalikan kreativitas seorang penulis. Padahal, tidak ada yang bisa menghentikan kreativitas, kecuali kemalasan dan kematian. Disini, ada status quo yang ingin dipertahankan dengan memperkosa kreativitas. Itulah yang saya tolak. Tulisan Rahman menyadarkan kepada kita betapa sekarang ini pasar benar-benar telah mengkontruksi pola pikir masyarakat, melalui media.

Dalam tataran ini, kebenaran budaya massa dikendalikan, dan dimulai dari proses produksi. Jarang kita menemukan buku-buku bersemangat revolusi (kiri) di pasaran, karena penerbit cenderung pragmatis, mengambil untung saja, bukan gagasan karyanya. Apakah buku yang diterbitkan itu berkualitas atau tidak, tak ambil perkara. Karenanya, jangan heran jika opini publik menyatakan bahwa karya yang berkualitas adalah yang best seller, bukan yang memiliki nilai gagasan dan estetika unggul. Ya, kebenaran karya disusun dalam tahapan produksi. Itulah kapitalisme, medan perebutan makna.

(Dimuat Suara Merdeka, Rubrik Kampus 2009)
Advertisement

Klik untuk komentar